Follow Us :              

Musrembang II, Ganjar Beri Solusi Mulai dari Shelter Korban KDRT Hingga Pembedayaan BUMDES

  21 April 2022  |   11:00:00  |   dibaca : 363 
Kategori :
Bagikan :


Musrembang II, Ganjar Beri Solusi Mulai dari Shelter Korban KDRT Hingga Pembedayaan BUMDES

21 April 2022 | 11:00:00 | dibaca : 363
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

KAB. MAGELANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, segera menindaklanjuti beragam keluhan warga yang disampaikan pada Musrenbang Wilayah ke II. Dian dari komunitas Sahabat Perempuan, mengaku senang dengan hasil musrembang. Impian komunitasnya untuk memiliki tempat perlindungan bisa segera terwujud. 

Dian adalah satu dari tiga perwakilan komunitas yang menyampaikan usulan di kegiatan Musrenbang Wilayah ke II untuk wilayah karesidenan Purwomanggung (Purworejo, Wonosobo, Magelang Kota dan Kabupaten, dan Temanggung) dan Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten) di Pendopo Kabupaten Magelang, Kamis (21/4). 

“Kenapa begitu penting karena kasus yang kita dampingi kebanyakan pelaku kekerasan adalah orang-orang terdekat. Nah saat pelaku belum ditahan kami sangat membutuhkan tempat yang aman untuk korban,” ujar Dian. 

Dian menjelaskan dari tahun 2020, komunitasnya telah mendampingi 51 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kemudian tahun 2021 terjadi kenaikan cukup signifikan menjadi 76 kasus dan didominasi kasus kekerasan dalam rumah tangga. 

“Hingga bulan Maret ini (2022) sudah ada 27 kasus. Itu (shelter) kami harapkan bisa direalisasikan karena kami sangat kesulitan untuk bisa mengakses rumah aman dan untuk bisa akses harus menghubungi pemerintah provinsi dulu,” ujar Dian. 

Selain Dian, ada Sandi dari forum anak dan Hendry Hermowo perwakilan dari disabilitas. Sandi menyampaikan persoalan sistem zonasi dalam pendaftaran sekolah, sedangkan Hendry mengeluhkan bus Trans Jateng yang belum mudah diakses disabilitas. 

“Diingatkan oleh teman penyandang disabilitas, aksesabilitas transportasinya belum, tempat pariwisata (juga) ternyata belum. Borobudur, saya minta langsung hari ini dicek,” ucap Ganjar. 

Terkait masukan dari Sahabat Perempuan, Ganjar mengatakan solusi tercepat adalah dengan mencari shelter sementara. Membuat shelter perhitungannya harus dilakukan secara matang sehingga bisa dimanfaatkan maksimal. 

“Barangkali kita bisa menggunakan tempat lain yang bisa dikonversi, itu akan lebih mudah. Intinya kita bisa mengamankan si korban, 76 kasus yang tadi ada kasihkan ke kami nanti kami bicara juga dengan Pak Bupati,” tutur Ganjar. 

Selain dari komunitas rentan, Ganjar juga mendengar keluhan pelaku UMKM. Seperti yang disampaikan oleh Tri Hapsari, pemilik usaha batik warna alam Eyang Mas Ayu di Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. 

"Saya mewakili UMKM di Kecamatan Grabag. Saya memohon bantuan agar bisa memasarkan batik saya. Soalnya selama pandemi pemasukan turun drastis bahkan sampai nol," keluh Tri Hapsari kepada Ganjar. 

"Menurutmu batiknya bagus tidak, mahal tidak harganya? Ya sudah, besok kirim ke rumah saya lima produk batik yang paling bagus. Nanti saya beli dan bantu promo. Jangan jual kain saja, buat tas dan pernik lain yang menarik," kata Ganjar menanggapi keluhan Hapsari. 

Momen dialog dengan Ganjar itu juga tidak dilewatkan Camat Grabag, Sri Utari dan Kades Sidogede, Adit. Mereka menyampaikan terkait bantuan, akses modal dan pendampingan usaha, termasuk untuk BUMDES. 

"Saya buat mudah sekarang. Penting masyarakat siap tidak? Kalau iya, kita turunkan tim untuk assesmen. Kalau mau usaha berkembang itu tidak minta, tapi pinjam. Tapi kalau yang tidak bisa apa-apa akan kita bantu karena ada CSR dan BAZNAS juga. Sekarang kumpulkan data kelompok usaha, pekan depan kami turunkan tim ke sana," tegas Ganjar. Tim assesmen itu juga berlaku pada pengembangan BUMDES di Kecamatan Grabag. 

"Dari assessment itu nanti kita petakan. Mana yang butuh modal, mana yang butuh pelatihan. Semua akan kami siapkan," kata Ganjar. 

Pada akhir pertemuan, Ganjar berpesan agar pemerintah dan masyarakat Grabag lebih memberi perhatian pada tingginya angka kehamilan ibu dengan risiko tinggi. Dari sekitar 275 ibu hamil dan sekitar 113 orang di antaranya memiliki risiko tinggi. 

"Ibu hamil ini tolong diperhatikan. Kita sedang dapat sorotan soal stunting. Karena yang berisiko cukup tinggi, tolong mereka mendapat perhatian khusus dan periksa rutin. Urutannya panjang ini, ada stunting, potensi gizi buruk, dan juga AKI-AKB," pungkas Ganjar.


Bagikan :

KAB. MAGELANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, segera menindaklanjuti beragam keluhan warga yang disampaikan pada Musrenbang Wilayah ke II. Dian dari komunitas Sahabat Perempuan, mengaku senang dengan hasil musrembang. Impian komunitasnya untuk memiliki tempat perlindungan bisa segera terwujud. 

Dian adalah satu dari tiga perwakilan komunitas yang menyampaikan usulan di kegiatan Musrenbang Wilayah ke II untuk wilayah karesidenan Purwomanggung (Purworejo, Wonosobo, Magelang Kota dan Kabupaten, dan Temanggung) dan Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten) di Pendopo Kabupaten Magelang, Kamis (21/4). 

“Kenapa begitu penting karena kasus yang kita dampingi kebanyakan pelaku kekerasan adalah orang-orang terdekat. Nah saat pelaku belum ditahan kami sangat membutuhkan tempat yang aman untuk korban,” ujar Dian. 

Dian menjelaskan dari tahun 2020, komunitasnya telah mendampingi 51 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kemudian tahun 2021 terjadi kenaikan cukup signifikan menjadi 76 kasus dan didominasi kasus kekerasan dalam rumah tangga. 

“Hingga bulan Maret ini (2022) sudah ada 27 kasus. Itu (shelter) kami harapkan bisa direalisasikan karena kami sangat kesulitan untuk bisa mengakses rumah aman dan untuk bisa akses harus menghubungi pemerintah provinsi dulu,” ujar Dian. 

Selain Dian, ada Sandi dari forum anak dan Hendry Hermowo perwakilan dari disabilitas. Sandi menyampaikan persoalan sistem zonasi dalam pendaftaran sekolah, sedangkan Hendry mengeluhkan bus Trans Jateng yang belum mudah diakses disabilitas. 

“Diingatkan oleh teman penyandang disabilitas, aksesabilitas transportasinya belum, tempat pariwisata (juga) ternyata belum. Borobudur, saya minta langsung hari ini dicek,” ucap Ganjar. 

Terkait masukan dari Sahabat Perempuan, Ganjar mengatakan solusi tercepat adalah dengan mencari shelter sementara. Membuat shelter perhitungannya harus dilakukan secara matang sehingga bisa dimanfaatkan maksimal. 

“Barangkali kita bisa menggunakan tempat lain yang bisa dikonversi, itu akan lebih mudah. Intinya kita bisa mengamankan si korban, 76 kasus yang tadi ada kasihkan ke kami nanti kami bicara juga dengan Pak Bupati,” tutur Ganjar. 

Selain dari komunitas rentan, Ganjar juga mendengar keluhan pelaku UMKM. Seperti yang disampaikan oleh Tri Hapsari, pemilik usaha batik warna alam Eyang Mas Ayu di Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. 

"Saya mewakili UMKM di Kecamatan Grabag. Saya memohon bantuan agar bisa memasarkan batik saya. Soalnya selama pandemi pemasukan turun drastis bahkan sampai nol," keluh Tri Hapsari kepada Ganjar. 

"Menurutmu batiknya bagus tidak, mahal tidak harganya? Ya sudah, besok kirim ke rumah saya lima produk batik yang paling bagus. Nanti saya beli dan bantu promo. Jangan jual kain saja, buat tas dan pernik lain yang menarik," kata Ganjar menanggapi keluhan Hapsari. 

Momen dialog dengan Ganjar itu juga tidak dilewatkan Camat Grabag, Sri Utari dan Kades Sidogede, Adit. Mereka menyampaikan terkait bantuan, akses modal dan pendampingan usaha, termasuk untuk BUMDES. 

"Saya buat mudah sekarang. Penting masyarakat siap tidak? Kalau iya, kita turunkan tim untuk assesmen. Kalau mau usaha berkembang itu tidak minta, tapi pinjam. Tapi kalau yang tidak bisa apa-apa akan kita bantu karena ada CSR dan BAZNAS juga. Sekarang kumpulkan data kelompok usaha, pekan depan kami turunkan tim ke sana," tegas Ganjar. Tim assesmen itu juga berlaku pada pengembangan BUMDES di Kecamatan Grabag. 

"Dari assessment itu nanti kita petakan. Mana yang butuh modal, mana yang butuh pelatihan. Semua akan kami siapkan," kata Ganjar. 

Pada akhir pertemuan, Ganjar berpesan agar pemerintah dan masyarakat Grabag lebih memberi perhatian pada tingginya angka kehamilan ibu dengan risiko tinggi. Dari sekitar 275 ibu hamil dan sekitar 113 orang di antaranya memiliki risiko tinggi. 

"Ibu hamil ini tolong diperhatikan. Kita sedang dapat sorotan soal stunting. Karena yang berisiko cukup tinggi, tolong mereka mendapat perhatian khusus dan periksa rutin. Urutannya panjang ini, ada stunting, potensi gizi buruk, dan juga AKI-AKB," pungkas Ganjar.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu