Follow Us :              

Sekda Nilai CBA Strategis Edukasi Masyarakat untuk Waspada Pilih Produk Obat, Suplemen dan Kosmetik

  30 May 2022  |   09:00:00  |   dibaca : 477 
Kategori :
Bagikan :


Sekda Nilai CBA Strategis Edukasi Masyarakat untuk Waspada Pilih Produk Obat, Suplemen dan Kosmetik

30 May 2022 | 09:00:00 | dibaca : 477
Kategori :
Bagikan :

Foto : Rinto (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Rinto (Humas Jateng)

SEMARANG - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membuat terobosan melibatkan organisasi masyarakat dan organisasi profesi sebagai penyuluh, dalam program Community Based Activity (CBA).  Program ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kewaspadaan dalam menggunakan obat-obatan, suplemen dan kosmetik. 

“Kami menyambut baik pembentukan penyuluh ini, karena kita tahu kondisi di masyarakat, terlalu gampang mengkonsumsi obat kimia, yang mungkin (karena) masyarakat tidak begitu memahami efek samping obat kimia.  Ini butuh edukasi, butuh penyadaran, sehingga pembentukan penyuluh ini sangat strategis. Apalagi yang dilibatkan di komunitas ini adalah organisasi-organisasi yang memang ada di masyarakat,” papar Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno, usai menghadiri acara BPOM Goes to Community di Provinsi Jawa Tengah, Senin (30/05/2022). 

Kehati-hatian dalam memilih obat, suplemen dan kosmetik ini, lanjut Sekda, secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Sebab, masyarakat tidak akan memilih obat, suplemen dan kosmetik berbahaya, yang bisa berdampak buruk bagi kesehatannya. 

“Bicara kesehatan, kalau dari penyuluh kan bukan bicara cara mengobati, tapi bagaimana supaya hidup sehat. Jadi itu adalah program promosi kesehatan tentang bagaimana masyarakat jadi lebih sadar (bahwa) lebih baik sehat, meskipun sakit itu gratis. Lebih baik adalah menjaga pola hidup agar tetap sehat,” tuturnya. 

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI, Reri Indriani mengatakan, organisasi masyarakat dan organisasi profesi yang dilibatkan antara lain adalah Karang Taruna, Pramuka, Fatayat NU, Muslimat NU, PKK, Persit Kartika Chandra Kirana dan IDI. 

Reri menjelaskan, pihaknya membangun sinergitas lintas sektor untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari penyalahgunaan obat dan berbahaya di dalam obat tradisional, suplemen kesehatan maupun kosmetik. 

Terlebih, beber Reri, pada pandemi covid - 19, ada pihak-pihak tidak bertanggungjawab yang mempromosikan obat dan suplemen secara berlebihan. Mereka memanfaatkan momentum kenaikan kebutuhan masyarakat terhadap obat dan suplemen. 

Berdasarkan penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional terhadap 1.524 responden, disimpulkan sebanyak 79% masyarakat mengkonsumsi jamu untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama wabah Covid-19. 

“Meningkatnya permintaan masyarakat terhadap produk jamu dan suplemen kesehatan di masa pandemi memunculkan klaim yang menyesatkan dan berlebihan, seperti jamu atau herbal yang dapat menyembuhkan Covid-19, membunuh Covid dan ini masih dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggungjawab,” ungkap dia. 

Maka dari itu, peran serta pemerintah dan masyarakat dalam sisi pengawasan obat dan makanan sangat penting, dalam meningkatkan indeks kesadaran masyarakat terhadap produk yang aman terhadap kesehatan. Partisipasi masyarakat di bidang kesehatan akan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi masalah dan mengambil keputusan yang terkait kesehatan, sehingga terbangun komunitas yang sadar akan obat dan makanan yang aman.


Bagikan :

SEMARANG - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membuat terobosan melibatkan organisasi masyarakat dan organisasi profesi sebagai penyuluh, dalam program Community Based Activity (CBA).  Program ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kewaspadaan dalam menggunakan obat-obatan, suplemen dan kosmetik. 

“Kami menyambut baik pembentukan penyuluh ini, karena kita tahu kondisi di masyarakat, terlalu gampang mengkonsumsi obat kimia, yang mungkin (karena) masyarakat tidak begitu memahami efek samping obat kimia.  Ini butuh edukasi, butuh penyadaran, sehingga pembentukan penyuluh ini sangat strategis. Apalagi yang dilibatkan di komunitas ini adalah organisasi-organisasi yang memang ada di masyarakat,” papar Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno, usai menghadiri acara BPOM Goes to Community di Provinsi Jawa Tengah, Senin (30/05/2022). 

Kehati-hatian dalam memilih obat, suplemen dan kosmetik ini, lanjut Sekda, secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Sebab, masyarakat tidak akan memilih obat, suplemen dan kosmetik berbahaya, yang bisa berdampak buruk bagi kesehatannya. 

“Bicara kesehatan, kalau dari penyuluh kan bukan bicara cara mengobati, tapi bagaimana supaya hidup sehat. Jadi itu adalah program promosi kesehatan tentang bagaimana masyarakat jadi lebih sadar (bahwa) lebih baik sehat, meskipun sakit itu gratis. Lebih baik adalah menjaga pola hidup agar tetap sehat,” tuturnya. 

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI, Reri Indriani mengatakan, organisasi masyarakat dan organisasi profesi yang dilibatkan antara lain adalah Karang Taruna, Pramuka, Fatayat NU, Muslimat NU, PKK, Persit Kartika Chandra Kirana dan IDI. 

Reri menjelaskan, pihaknya membangun sinergitas lintas sektor untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari penyalahgunaan obat dan berbahaya di dalam obat tradisional, suplemen kesehatan maupun kosmetik. 

Terlebih, beber Reri, pada pandemi covid - 19, ada pihak-pihak tidak bertanggungjawab yang mempromosikan obat dan suplemen secara berlebihan. Mereka memanfaatkan momentum kenaikan kebutuhan masyarakat terhadap obat dan suplemen. 

Berdasarkan penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional terhadap 1.524 responden, disimpulkan sebanyak 79% masyarakat mengkonsumsi jamu untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama wabah Covid-19. 

“Meningkatnya permintaan masyarakat terhadap produk jamu dan suplemen kesehatan di masa pandemi memunculkan klaim yang menyesatkan dan berlebihan, seperti jamu atau herbal yang dapat menyembuhkan Covid-19, membunuh Covid dan ini masih dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggungjawab,” ungkap dia. 

Maka dari itu, peran serta pemerintah dan masyarakat dalam sisi pengawasan obat dan makanan sangat penting, dalam meningkatkan indeks kesadaran masyarakat terhadap produk yang aman terhadap kesehatan. Partisipasi masyarakat di bidang kesehatan akan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi masalah dan mengambil keputusan yang terkait kesehatan, sehingga terbangun komunitas yang sadar akan obat dan makanan yang aman.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu