Follow Us :              

Inflasi Jateng pada Oktober 2024 Masih di Bawah Jangkauan Angka yang Ditetapkan

  01 November 2024  |   13:30:00  |   dibaca : 1915 
Kategori :
Bagikan :

Inflasi Jateng pada Oktober 2024 Masih di Bawah Jangkauan Angka yang Ditetapkan

01 November 2024 | 13:30:00 | dibaca : 1915
Kategori :
Bagikan :

Foto : Rinto (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Inflasi Jateng pada Oktober 2024 Masih di Bawah Jangkauan Angka yang Ditetapkan
Inflasi Jateng pada Oktober 2024 Masih di Bawah Jangkauan Angka yang Ditetapkan
Inflasi Jateng pada Oktober 2024 Masih di Bawah Jangkauan Angka yang Ditetapkan
Inflasi Jateng pada Oktober 2024 Masih di Bawah Jangkauan Angka yang Ditetapkan

Foto : Rinto (Humas Jateng)

SEMARANG - Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, Sumarno menyampaikan, inflasi Jateng secara month to month (m-to-m) pada Oktober 2024 sebesar 0,19% atau masih berada di bawah jangkauan angka yang ditetapkan (2,5%). Sementara itu, nilai indeks harga konsumen (IHK) Jateng, sebesar 106,18.

"Yang menjadi penyebab inflasi Jateng masih dari makanan, minuman, juga sigaret. Mudah-mudahan dampak di lapangan atau terhadap masyarakat tidak terlalu signifikan,” ucap Sekda di sela acara rilis inflasi dan indikator strategis di Aula BPS Jateng, Jumat, 1 November 2024.

Kepala BPS Jateng, Endang Tri Wahyuningsih menyampaikan, penyumbang utama inflasi Oktober 2024 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,46%. Inflasi terjadi, karena adanya kenaikan harga daging ayam ras dan bawang merah.

"Selain itu juga kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, (inflasinya) sebesar 0,76%, yang disebabkan harga emas perhiasan. Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,38 persen," jelasnya.

Lima komoditas dengan andil inflasi secara m-to-m terbesar di Jateng, yaitu daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, emas perhiasan, bawang merah, dan kopi bubuk. Kenaikan harga lima komoditas itu terjadi di 9 kabupaten/kota IHK, yakni Cilacap, Purwokerto, Wonosobo, Wonogiri, Rembang, Kudus, Surakarta, Kota Tegal, dan Kota Semarang.

Andil terbesar inflasi dari komoditas daging ayam ras terjadi di Purwokerto sebesar 0,09%. Kemudian,  kenaikan bahan bakar rumah tangga dan bawang merah dengan andil inflasi terbesar ada di Wonogiri sebesar 0,08% dan 0,09%, sedangkan emas perhiasan andil terbesarnya terjadi di Kota Semarang sebesar 0,06%.

"Kopi bubuk berturut-turut selama hampir tiga bulan mengalami kenaikan dari 9 kota IHK, andil terbesar ada di Wonosono, Kudus, dan Surakarta," kata Endang.


Bagikan :

SEMARANG - Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, Sumarno menyampaikan, inflasi Jateng secara month to month (m-to-m) pada Oktober 2024 sebesar 0,19% atau masih berada di bawah jangkauan angka yang ditetapkan (2,5%). Sementara itu, nilai indeks harga konsumen (IHK) Jateng, sebesar 106,18.

"Yang menjadi penyebab inflasi Jateng masih dari makanan, minuman, juga sigaret. Mudah-mudahan dampak di lapangan atau terhadap masyarakat tidak terlalu signifikan,” ucap Sekda di sela acara rilis inflasi dan indikator strategis di Aula BPS Jateng, Jumat, 1 November 2024.

Kepala BPS Jateng, Endang Tri Wahyuningsih menyampaikan, penyumbang utama inflasi Oktober 2024 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,46%. Inflasi terjadi, karena adanya kenaikan harga daging ayam ras dan bawang merah.

"Selain itu juga kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, (inflasinya) sebesar 0,76%, yang disebabkan harga emas perhiasan. Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,38 persen," jelasnya.

Lima komoditas dengan andil inflasi secara m-to-m terbesar di Jateng, yaitu daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, emas perhiasan, bawang merah, dan kopi bubuk. Kenaikan harga lima komoditas itu terjadi di 9 kabupaten/kota IHK, yakni Cilacap, Purwokerto, Wonosobo, Wonogiri, Rembang, Kudus, Surakarta, Kota Tegal, dan Kota Semarang.

Andil terbesar inflasi dari komoditas daging ayam ras terjadi di Purwokerto sebesar 0,09%. Kemudian,  kenaikan bahan bakar rumah tangga dan bawang merah dengan andil inflasi terbesar ada di Wonogiri sebesar 0,08% dan 0,09%, sedangkan emas perhiasan andil terbesarnya terjadi di Kota Semarang sebesar 0,06%.

"Kopi bubuk berturut-turut selama hampir tiga bulan mengalami kenaikan dari 9 kota IHK, andil terbesar ada di Wonosono, Kudus, dan Surakarta," kata Endang.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu