Follow Us :              

Ganjar Minta Rumah Sakit Awasi Pengelolaan Limbah Medis Covid-19

  02 April 2020  |   15:00:00  |   dibaca : 870 
Kategori :
Bagikan :


Ganjar Minta Rumah Sakit Awasi Pengelolaan Limbah Medis Covid-19

02 April 2020 | 15:00:00 | dibaca : 870
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta seluruh rumah sakit rujukan Covid-19 untuk melakukan pengawasan khusus terkait pengelolaan limbah medis infeksius. Ini untuk mencegah limbah tersebut didaur ulang dan dijual kembali ke masyarakat, yang mana berpotensi menyebabkan penyebaran virus corona.

"Saya sudah menginstruksikan kepada seluruh rumah sakit rujukan, dari level satu sampai tiga untuk mengawasi ini karena pasti ada kenaikan kuantitasnya. Mengingat pasiennya setiap hari bertambah dan APD yang dikenakan selalu berganti setiap kali menangani pasien. Maka harus hati-hati," katanya seusai bertemu dengan dokter spesialis kedokteran forensik di Puri Gedeh, Kamis (2/4/2020).

Menurut Ganjar, sejak munculnya kasus antraks, TBC, SARS dan MERS, pengelolaan limbah medis infeksius di rumah sakit telah dilakukan secara khusus. Standar operasional prosedurnya telah ditetapkan, mulai dari tempat pembuangan sampai proses pengolahannya. 

Namun, Ganjar juga tidak ingin kecolongan nantinya, jika kondisi semakin memburuk. 

"Kita mendisiplinkan dan melakukan kontrol agar tidak bocor. Makanya harus disiapkan betul-betul agar tidak bocor," imbuhnya. 

Ganjar mengungkapkan, dirinya telah menerima aduan pemanfaatan limbah medis, berupa masker. Setelah dibuang, masker-masker yang telah digunakan itu dicuci kemudian diperjual belikan lagi. 

"Makanya tadi saya tanya ke dokter, bagaimana maskernya? Menurut dokter, masker yang sudah dipakai digunting dulu sebelum dibuang sehingga tidak bisa didaur ulang dan dijual lagi," katanya. 

Menurut Ganjar, pemanfaatan ulang limbah-limbah medis tersebut juga sangat membahayakan. Terlebih jika dilakukan oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi serta didukung peralatan yang memadai. 

"Karena yang mengambil berbahaya, yang mengolah dan apalagi yang memakai ulang itu berbahaya. Karena pasti pengolahannya tidak seperti di dunia kedokteran atau di rumah sakit. Di sana kan canggih ada pembunuh kumannya, virus dengan cara dan alat-alat yang canggih," pungkasnya.


Bagikan :

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta seluruh rumah sakit rujukan Covid-19 untuk melakukan pengawasan khusus terkait pengelolaan limbah medis infeksius. Ini untuk mencegah limbah tersebut didaur ulang dan dijual kembali ke masyarakat, yang mana berpotensi menyebabkan penyebaran virus corona.

"Saya sudah menginstruksikan kepada seluruh rumah sakit rujukan, dari level satu sampai tiga untuk mengawasi ini karena pasti ada kenaikan kuantitasnya. Mengingat pasiennya setiap hari bertambah dan APD yang dikenakan selalu berganti setiap kali menangani pasien. Maka harus hati-hati," katanya seusai bertemu dengan dokter spesialis kedokteran forensik di Puri Gedeh, Kamis (2/4/2020).

Menurut Ganjar, sejak munculnya kasus antraks, TBC, SARS dan MERS, pengelolaan limbah medis infeksius di rumah sakit telah dilakukan secara khusus. Standar operasional prosedurnya telah ditetapkan, mulai dari tempat pembuangan sampai proses pengolahannya. 

Namun, Ganjar juga tidak ingin kecolongan nantinya, jika kondisi semakin memburuk. 

"Kita mendisiplinkan dan melakukan kontrol agar tidak bocor. Makanya harus disiapkan betul-betul agar tidak bocor," imbuhnya. 

Ganjar mengungkapkan, dirinya telah menerima aduan pemanfaatan limbah medis, berupa masker. Setelah dibuang, masker-masker yang telah digunakan itu dicuci kemudian diperjual belikan lagi. 

"Makanya tadi saya tanya ke dokter, bagaimana maskernya? Menurut dokter, masker yang sudah dipakai digunting dulu sebelum dibuang sehingga tidak bisa didaur ulang dan dijual lagi," katanya. 

Menurut Ganjar, pemanfaatan ulang limbah-limbah medis tersebut juga sangat membahayakan. Terlebih jika dilakukan oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi serta didukung peralatan yang memadai. 

"Karena yang mengambil berbahaya, yang mengolah dan apalagi yang memakai ulang itu berbahaya. Karena pasti pengolahannya tidak seperti di dunia kedokteran atau di rumah sakit. Di sana kan canggih ada pembunuh kumannya, virus dengan cara dan alat-alat yang canggih," pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu