Follow Us :              

Genjot Produksi Padi di Jateng, Pemprov Jateng Pulihkan 512 Hektare Lahan Pertanian di Demak 

  27 August 2025  |   07:30:00  |   dibaca : 855 
Kategori :
Bagikan :


Genjot Produksi Padi di Jateng, Pemprov Jateng Pulihkan 512 Hektare Lahan Pertanian di Demak 

27 August 2025 | 07:30:00 | dibaca : 855
Kategori :
Bagikan :

Foto : Ebron (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Ebron (Humas Jateng)

DEMAK – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama stakeholder terkait berhasil memulihkan lahan pertanian seluas 512 hektare di Kabupaten Demak. Lahan-lahan yang sebelumnya sering terendam banjir itu, kini sudah bisa kembali dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.

Ratusan hektare lahan pertanian itu berada di Desa Dukun, Desa Klitih, Desa Pidodo, dan Desa Kedunguter, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak. Pemulihan lahan dilakukan melalui program normalisasi sungai dan perbaikan jaringan irigasi/pengairan di daerah tersebut. 

Sebagai informasi, pemulihan lahan pertanian ini merupakan hasil kolaborasi dari sejumlah pihak, antara lain Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jateng, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (PUBMCK) Provinsi Jateng, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jateng-DI Yogyakarta, Pemadam Kebakaran, PT Corin Mulia, PT Nusantara Building Industries (NBI), PT Djarum, dan lainnya. 

Salah satu petani di Desa Dukun, Rifan, menyampaikan rasa terima kasih atas upaya pemulihan lahan yang dilakukan Pemprov Jateng di desanya. 

Ia mengungkapkan, area persawahan di tempat tinggalnya kini bisa kembali ditanami, karena sebelumnya lahan itu terbengkalai selama beberapa musim tanam akibat banjir yang melanda desanya.

"Terima kasih sudah dibantu normalisasi (sungai),” ucapnya di hadapan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, dalam acara Wiwitan Tandur Pari bertema ‘Sinergi Penanganan Sawah Terdampak Banjir untuk Peningkatan Produksi Padi di Kabupaten Demak', di Desa Dukun, Kecamatan Karengtengah pada Rabu, 27 Agustus 2025.

Rifan berharap, program normalisasi aliran irigasi/pengairan bisa diperluas hingga ke wilayah tetangga, seperti Desa Dukun Lor. Selain itu, ia juga meminta dilakukannya perbaikan pintu air, serta betonisasi jalan sepanjang 700 meter. 

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan, upaya yang dilakukan pemprov Jateng bersama pihak-pihak terkait untuk memulihkan lahan pertanian sudah membuahkan hasil. 

Beberapa waktu lalu, ia juga menyaksikan langsung proses normalisasi aliran Sungai Pelayaran kurang lebih sepanjang 300 meter. Diketahui, Sungai Pelayaran merupakan jalur penghubung antara aliran irigasi yang melintasi area persawahan di Kecamatan Karangtengah.

"Pada 3 Juli 2025 lalu saya kesini. Luasan tanah total sekitar 512 hektare masih terendam air, alhamdulillah saat ini sudah kering dan sudah bisa ditanam lagi," katanya.

Wagub menjelaskan, Kabupaten Demak merupakan wilayah penyumbang komoditas padi terbesar nomor tiga di Jateng. Akan tetapi, peringkat ini turun ke posisi lima, karena sebagian lahan pertanian di wilayah tersebut terendam banjir. 

Maka dari itu, ia mendorong agar produktivitas pertanian terus ditingkatkan untuk mempertahankan peran Jateng sebagai penopang ketahanan pangan nasional. 

"Tidak hanya di Kecamatan Karangtengah, tetapi kami juga melihat keseluruhan di Kabupaten Demak. Mana potensi yang bisa kita kembangkan lagi, kita kembalikan lagi, kita tanam lagi," ucap Wagub.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, mengungkapkan, Kabupaten Demak merupakan salah satu sentra produksi padi di Jateng, dengan kontribusi sebesar 8,89% terhadap produksi padi provinsi. 

Khusus di Kecamatan Karangtengah, daerah tersebut menjadi salah satu sentra produksi padi di Kabupaten Demak dengan capaian luas tanam sekitar 4.951 hektare. 

Namun, banjir yang melanda wilayah Karangtengah mengakibatkan lahan sawah seluas 512 hektare rusak dan tergenang. Berdasarkan perhitungannya, apabila produktivitas panen gabah kering sebanyak 5,6 ton per hektare, potensi kehilangan produksi padi akibat lahan yang terendam mencapai 2.867,2 ton dalam satu musim tanam.

"(Kerugian yang ditimbulkan per musim tanam) setara dengan Rp18.636.800.000, dengan asumsi harga gabah Rp6.500 per kilogram," katanya.

Ia berharap, pemulihan lahan pertanian di Karangtengah bisa kembali menggenjot produktivitas padi di wilayah tersebut.


Bagikan :

DEMAK – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama stakeholder terkait berhasil memulihkan lahan pertanian seluas 512 hektare di Kabupaten Demak. Lahan-lahan yang sebelumnya sering terendam banjir itu, kini sudah bisa kembali dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.

Ratusan hektare lahan pertanian itu berada di Desa Dukun, Desa Klitih, Desa Pidodo, dan Desa Kedunguter, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak. Pemulihan lahan dilakukan melalui program normalisasi sungai dan perbaikan jaringan irigasi/pengairan di daerah tersebut. 

Sebagai informasi, pemulihan lahan pertanian ini merupakan hasil kolaborasi dari sejumlah pihak, antara lain Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jateng, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (PUBMCK) Provinsi Jateng, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jateng-DI Yogyakarta, Pemadam Kebakaran, PT Corin Mulia, PT Nusantara Building Industries (NBI), PT Djarum, dan lainnya. 

Salah satu petani di Desa Dukun, Rifan, menyampaikan rasa terima kasih atas upaya pemulihan lahan yang dilakukan Pemprov Jateng di desanya. 

Ia mengungkapkan, area persawahan di tempat tinggalnya kini bisa kembali ditanami, karena sebelumnya lahan itu terbengkalai selama beberapa musim tanam akibat banjir yang melanda desanya.

"Terima kasih sudah dibantu normalisasi (sungai),” ucapnya di hadapan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, dalam acara Wiwitan Tandur Pari bertema ‘Sinergi Penanganan Sawah Terdampak Banjir untuk Peningkatan Produksi Padi di Kabupaten Demak', di Desa Dukun, Kecamatan Karengtengah pada Rabu, 27 Agustus 2025.

Rifan berharap, program normalisasi aliran irigasi/pengairan bisa diperluas hingga ke wilayah tetangga, seperti Desa Dukun Lor. Selain itu, ia juga meminta dilakukannya perbaikan pintu air, serta betonisasi jalan sepanjang 700 meter. 

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan, upaya yang dilakukan pemprov Jateng bersama pihak-pihak terkait untuk memulihkan lahan pertanian sudah membuahkan hasil. 

Beberapa waktu lalu, ia juga menyaksikan langsung proses normalisasi aliran Sungai Pelayaran kurang lebih sepanjang 300 meter. Diketahui, Sungai Pelayaran merupakan jalur penghubung antara aliran irigasi yang melintasi area persawahan di Kecamatan Karangtengah.

"Pada 3 Juli 2025 lalu saya kesini. Luasan tanah total sekitar 512 hektare masih terendam air, alhamdulillah saat ini sudah kering dan sudah bisa ditanam lagi," katanya.

Wagub menjelaskan, Kabupaten Demak merupakan wilayah penyumbang komoditas padi terbesar nomor tiga di Jateng. Akan tetapi, peringkat ini turun ke posisi lima, karena sebagian lahan pertanian di wilayah tersebut terendam banjir. 

Maka dari itu, ia mendorong agar produktivitas pertanian terus ditingkatkan untuk mempertahankan peran Jateng sebagai penopang ketahanan pangan nasional. 

"Tidak hanya di Kecamatan Karangtengah, tetapi kami juga melihat keseluruhan di Kabupaten Demak. Mana potensi yang bisa kita kembangkan lagi, kita kembalikan lagi, kita tanam lagi," ucap Wagub.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, mengungkapkan, Kabupaten Demak merupakan salah satu sentra produksi padi di Jateng, dengan kontribusi sebesar 8,89% terhadap produksi padi provinsi. 

Khusus di Kecamatan Karangtengah, daerah tersebut menjadi salah satu sentra produksi padi di Kabupaten Demak dengan capaian luas tanam sekitar 4.951 hektare. 

Namun, banjir yang melanda wilayah Karangtengah mengakibatkan lahan sawah seluas 512 hektare rusak dan tergenang. Berdasarkan perhitungannya, apabila produktivitas panen gabah kering sebanyak 5,6 ton per hektare, potensi kehilangan produksi padi akibat lahan yang terendam mencapai 2.867,2 ton dalam satu musim tanam.

"(Kerugian yang ditimbulkan per musim tanam) setara dengan Rp18.636.800.000, dengan asumsi harga gabah Rp6.500 per kilogram," katanya.

Ia berharap, pemulihan lahan pertanian di Karangtengah bisa kembali menggenjot produktivitas padi di wilayah tersebut.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu