Follow Us :              

Hadiri Jambore Duta GenRe, Gubernur Dorong Peran Mereka Dalam Pencegahan Perkawinan Dini dan Stunting

  21 August 2022  |   19:00:00  |   dibaca : 101 
Kategori :
Bagikan :


Hadiri Jambore Duta GenRe, Gubernur Dorong Peran Mereka Dalam Pencegahan Perkawinan Dini dan Stunting

21 August 2022 | 19:00:00 | dibaca : 101
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

YOGYAKARTA - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo mengingatkan, masa depan generasi muda bisa terancam apabila masih banyak pernikahan dini, pergaulan atau seks bebas, dan pengaruh narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (Napza). Banyaknya jumlah Janda Usia Sekolah (JUS), semakin menunjukkan betapa menunjukkan dampak nyata ancaman tesebut. 

"Perkawinan dini, hari ini masih banyak. BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana  (BKKBN) terbaru) tadi menyampaikan ada Janda Usia Sekolah yang mulai banyak ditemukan. Kalau seperti ini generasi kita akan terancam," katanya usai memberikan motivasi dalam acara Jambore Duta generasi berencana (GenRe) nasional dan Ajang Kreativitas Remaja (Adujak Nasional) di Hotel The Ritch Yogyakarta, Minggu (21/8/2022) malam. Acara ini dihadiri juga oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X. 

"Jadi kalau kita mau bicara menyiapkan generasi muda untuk menghadapi masa depan dengan segala tantangannya, mereka musti bebas. Bebas dari pengaruh narkoba, mereka musti bebas dari perkawinan dini. Kalau mereka sudah menikah di usia dini, mentalnya tidak siap, kesehatan tidak siap, potensi stunting juga tinggi. PR berikutnya tidak akan selesai," jelasnya. 

Guna mengatasi masalah tersebut, para duta GenRe dapat mengambil peran itu sebagai juru bicara dengan cara-cara yang populer dan mudah diterima oleh teman sebaya. 

"Kita harapkan mereka makin kreatif, makin sering bertemu, makin sering diberi tugas. Lalu mereka berbicara dengan generasinya tentang jangan menikah dini, jangan terlibat narkoba. Kamu musti aktif untuk mengajak anak-anak seusiamu sekolah, belajar, dan menggapai cita-cita. Maka potensi-potensi terjadinya (ancaman) tadi itu bisa kita cegah," ujarnya. 

Dalam kesempatan itu, Gubernur sempat memberikan tantangan kepada empat perwakilan remaja dan Duta GenRe dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra. Keempatnya adalah Marselius (Papua), Rosa Sartika (Sulawesi Selatan), Nurul Oktaviani (Kalimantan Barat), dan Dimas Ferdiansyah (Lampung). 

Mereka diminta untuk berkampanye dengan membuat video pendek yang diunggah ke akun media sosial. Video tersebut berisi tentang tiga ikrar Duta GenRe yaitu tidak akan menikah muda, tidak akan berhubungan seks di luar nikah, dan tidak akan terpengaruh Napza. 

"Kalian nge-vlog, nggak usah lebih dari satu menit. Unggah di akun media sosial masing-masing, lalu tag atau cc-kan ke saya," ujar Gubernur pada mereka. 

Keterlibatan Duta GenRe dalam kampanye pencegah pernikahan dini, menurut Gubernur, pada akhirnya akan berdampak baik pada upaya pencegahan stunting lebih awal. 

"Keterlibatan mereka bisa menjadi sangat penting karena banyak hal teknis, terus pesan-pesan yang sifatnya kebijakan bisa kita titipkan kepada mereka. Terbayangkan kalau jejaring mereka sendiri sangat produktif untuk mengampanyekan itu maka stunting bisa dicegah, pernikahan dini bisa dicegah, napza bisa dicegah dan seterusnya," tandasnya.


Bagikan :

YOGYAKARTA - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo mengingatkan, masa depan generasi muda bisa terancam apabila masih banyak pernikahan dini, pergaulan atau seks bebas, dan pengaruh narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (Napza). Banyaknya jumlah Janda Usia Sekolah (JUS), semakin menunjukkan betapa menunjukkan dampak nyata ancaman tesebut. 

"Perkawinan dini, hari ini masih banyak. BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana  (BKKBN) terbaru) tadi menyampaikan ada Janda Usia Sekolah yang mulai banyak ditemukan. Kalau seperti ini generasi kita akan terancam," katanya usai memberikan motivasi dalam acara Jambore Duta generasi berencana (GenRe) nasional dan Ajang Kreativitas Remaja (Adujak Nasional) di Hotel The Ritch Yogyakarta, Minggu (21/8/2022) malam. Acara ini dihadiri juga oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X. 

"Jadi kalau kita mau bicara menyiapkan generasi muda untuk menghadapi masa depan dengan segala tantangannya, mereka musti bebas. Bebas dari pengaruh narkoba, mereka musti bebas dari perkawinan dini. Kalau mereka sudah menikah di usia dini, mentalnya tidak siap, kesehatan tidak siap, potensi stunting juga tinggi. PR berikutnya tidak akan selesai," jelasnya. 

Guna mengatasi masalah tersebut, para duta GenRe dapat mengambil peran itu sebagai juru bicara dengan cara-cara yang populer dan mudah diterima oleh teman sebaya. 

"Kita harapkan mereka makin kreatif, makin sering bertemu, makin sering diberi tugas. Lalu mereka berbicara dengan generasinya tentang jangan menikah dini, jangan terlibat narkoba. Kamu musti aktif untuk mengajak anak-anak seusiamu sekolah, belajar, dan menggapai cita-cita. Maka potensi-potensi terjadinya (ancaman) tadi itu bisa kita cegah," ujarnya. 

Dalam kesempatan itu, Gubernur sempat memberikan tantangan kepada empat perwakilan remaja dan Duta GenRe dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra. Keempatnya adalah Marselius (Papua), Rosa Sartika (Sulawesi Selatan), Nurul Oktaviani (Kalimantan Barat), dan Dimas Ferdiansyah (Lampung). 

Mereka diminta untuk berkampanye dengan membuat video pendek yang diunggah ke akun media sosial. Video tersebut berisi tentang tiga ikrar Duta GenRe yaitu tidak akan menikah muda, tidak akan berhubungan seks di luar nikah, dan tidak akan terpengaruh Napza. 

"Kalian nge-vlog, nggak usah lebih dari satu menit. Unggah di akun media sosial masing-masing, lalu tag atau cc-kan ke saya," ujar Gubernur pada mereka. 

Keterlibatan Duta GenRe dalam kampanye pencegah pernikahan dini, menurut Gubernur, pada akhirnya akan berdampak baik pada upaya pencegahan stunting lebih awal. 

"Keterlibatan mereka bisa menjadi sangat penting karena banyak hal teknis, terus pesan-pesan yang sifatnya kebijakan bisa kita titipkan kepada mereka. Terbayangkan kalau jejaring mereka sendiri sangat produktif untuk mengampanyekan itu maka stunting bisa dicegah, pernikahan dini bisa dicegah, napza bisa dicegah dan seterusnya," tandasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu