Follow Us :              

Buka Musrenbang, Ganjar: Fokus Peningkatan Ekonomi dan Penanggulangan Kemiskinan

  19 April 2022  |   09:00:00  |   dibaca : 371 
Kategori :
Bagikan :


Buka Musrenbang, Ganjar: Fokus Peningkatan Ekonomi dan Penanggulangan Kemiskinan

19 April 2022 | 09:00:00 | dibaca : 371
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

PEKALONGAN -  Setelah dua tahun tidak digelar karena pandemi, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kembali mengadakan Musrenbang Wilayah yang digelar di Pendopo Kabupaten Pekalongan Selasa (19/4). 

Kegiatan tersebut diikuti oleh Kab/Kota eks Karesidenan Semarang, yakni Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Kota Salatiga, Purwodadi dan Kota Semarang) dan eks karisidenan Pekalongan, yaitu Petanglong (Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Kota Pekalongan). 

Gubernur mengatakan, fokus pembangunan saat ini adalah pada pengentasan kemiskinan dan pemulihan ekonomi pasca pandemi. Hal ini sejalan dengan arahan presiden pada para pemimpin daerah. 

"Apalagi sekarang selain pandemi, ada gangguan geo politik dunia. Energi pasti terganggu, pangan terganggu. Kita semua harus siap dengan skenario-skenario yang ada," jelasnya. 

Sesuai arahan itu, pada musrembang ini Gubernur meminta semua kepala daerah, dalam penyusunan pembangunan untuk 2023 mendatang, diharapkan fokus pada dua hal tersebut. 

"Kalau dulu setiap Musrenbang biasanya kepala daerah itu selalu saja mengusulkan pekerjaan fisik. Itu memang penting, tapi saya minta itu diusulkan (nanti) saja. Saat Musrenbang ini saya minta fokus pada dua hal, yakni peningkatan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan," kata Ganjar. 

Ia mengatakan, pengentasan kemiskinan tidak bisa diselesaikan jika pemerintah daerah berjalan sendiri-sendiri. "Daerah harus berkolaborasi, mencari solusi bersama-sama. Di Musrenbang inilah kita harap inovasi dan kreatifitas kabupaten/kota pada dua isu ini bermunculan," ujarnya. 

Pada Musrembang ini sejumlah bupati/wali kota menyampaikan pandangan dan strategi masing-masing dalam menjalankan dua fokus tersebut. Strategi itu disesuaikan dengan potensi daerah mereka. 

Selain mendengar penjelasan para kepala daerah, pada forum ini, Gubernur juga mendengar pendapat peserta dari perwakilan masyarakat. Misalnya Ika Nela Setiani, salah satu perwakilan kelompok perempuan yang menyampaikan problem yang dihadapi ibu-ibu di daerah yang memiliki anak berkebutuhan khusus. 

"Belum ada klinik kembang anak pak di sini, selain itu juga belum ada psikolog yang khusus menangani ini. Kami berharap ada psikolog untuk penanganan anak-anak kami," ujarnya yang langsung diikuti keluhan lainnya tentang kesulitan transpotasi. 

"Oke Bu Ika, nanti untuk psikolog biar dibantu Dinas Kesehatan kami. Pak tolong segera ditindaklanjuti, nomor Bu Ika dicatat untuk mengetahui kebutuhannya. Untuk yang kesulitan berobat ke kota karena jarak dan minim transportasi, saya kasih bantuan mobil ya Bu," kata Ganjar yang langsung membuat Ika takjub. 

"Ekspektasi saya tidak seperti itu, ternyata respon Pak Ganjar secepat itu," aku Ika dengan ekpresi bahagia. 

Tidak hanya Ika, Kades Paninggaran juga dibuat takjud dengan respon Ganjar. Impiannya untuk memiliki mesin pembuat teh celup seharga Rp70 juta untuk membantu usaha teh para warganya, sebentar lagi menjadi nyata. Ganjar menyanggupi untuk membelikannya. 

"Murah itu, saya belikan. Karena sudah ada buktinya ini. Ini saya juga pegang teh hasil produksi desa njenengan (Anda). Sudah mesin pembuat teh celupnya nanti saya yang belikan," ucap Ganjar yang langsung disambut tepuk tangan para peserta Musrembang. 

Endang Tri Murti Ningsih yang hadir mewakili penyandang difabilitas Pekalongan, juga mengaku sangat puas dengan Musrembang ini. Usulannya untuk mengadakan pelatihan bagi para disabilitas di dua desa, dikabulkan Ganjar. 

Desa tersebut adalah Desa Jaruksari Kecamatan Tirto dan Desa Pecakaran Kecamatan Wonokerto, dua desa yang selalu menjadi langganan rob. 

"Minta adanya fasilitasi pemasaran produknya. Tadi Alhamdulillah Pak Gubernur merespons dengan sangat baik, dalam waktu dekat akan memberikan pelatihan," ujar Ketua Perkumpulan Penyandang Difabilitas Fisik Indonesia (PPDFI) Kabupaten Pekalongan ini. 

Usai Musrenbang di Gubernur didampingi Bupati Pekalongan mengunjungi calon penerima manfaat program renovasi RTLH. 

"Mumpung ada Musrenbang di Kabupaten Pekalongan, ini bersama Bu Bupati dan kawan-kawan lain termasuk Baznas, kita coba cari terus yang rumah tidak layak huni, mudah-mudahan bisa membantu," pungkasnya. 

Pada kunjungan kali ini, Ganjar memberikan bantuan RTLH bagi Tarno. Lewat bantuan itu Ganjar berharap rumah Tarno yang ukuran 4.1 x 4.6 itu bisa renovasi agar bisa menjadi rumah tinggal yang lebih layak.


Bagikan :

PEKALONGAN -  Setelah dua tahun tidak digelar karena pandemi, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kembali mengadakan Musrenbang Wilayah yang digelar di Pendopo Kabupaten Pekalongan Selasa (19/4). 

Kegiatan tersebut diikuti oleh Kab/Kota eks Karesidenan Semarang, yakni Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Kota Salatiga, Purwodadi dan Kota Semarang) dan eks karisidenan Pekalongan, yaitu Petanglong (Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Kota Pekalongan). 

Gubernur mengatakan, fokus pembangunan saat ini adalah pada pengentasan kemiskinan dan pemulihan ekonomi pasca pandemi. Hal ini sejalan dengan arahan presiden pada para pemimpin daerah. 

"Apalagi sekarang selain pandemi, ada gangguan geo politik dunia. Energi pasti terganggu, pangan terganggu. Kita semua harus siap dengan skenario-skenario yang ada," jelasnya. 

Sesuai arahan itu, pada musrembang ini Gubernur meminta semua kepala daerah, dalam penyusunan pembangunan untuk 2023 mendatang, diharapkan fokus pada dua hal tersebut. 

"Kalau dulu setiap Musrenbang biasanya kepala daerah itu selalu saja mengusulkan pekerjaan fisik. Itu memang penting, tapi saya minta itu diusulkan (nanti) saja. Saat Musrenbang ini saya minta fokus pada dua hal, yakni peningkatan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan," kata Ganjar. 

Ia mengatakan, pengentasan kemiskinan tidak bisa diselesaikan jika pemerintah daerah berjalan sendiri-sendiri. "Daerah harus berkolaborasi, mencari solusi bersama-sama. Di Musrenbang inilah kita harap inovasi dan kreatifitas kabupaten/kota pada dua isu ini bermunculan," ujarnya. 

Pada Musrembang ini sejumlah bupati/wali kota menyampaikan pandangan dan strategi masing-masing dalam menjalankan dua fokus tersebut. Strategi itu disesuaikan dengan potensi daerah mereka. 

Selain mendengar penjelasan para kepala daerah, pada forum ini, Gubernur juga mendengar pendapat peserta dari perwakilan masyarakat. Misalnya Ika Nela Setiani, salah satu perwakilan kelompok perempuan yang menyampaikan problem yang dihadapi ibu-ibu di daerah yang memiliki anak berkebutuhan khusus. 

"Belum ada klinik kembang anak pak di sini, selain itu juga belum ada psikolog yang khusus menangani ini. Kami berharap ada psikolog untuk penanganan anak-anak kami," ujarnya yang langsung diikuti keluhan lainnya tentang kesulitan transpotasi. 

"Oke Bu Ika, nanti untuk psikolog biar dibantu Dinas Kesehatan kami. Pak tolong segera ditindaklanjuti, nomor Bu Ika dicatat untuk mengetahui kebutuhannya. Untuk yang kesulitan berobat ke kota karena jarak dan minim transportasi, saya kasih bantuan mobil ya Bu," kata Ganjar yang langsung membuat Ika takjub. 

"Ekspektasi saya tidak seperti itu, ternyata respon Pak Ganjar secepat itu," aku Ika dengan ekpresi bahagia. 

Tidak hanya Ika, Kades Paninggaran juga dibuat takjud dengan respon Ganjar. Impiannya untuk memiliki mesin pembuat teh celup seharga Rp70 juta untuk membantu usaha teh para warganya, sebentar lagi menjadi nyata. Ganjar menyanggupi untuk membelikannya. 

"Murah itu, saya belikan. Karena sudah ada buktinya ini. Ini saya juga pegang teh hasil produksi desa njenengan (Anda). Sudah mesin pembuat teh celupnya nanti saya yang belikan," ucap Ganjar yang langsung disambut tepuk tangan para peserta Musrembang. 

Endang Tri Murti Ningsih yang hadir mewakili penyandang difabilitas Pekalongan, juga mengaku sangat puas dengan Musrembang ini. Usulannya untuk mengadakan pelatihan bagi para disabilitas di dua desa, dikabulkan Ganjar. 

Desa tersebut adalah Desa Jaruksari Kecamatan Tirto dan Desa Pecakaran Kecamatan Wonokerto, dua desa yang selalu menjadi langganan rob. 

"Minta adanya fasilitasi pemasaran produknya. Tadi Alhamdulillah Pak Gubernur merespons dengan sangat baik, dalam waktu dekat akan memberikan pelatihan," ujar Ketua Perkumpulan Penyandang Difabilitas Fisik Indonesia (PPDFI) Kabupaten Pekalongan ini. 

Usai Musrenbang di Gubernur didampingi Bupati Pekalongan mengunjungi calon penerima manfaat program renovasi RTLH. 

"Mumpung ada Musrenbang di Kabupaten Pekalongan, ini bersama Bu Bupati dan kawan-kawan lain termasuk Baznas, kita coba cari terus yang rumah tidak layak huni, mudah-mudahan bisa membantu," pungkasnya. 

Pada kunjungan kali ini, Ganjar memberikan bantuan RTLH bagi Tarno. Lewat bantuan itu Ganjar berharap rumah Tarno yang ukuran 4.1 x 4.6 itu bisa renovasi agar bisa menjadi rumah tinggal yang lebih layak.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu