Follow Us :              

Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan

  13 July 2026  |   07:30:00  |   dibaca : 176 
Kategori :
Bagikan :


Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan

13 July 2026 | 07:30:00 | dibaca : 176
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa Masuk SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan

Foto : Fajar (Humas Jateng)

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., meninjau langsung hari pertama pembelajaran Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang pada Senin, 13 Juli 2026. 

Program sekokah gratis dari Pemprov Jateng ini terbukti menjadi solusi nyata bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang sebelumnya tidak lolos dalam seleksi sekolah negeri, agar mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan. 

Salah satu siswa SMA Laboratorium UPGRIS Semarang, Rafa Fidianto, mengaku senang pada hari pertamanya mengenakan seragam SMA. Meskipun sebelumnya tidak diterima di sekolah negeri, putra seorang pengemudi ojek itu akhirnya tetap bisa melanjutkan pendidikan melalui program tersebut. 

“Sebelumnya saya sempat ikut mendaftar ke sekolah negeri, tetapi nilai saya tidak cukup. Saya senang bisa sekolah di sini, karena bisa mendapat banyak teman,” ucap Rafa saat berdialog dengan Gubernur.

Ia berharap bisa mewujudkan cita-cita sebagai seorang tentara serta bisa membanggakan orang tuanya. 

Kesempatan serupa dirasakan Noval Surya Saputra. Ia datang ke sekolah didampingi ibunya, Mutiari Setyawati. Noval mengaku senang bisa melanjutkan pendidikan tanpa membebani ibu yang membesarkannya.

Mutiari mengatakan, awalnya Noval ingin bersekolah di sekolah negeri. Namun, jarak dari tempat tinggal mereka di Bandungan menjadi salah satu pertimbangan, hingga akhirnya Noval memilih SMA Laboratorium UPGRIS.

“Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Sebagai orang tua saya hanya bisa terus memotivasi anak agar jangan sampai minder,” ucapnya.

Cerita lain datang dari Kamdani, buruh tani ini merasa lega bisa menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut secara gratis. Dengan penghasilan tidak menentu, sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, ia mengaku kesulitan apabila harus menanggung seluruh kebutuhan pendidikan anak ketiganya.

“Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah dan masih mau sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan dan tidak seperti ibunya,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Jateng berulang kali menyemangati para siswa agar tidak merasa rendah diri, karena kondisi ekonomi maupun latar belakang keluarga.

“Boleh kita punya sekolah yang berbeda, boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat,” pesannya.

Ia menegaskan, kondisi ekonomi tidak boleh membuat seorang anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.

“Mereka harus tetap sekolah, tidak boleh putus sekolah. Sekolah tidak boleh berhenti hanya karena kondisi keluarga kurang mampu,” katanya.

Gubernur mengatakan, kehadiran program Sekolah Kemitraan menjadi bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memberikan jaminan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Ia menuturkan, siswa yang ditemuinya memiliki latar belakang beragam. Ada yang merupakan anak penjual angkringan, pengemudi ojek, buruh, hingga anak yang sudah kehilangan orang tua atau diasuh kerabat.

“Namun, mereka tetap semangat untuk sekolah. Ini merupakan bentuk tanggung jawab negara untuk selalu memberikan jaminan dan kepastian pendidikan bagi mereka,” ujarnya.

Pada tahun ajaran 2026/2027, Pemprov Jateng bekerja sama dengan 139 sekolah swasta, yang terdiri dari 56 SMA dan 83 SMK. Ada sebanyak 3.663 anak yang diterima melalui program tersebut. Rinciannya, sebanyak 1.063 siswa diterima di SMA dan 2.600 siswa di SMK. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang mencapai 2.390 siswa.

Khusus di Kota Semarang, sebanyak 51 siswa diterima melalui program Sekolah Kemitraan. Sebanyak 24 siswa masuk di SMA Laboratorium UPGRIS, 21 siswa di SMK Bina Nusantara, dan 6 siswa di SMK Ibu Kartini.

Dalam kegiatan itu, sebanyak 55 siswa juga menerima perlengkapan sekolah dan sepatu. Sementara orang tua siswa memperoleh bantuan paket sembako dari Baznas Jawa Tengah.

Gubernur juga meminta kepala sekolah dan guru untuk memastikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung dengan aman, humanis, dan menyenangkan.

“Tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada lagi perundungan, apalagi sampai menimbulkan rasa minder. Sekolah tidak menakutkan, tetapi harus menjadi tempat yang menyenangkan, sehingga anak-anak merasa nyaman,” tegasnya.

Kepada para siswa, ia berpesan agar kesempatan pendidikan yang diperoleh dimanfaatkan untuk meraih cita-cita sekaligus memperbaiki kehidupan keluarga.

“Kalian harus menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua, mempunyai cita-cita yang luhur, serta mampu mengubah diri sendiri maupun keluarga menjadi lebih baik,” pungkasnya.


Bagikan :

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., meninjau langsung hari pertama pembelajaran Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang pada Senin, 13 Juli 2026. 

Program sekokah gratis dari Pemprov Jateng ini terbukti menjadi solusi nyata bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang sebelumnya tidak lolos dalam seleksi sekolah negeri, agar mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan. 

Salah satu siswa SMA Laboratorium UPGRIS Semarang, Rafa Fidianto, mengaku senang pada hari pertamanya mengenakan seragam SMA. Meskipun sebelumnya tidak diterima di sekolah negeri, putra seorang pengemudi ojek itu akhirnya tetap bisa melanjutkan pendidikan melalui program tersebut. 

“Sebelumnya saya sempat ikut mendaftar ke sekolah negeri, tetapi nilai saya tidak cukup. Saya senang bisa sekolah di sini, karena bisa mendapat banyak teman,” ucap Rafa saat berdialog dengan Gubernur.

Ia berharap bisa mewujudkan cita-cita sebagai seorang tentara serta bisa membanggakan orang tuanya. 

Kesempatan serupa dirasakan Noval Surya Saputra. Ia datang ke sekolah didampingi ibunya, Mutiari Setyawati. Noval mengaku senang bisa melanjutkan pendidikan tanpa membebani ibu yang membesarkannya.

Mutiari mengatakan, awalnya Noval ingin bersekolah di sekolah negeri. Namun, jarak dari tempat tinggal mereka di Bandungan menjadi salah satu pertimbangan, hingga akhirnya Noval memilih SMA Laboratorium UPGRIS.

“Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Sebagai orang tua saya hanya bisa terus memotivasi anak agar jangan sampai minder,” ucapnya.

Cerita lain datang dari Kamdani, buruh tani ini merasa lega bisa menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut secara gratis. Dengan penghasilan tidak menentu, sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, ia mengaku kesulitan apabila harus menanggung seluruh kebutuhan pendidikan anak ketiganya.

“Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah dan masih mau sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan dan tidak seperti ibunya,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Jateng berulang kali menyemangati para siswa agar tidak merasa rendah diri, karena kondisi ekonomi maupun latar belakang keluarga.

“Boleh kita punya sekolah yang berbeda, boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat,” pesannya.

Ia menegaskan, kondisi ekonomi tidak boleh membuat seorang anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.

“Mereka harus tetap sekolah, tidak boleh putus sekolah. Sekolah tidak boleh berhenti hanya karena kondisi keluarga kurang mampu,” katanya.

Gubernur mengatakan, kehadiran program Sekolah Kemitraan menjadi bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memberikan jaminan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Ia menuturkan, siswa yang ditemuinya memiliki latar belakang beragam. Ada yang merupakan anak penjual angkringan, pengemudi ojek, buruh, hingga anak yang sudah kehilangan orang tua atau diasuh kerabat.

“Namun, mereka tetap semangat untuk sekolah. Ini merupakan bentuk tanggung jawab negara untuk selalu memberikan jaminan dan kepastian pendidikan bagi mereka,” ujarnya.

Pada tahun ajaran 2026/2027, Pemprov Jateng bekerja sama dengan 139 sekolah swasta, yang terdiri dari 56 SMA dan 83 SMK. Ada sebanyak 3.663 anak yang diterima melalui program tersebut. Rinciannya, sebanyak 1.063 siswa diterima di SMA dan 2.600 siswa di SMK. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang mencapai 2.390 siswa.

Khusus di Kota Semarang, sebanyak 51 siswa diterima melalui program Sekolah Kemitraan. Sebanyak 24 siswa masuk di SMA Laboratorium UPGRIS, 21 siswa di SMK Bina Nusantara, dan 6 siswa di SMK Ibu Kartini.

Dalam kegiatan itu, sebanyak 55 siswa juga menerima perlengkapan sekolah dan sepatu. Sementara orang tua siswa memperoleh bantuan paket sembako dari Baznas Jawa Tengah.

Gubernur juga meminta kepala sekolah dan guru untuk memastikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung dengan aman, humanis, dan menyenangkan.

“Tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada lagi perundungan, apalagi sampai menimbulkan rasa minder. Sekolah tidak menakutkan, tetapi harus menjadi tempat yang menyenangkan, sehingga anak-anak merasa nyaman,” tegasnya.

Kepada para siswa, ia berpesan agar kesempatan pendidikan yang diperoleh dimanfaatkan untuk meraih cita-cita sekaligus memperbaiki kehidupan keluarga.

“Kalian harus menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua, mempunyai cita-cita yang luhur, serta mampu mengubah diri sendiri maupun keluarga menjadi lebih baik,” pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu