Follow Us :              

Demi Keluarga, Buruh yang Dirumahkan Ini Beralih Jadi Wirausaha

  01 May 2020  |   12:30:00  |   dibaca : 815 
Kategori :
Bagikan :


Demi Keluarga, Buruh yang Dirumahkan Ini Beralih Jadi Wirausaha

01 May 2020 | 12:30:00 | dibaca : 815
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

BOYOLALI - Wabah covid-19 tidak hanya menjangkiti mereka yang sakit, namun juga menginfeksi dunia industri. Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, hingga Kamis (29/4/2020), sebanyak 50.563 pekerja di Jawa Tengah mengalami PHK maupun dirumahkan. 

Namun di tengah kesulitan ini, tak sedikit pekerja yang berusaha bangkit dan melanjutkan hidup. Daryatni (40), misalnya. Sudah sebulan, warga Boyolali ini dirumahkan tanpa penghasilan. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dia memanfaatkan mesin jahit di rumahnya untuk memproduksi masker. 

Daryatni memproduksi dua jenis masker, yakni masker satu lapis dan dua lapis. Setiap lembar masker kain yang ia buat, dijual seharga Rp3000-4000.

"Kebetulan ada mesin jahit di rumah. Sehari biasanya bisa bikin 3-4 lusin masker. Lumayan penghasilannya untuk kebutuhan," katanya kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di halaman Kantor Disnakertrans Boyolali, Jumat (1/5/2020).

Kisah serupa dituturkan Riyadi (22). Sejak dirumahkan tanpa bayaran dan tanpa kepastian apakah bisa bekerja lagi nantinya, dia memilih membantu orang tuanya bercocok tanam. 

"Sehari-hari bantu bapak di ladang, macul untuk tanam cabai dan tanam sayuran lainnya. Hasilnya lumayan untuk kebutuhan," terang warga Boyolali. 

Sutopo pun demikian. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, ahli mekanik di sebuah perusahaan itu kini bekerja membantu mertua menjadi pemborong bangunan.

"Bantu mertua bangun rumah, gedung dan lainnya. Ya jadi kuli bangunan pak, tapi saya bagian instalasi listrik. Hasilnya lumayan pak, bisa untuk makan keluarga," terang bapak dua anak ini.

Kisah Daryatni, Riyadi dan Sutopo ini membuat Ganjar bangga. Ia mengatakan, meski ada bantuan dari pemerintah namun alangkah baiknya jika mereka yang terdampak covid-19 pun berusaha untuk bertahan hidup. 

"Semua sedang susah, tapi kalau hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah, tidak akan pernah cukup. Kita harus berusaha agar tetap survive, saya senang kawan-kawan buruh di Boyolali ini tetap berusaha survive," kata Ganjar. 

Sebenarnya lanjut dia, banyak cara yang bisa dilakukan para buruh untuk tetap survive. Namun, hal itu membutuhkan dukungan dari banyak pihak, khususnya perusahaan dan pemerintah.

"Makanya saya mengajak semua perusahaan untuk memberikan perhatian, nanti kami ikut bantu. Sebab, kalau urusan makan sudah aman, mereka para buruh ini bisa kok berinovasi. Ada yang bikin masker, jualan, jadi tukang batu atau mungkin ekonomi kreatif akan muncul. Apapun itu, yang penting mereka bisa survive," tandasnya. 

Sembako

Dalam kesempatan itu, Ganjar juga membagikan 1000 paket sembako kepada para buruh di Kabupaten Boyolali yang di-PHK maupun dirumahkan, Jumat (1/5/2020), di halaman Kantor Disnakertrans Kabupaten Boyolali. 

Paket yang dibagikan terdiri dari beras, minyak, gula, telur, mi instan, dan ikan. Bantuan ini berasal dari donasi Korpri Jateng dan Pemkab Boyolali. 

Meski banyak perusahaan yang gulung tikar dan melakukan pengurangan karyawan, namun Ganjar meminta agar perhatian tetap diberikan. Meski tidak banyak karena kondisi ekonomi sedang terguncang, minimal perusahaan bisa membantu memberikan keringanan.

"Mari perusahaan ikut bantu, berapapun itu sangat berarti. Setidaknya, kita bisa bikin ayem mereka, karena sebenarnya mereka saat ini deg-degan dan separuh panik, besok makan apa dan di mana," terangnya. 

"Saya tahu kondisinya semua sedang susah. Tapi mari kita peduli dengan membantu sesama, khususnya dalam peringatan May Day ini, kita peduli pada kawan-kawan buruh," imbuhnya. 

Ganjar berharap bantuan yang diberikan Pemprov Jateng itu tidak hanya mencukupi kebutuhan para buruh selama sebulan, namun juga membantu mereka untuk berinovasi dan berkreasi. 

"Kalau urusan makan sudah aman, mereka bisa kok berinovasi. Ada yang bikin masker, jualan, jadi tukang batu atau mungkin ekonomi kreatif akan muncul. Apapun itu, yang penting mereka bisa survive," ujarnya. 

Pemerintah, lanjut Ganjar, juga sedang menyiapkan program untuk mengantisipasi jika para buruh tidak bisa bekerja lagi dan sebagainya.

"Kami sudah siapkan desainnya, kita siapkan pelatihan, keterampilan hingga akses modal dan pendamping. Kami minta semua pihak sabar dan mengerti soal ini, jadi tidak perlu marah-marah, mari duduk bersama," tutupnya.

Riyadi, yang turut mendapatkan bantuan dari Ganjar, sangat bersyukur mendapat bantuan sembako dari Ganjar. Menurutnya, bantuan itu bisa digunakan untuk menyambung hidup selama ramadhan.

"Alhamdulillah, bisa untuk sambung makan selama ramadhan, sambil menunggu hasil bekerja di ladang," kata Riyadi.


Bagikan :

BOYOLALI - Wabah covid-19 tidak hanya menjangkiti mereka yang sakit, namun juga menginfeksi dunia industri. Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, hingga Kamis (29/4/2020), sebanyak 50.563 pekerja di Jawa Tengah mengalami PHK maupun dirumahkan. 

Namun di tengah kesulitan ini, tak sedikit pekerja yang berusaha bangkit dan melanjutkan hidup. Daryatni (40), misalnya. Sudah sebulan, warga Boyolali ini dirumahkan tanpa penghasilan. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dia memanfaatkan mesin jahit di rumahnya untuk memproduksi masker. 

Daryatni memproduksi dua jenis masker, yakni masker satu lapis dan dua lapis. Setiap lembar masker kain yang ia buat, dijual seharga Rp3000-4000.

"Kebetulan ada mesin jahit di rumah. Sehari biasanya bisa bikin 3-4 lusin masker. Lumayan penghasilannya untuk kebutuhan," katanya kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di halaman Kantor Disnakertrans Boyolali, Jumat (1/5/2020).

Kisah serupa dituturkan Riyadi (22). Sejak dirumahkan tanpa bayaran dan tanpa kepastian apakah bisa bekerja lagi nantinya, dia memilih membantu orang tuanya bercocok tanam. 

"Sehari-hari bantu bapak di ladang, macul untuk tanam cabai dan tanam sayuran lainnya. Hasilnya lumayan untuk kebutuhan," terang warga Boyolali. 

Sutopo pun demikian. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, ahli mekanik di sebuah perusahaan itu kini bekerja membantu mertua menjadi pemborong bangunan.

"Bantu mertua bangun rumah, gedung dan lainnya. Ya jadi kuli bangunan pak, tapi saya bagian instalasi listrik. Hasilnya lumayan pak, bisa untuk makan keluarga," terang bapak dua anak ini.

Kisah Daryatni, Riyadi dan Sutopo ini membuat Ganjar bangga. Ia mengatakan, meski ada bantuan dari pemerintah namun alangkah baiknya jika mereka yang terdampak covid-19 pun berusaha untuk bertahan hidup. 

"Semua sedang susah, tapi kalau hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah, tidak akan pernah cukup. Kita harus berusaha agar tetap survive, saya senang kawan-kawan buruh di Boyolali ini tetap berusaha survive," kata Ganjar. 

Sebenarnya lanjut dia, banyak cara yang bisa dilakukan para buruh untuk tetap survive. Namun, hal itu membutuhkan dukungan dari banyak pihak, khususnya perusahaan dan pemerintah.

"Makanya saya mengajak semua perusahaan untuk memberikan perhatian, nanti kami ikut bantu. Sebab, kalau urusan makan sudah aman, mereka para buruh ini bisa kok berinovasi. Ada yang bikin masker, jualan, jadi tukang batu atau mungkin ekonomi kreatif akan muncul. Apapun itu, yang penting mereka bisa survive," tandasnya. 

Sembako

Dalam kesempatan itu, Ganjar juga membagikan 1000 paket sembako kepada para buruh di Kabupaten Boyolali yang di-PHK maupun dirumahkan, Jumat (1/5/2020), di halaman Kantor Disnakertrans Kabupaten Boyolali. 

Paket yang dibagikan terdiri dari beras, minyak, gula, telur, mi instan, dan ikan. Bantuan ini berasal dari donasi Korpri Jateng dan Pemkab Boyolali. 

Meski banyak perusahaan yang gulung tikar dan melakukan pengurangan karyawan, namun Ganjar meminta agar perhatian tetap diberikan. Meski tidak banyak karena kondisi ekonomi sedang terguncang, minimal perusahaan bisa membantu memberikan keringanan.

"Mari perusahaan ikut bantu, berapapun itu sangat berarti. Setidaknya, kita bisa bikin ayem mereka, karena sebenarnya mereka saat ini deg-degan dan separuh panik, besok makan apa dan di mana," terangnya. 

"Saya tahu kondisinya semua sedang susah. Tapi mari kita peduli dengan membantu sesama, khususnya dalam peringatan May Day ini, kita peduli pada kawan-kawan buruh," imbuhnya. 

Ganjar berharap bantuan yang diberikan Pemprov Jateng itu tidak hanya mencukupi kebutuhan para buruh selama sebulan, namun juga membantu mereka untuk berinovasi dan berkreasi. 

"Kalau urusan makan sudah aman, mereka bisa kok berinovasi. Ada yang bikin masker, jualan, jadi tukang batu atau mungkin ekonomi kreatif akan muncul. Apapun itu, yang penting mereka bisa survive," ujarnya. 

Pemerintah, lanjut Ganjar, juga sedang menyiapkan program untuk mengantisipasi jika para buruh tidak bisa bekerja lagi dan sebagainya.

"Kami sudah siapkan desainnya, kita siapkan pelatihan, keterampilan hingga akses modal dan pendamping. Kami minta semua pihak sabar dan mengerti soal ini, jadi tidak perlu marah-marah, mari duduk bersama," tutupnya.

Riyadi, yang turut mendapatkan bantuan dari Ganjar, sangat bersyukur mendapat bantuan sembako dari Ganjar. Menurutnya, bantuan itu bisa digunakan untuk menyambung hidup selama ramadhan.

"Alhamdulillah, bisa untuk sambung makan selama ramadhan, sambil menunggu hasil bekerja di ladang," kata Riyadi.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu