Follow Us :              

Gubernur: Gali Sejarah & Potensi Desa, Libatkan Semua Pihak, Jadikan Desa Makmur

  01 June 2023  |   07:00:00  |   dibaca : 531 
Kategori :
Bagikan :


Gubernur: Gali Sejarah & Potensi Desa, Libatkan Semua Pihak, Jadikan Desa Makmur

01 June 2023 | 07:00:00 | dibaca : 531
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

BOYOLALI - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak kepala desa (kades) menggali sejarah desanya. Dengan mengenal sejarah desanya, warga akan semakin optimis dalam mewujudkan cita-cita membangun kemakmuran bersama. 

"Kepada seluruh kepala desa yang hadir, ayo gali sejarah desa agar jadi pintu masuk kemakmuran untuk semua. Libatkan para tetua dan pemuda. Undang perguruan tinggi, minta bantuan sama kabupaten atau provinsi," kata Gubernur saat Langkah memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Alun-Alun Pancasila, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Kamis (1/6/2023). 

Turut dijelaskan, saat ini aspek sejarah bahkan sudah menjadi salah satu daya tarik pariwisata suatu daerah. Karena itu desa wisata mulai menggali sejarah masing-masing. Pengetahuan tentang sejarah desa tidak hanya berguna untuk menarik wisatawan, hal ini juga dapat membangun optimisme warga untuk bergerak bersama secara optimal menuju kemakmuran bersama. 

"Jadi orang-orang desa tidak perlu lagi merantau untuk mencari nafkah karena rezeki di kampung halaman sudah melimpah," ujarnya.

Terkait Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di Alun-Alun Pancasila, Gubernur mengatakan, kegiatan ini momentum pengingat bagi seluruh masyarakat tentang dasar negara Indonesia. Salah satu nilai yang ditekankan dari Pancasila adalah jiwa gotong royong. 

Gotong royong yang mengandung sikap persatuan, merupakan contoh implementasi sila ketiga Pancasila. “Ya kita punya dasar kuat yang namanya Pancasila. Dan kita akan gotong royong untuk menyelesaikan persoalan yang ada, sehingga terasa ringan,” tegas Gubernur.

Bupati Boyolali M Said Hidayat mengatakan, pihaknya telah melakukan amanat gubernur, yaitu menggali potensi desa masing-masing demi meraih kemakmuran warganya. Salah satunya dengan membuat patung Garuda berukuran sekitar 10 x 11 meter. 

Patung Garuda yang terbuat dari tembaga dan kuningan itu menghadap ke arah Gunung Merapi dan di samping patung, dibangun dinding kokoh, dilengkapi dengan aksen lambang sila pertama hingga kelima. 

"Kita bangun Alun-alun Pancasila. (Pelaksanaan) amanat Gubernur untuk kepala desa menggali potensi kita (desa). Kami juga meminta Gubernur menorehkan tanda tangan prasasti sebagai peresmiannya," kata Bupati Boyolali dalam sambutannya.

Sementara itu, Kepala Desa Cepogo Mawardi juga mengaku pemerintah desanya juga telah melakukan imbauan Gubernur untuk menggali sejarah desa. Bahkan, sejarah desanya telah masuk dalam buku Boyolali Kaya Cerita yang merupakan program Pemerintah Kabupaten setempat.

"Desa Cepogo ini dalam buku Boyolali Punya Cerita, kami memberikan kontribusi sejarah kerajinan logam. Kita tuangkan dalam bentuk sebuah cerita awal pembuatan kerajinan logam saat masa Kerajaan Mataram," kata Mawardi di kios desanya di lokasi acara.

Berkat kesadaran untuk membangkitkan kembali era kejayaan kerajinan logam desanya, logam  yang awalnya hanya digunakan untuk peralatan rumah tangga kini telah dikembangkan menjadi berbagai bentuk kerajinan. "Ini sudah dituangkan dalam buku untuk terus melacak cerita masa lalu karena ini era Mataram yaitu Amangkurat I. Berlanjut hingga sekarang," jelasnya.


Bagikan :

BOYOLALI - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak kepala desa (kades) menggali sejarah desanya. Dengan mengenal sejarah desanya, warga akan semakin optimis dalam mewujudkan cita-cita membangun kemakmuran bersama. 

"Kepada seluruh kepala desa yang hadir, ayo gali sejarah desa agar jadi pintu masuk kemakmuran untuk semua. Libatkan para tetua dan pemuda. Undang perguruan tinggi, minta bantuan sama kabupaten atau provinsi," kata Gubernur saat Langkah memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Alun-Alun Pancasila, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Kamis (1/6/2023). 

Turut dijelaskan, saat ini aspek sejarah bahkan sudah menjadi salah satu daya tarik pariwisata suatu daerah. Karena itu desa wisata mulai menggali sejarah masing-masing. Pengetahuan tentang sejarah desa tidak hanya berguna untuk menarik wisatawan, hal ini juga dapat membangun optimisme warga untuk bergerak bersama secara optimal menuju kemakmuran bersama. 

"Jadi orang-orang desa tidak perlu lagi merantau untuk mencari nafkah karena rezeki di kampung halaman sudah melimpah," ujarnya.

Terkait Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di Alun-Alun Pancasila, Gubernur mengatakan, kegiatan ini momentum pengingat bagi seluruh masyarakat tentang dasar negara Indonesia. Salah satu nilai yang ditekankan dari Pancasila adalah jiwa gotong royong. 

Gotong royong yang mengandung sikap persatuan, merupakan contoh implementasi sila ketiga Pancasila. “Ya kita punya dasar kuat yang namanya Pancasila. Dan kita akan gotong royong untuk menyelesaikan persoalan yang ada, sehingga terasa ringan,” tegas Gubernur.

Bupati Boyolali M Said Hidayat mengatakan, pihaknya telah melakukan amanat gubernur, yaitu menggali potensi desa masing-masing demi meraih kemakmuran warganya. Salah satunya dengan membuat patung Garuda berukuran sekitar 10 x 11 meter. 

Patung Garuda yang terbuat dari tembaga dan kuningan itu menghadap ke arah Gunung Merapi dan di samping patung, dibangun dinding kokoh, dilengkapi dengan aksen lambang sila pertama hingga kelima. 

"Kita bangun Alun-alun Pancasila. (Pelaksanaan) amanat Gubernur untuk kepala desa menggali potensi kita (desa). Kami juga meminta Gubernur menorehkan tanda tangan prasasti sebagai peresmiannya," kata Bupati Boyolali dalam sambutannya.

Sementara itu, Kepala Desa Cepogo Mawardi juga mengaku pemerintah desanya juga telah melakukan imbauan Gubernur untuk menggali sejarah desa. Bahkan, sejarah desanya telah masuk dalam buku Boyolali Kaya Cerita yang merupakan program Pemerintah Kabupaten setempat.

"Desa Cepogo ini dalam buku Boyolali Punya Cerita, kami memberikan kontribusi sejarah kerajinan logam. Kita tuangkan dalam bentuk sebuah cerita awal pembuatan kerajinan logam saat masa Kerajaan Mataram," kata Mawardi di kios desanya di lokasi acara.

Berkat kesadaran untuk membangkitkan kembali era kejayaan kerajinan logam desanya, logam  yang awalnya hanya digunakan untuk peralatan rumah tangga kini telah dikembangkan menjadi berbagai bentuk kerajinan. "Ini sudah dituangkan dalam buku untuk terus melacak cerita masa lalu karena ini era Mataram yaitu Amangkurat I. Berlanjut hingga sekarang," jelasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu