Follow Us :              

Ganjar Dukung Pemberdayaan Eks Pekerja Migran di Wonosobo

  16 June 2020  |   14:00:00  |   dibaca : 1284 
Kategori :
Bagikan :


Ganjar Dukung Pemberdayaan Eks Pekerja Migran di Wonosobo

16 June 2020 | 14:00:00 | dibaca : 1284
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

WONOSOBO - Ada yang menarik di Desa Sindupanten Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo, saat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengunjunginya, Selasa (16/6/2020). Di desa yang cukup terpencil itu, Ganjar melihat pemberdayaan pada masyarakat khususnya eks Pekerja Migran Indonesia (PMI) sudah dilakukan dengan baik.

Di desa tersebut, total ada 119 warga yang mencoba peruntungan bekerja ke luar negeri. Dari jumlah itu, 78 orang di antaranya sudah kembali ke kampung dan dibina untuk menekuni industri kecil seperti pembuatan masker, jas hujan, sepatu dan sandal jepit. Hebatnya lagi, produk-produk itu dijual secara online.

Saat Ganjar datang, ibu-ibu eks pekerja migran sedang asyik menjahit masker dan jas hujan di kantor desa. Seperti kebiasaannya, Ganjar langsung mengajak mereka ngobrol.

"Wis suwi njahit masker lan mantel bu (sudah lama jahit masker dan mantel), hasilnya bagus ndak? opo wis ora kepingin kerjo ning luar maneh (apa sudah tidak mau kembali kerja di luar negeri)," tanyanya.

Kepada Ganjar, seorang ibu bernama Rohayati (53) mengatakan sudah tidak minat lagi bekerja menjadi pekerja migran. Ia mengatakan, sudah cukup lama mengais rejeki di negeri orang, yakni dua tahun bekerja di Singapura dan enam tahun di Hongkong.

"Sekarang sudah tidak mau kembali kesana lagi pak, sudah disini saja. Kalau pagi saya jual gorengan di pasar, siang bantu buat masker dan jas hujan ini. Alhamdulillah, ini sudah mencukupi kehidupan keluarga," kata dia.

Rohayati mengatakan, hasil tabungan saat bekerja ke luar negeri ia tabung untuk membeli tanah, rumah dan untuk usaha. Saat ini, semua itu sudah bisa menghidupi ia dan dua anaknya.

"Sudah cukup untuk masa depan saya pak," ucapnya.

Selain industri kerajinan masker dan jas hujan, di desa Sindupaten juga ada industri pembuatan sepatu dan sandal dari ban bekas. Meski ada beberapa yang dikelola masyarakat biasa dan bukan eks PMI, namun mereka juga membantu melakukan pelatihan kepada warga sekitar ataupun eks PMI yang memutuskan tetap berada di kampung.

"Kami lakukan pelatihan pada warga, ada yang menjahit, masak, buat sepatu dan lainnya. Kami anggarkan dana desa untuk mensuport kegiatan pemberdayaan ini," kata Kepala Desa Sindupaten, Kukuh Zubaidi.

Sementara itu, Ganjar mengatakan senang dengan adanya pemberdayaan masyarakat eks pekerja migran ini. Menurutnya, cara itu bisa dilakukan untuk membantu mereka yang terdampak covid-19 agar tetap bisa mandiri.

"Ini menarik, pemberdayaannya sudah jalan. Tinggal mereka tadi bilang butuh peralatan. Pasti bisa kami bantu, tapi mereka mesti membuat kelompok agar mudah dikelola," kata Ganjar.

Menurutnya, pemberdayaan semacam inilah yang nantinya akan disuport pasca wabah covid-19. Mereka masyarakat yang terdampak, apakah korban PHK, dirumahkan, tidak bisa kembali bekerja ke berbagai daerah lain dapat didata. Mereka nantinya dapat dibina sesuai minat masing-masing, diberikan pelatihan, pendampingan hingga akses modal.


Bagikan :

WONOSOBO - Ada yang menarik di Desa Sindupanten Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo, saat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengunjunginya, Selasa (16/6/2020). Di desa yang cukup terpencil itu, Ganjar melihat pemberdayaan pada masyarakat khususnya eks Pekerja Migran Indonesia (PMI) sudah dilakukan dengan baik.

Di desa tersebut, total ada 119 warga yang mencoba peruntungan bekerja ke luar negeri. Dari jumlah itu, 78 orang di antaranya sudah kembali ke kampung dan dibina untuk menekuni industri kecil seperti pembuatan masker, jas hujan, sepatu dan sandal jepit. Hebatnya lagi, produk-produk itu dijual secara online.

Saat Ganjar datang, ibu-ibu eks pekerja migran sedang asyik menjahit masker dan jas hujan di kantor desa. Seperti kebiasaannya, Ganjar langsung mengajak mereka ngobrol.

"Wis suwi njahit masker lan mantel bu (sudah lama jahit masker dan mantel), hasilnya bagus ndak? opo wis ora kepingin kerjo ning luar maneh (apa sudah tidak mau kembali kerja di luar negeri)," tanyanya.

Kepada Ganjar, seorang ibu bernama Rohayati (53) mengatakan sudah tidak minat lagi bekerja menjadi pekerja migran. Ia mengatakan, sudah cukup lama mengais rejeki di negeri orang, yakni dua tahun bekerja di Singapura dan enam tahun di Hongkong.

"Sekarang sudah tidak mau kembali kesana lagi pak, sudah disini saja. Kalau pagi saya jual gorengan di pasar, siang bantu buat masker dan jas hujan ini. Alhamdulillah, ini sudah mencukupi kehidupan keluarga," kata dia.

Rohayati mengatakan, hasil tabungan saat bekerja ke luar negeri ia tabung untuk membeli tanah, rumah dan untuk usaha. Saat ini, semua itu sudah bisa menghidupi ia dan dua anaknya.

"Sudah cukup untuk masa depan saya pak," ucapnya.

Selain industri kerajinan masker dan jas hujan, di desa Sindupaten juga ada industri pembuatan sepatu dan sandal dari ban bekas. Meski ada beberapa yang dikelola masyarakat biasa dan bukan eks PMI, namun mereka juga membantu melakukan pelatihan kepada warga sekitar ataupun eks PMI yang memutuskan tetap berada di kampung.

"Kami lakukan pelatihan pada warga, ada yang menjahit, masak, buat sepatu dan lainnya. Kami anggarkan dana desa untuk mensuport kegiatan pemberdayaan ini," kata Kepala Desa Sindupaten, Kukuh Zubaidi.

Sementara itu, Ganjar mengatakan senang dengan adanya pemberdayaan masyarakat eks pekerja migran ini. Menurutnya, cara itu bisa dilakukan untuk membantu mereka yang terdampak covid-19 agar tetap bisa mandiri.

"Ini menarik, pemberdayaannya sudah jalan. Tinggal mereka tadi bilang butuh peralatan. Pasti bisa kami bantu, tapi mereka mesti membuat kelompok agar mudah dikelola," kata Ganjar.

Menurutnya, pemberdayaan semacam inilah yang nantinya akan disuport pasca wabah covid-19. Mereka masyarakat yang terdampak, apakah korban PHK, dirumahkan, tidak bisa kembali bekerja ke berbagai daerah lain dapat didata. Mereka nantinya dapat dibina sesuai minat masing-masing, diberikan pelatihan, pendampingan hingga akses modal.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu