Follow Us :              

Tingkatkan Kesehatan dan Kualitas Hidup Masyarakat, Jangkauan Program Desalinasi Terus Diperluas

  30 September 2025  |   08:00:00  |   dibaca : 438 
Kategori :
Bagikan :


Tingkatkan Kesehatan dan Kualitas Hidup Masyarakat, Jangkauan Program Desalinasi Terus Diperluas

30 September 2025 | 08:00:00 | dibaca : 438
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

DEMAK — Guna meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat, pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi hal yang sangat penting. Maka dari itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya memenuhi kebutuhan air bersih, salah satunya melalui program desalinasi.

Adapun, desalinasi adalah teknologi yang mampu mengolah air payau menjadi air tawar layak minum. Dengan adanya teknologi tersebut, para warga tidak perlu khawatir terkait dengan kebutuhan air bersih dan sehat yang dikonsumsinya.

Terbaru, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, bersama Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Suharnomo, meresmikan program desalinasi di Desa Banjarsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak pada Selasa, 30 September 2025.

Salah seorang warga, Siti Nurjanah, mengaku sangat terbantu dengan adanya program tersebut. Ia dan warga lain tidak perlu jauh-jauh membeli air ke luar desa. bahkan, harga air desalinasi pun jauh lebih murah dibandingkan air galon yang dibeli di luar.

"Ini sangat membantu buat masyarakat. Harganya juga tidak terlalu tinggi, rasanya nikmat banget. Dulu susah dapat air bersih untuk minum, harus beli di luar. Sekarang lebih dekat," ucapnya saat ditemui di lokasi peresmian.

Saat ini, pengelolaan program desalinasi di Desa Banjarsari diserahkan kepada Kelompok Pengelola Sarana Prasarana Air Minum Sanitasi (KPSPAMS) Banjarsari Bergerak. Pengelolaanya dimulai dari proses produksi hingga distribusi air bersih ke masyarakat.

Ketua KPSPAMS Banjarsari Bergerak, Ahmad Bahrudin, mengatakan bahwa operasional program desalinasi sudah dimulai pada Agustus 2025. Selama satu bulan, para warga bisa mengakses air tanpa dipungut biaya atau gratis. Sementara mulai dari tanggal 8 September 2025, warga hanya membayar sekitar Rp3.000-Rp4.000 per galon. Nantinya, penghasilan yang didapat akan digunakan untuk biaya operasional, seperti perawatan dan tagihan listrik.

Desalinasi dibangun di Dukuh Brangsong, Desa Banjarsari, karena cukup dekat dengan embung Banjarsari yang menjadi sumber air program tersebut. 

Ahmad mengatakan, uji laboratorium juga sudah dilakukan pada air dari proses desalinasi. Hasilnya, air tersebut layak untuk dikonsumsi.

"Tiga hari lalu, hasil laboratorium menjelaskan kalau air ini sangat bagus," jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, desalinasi di Desa Banjarsari merupakan 1 dari 4 titik yang disiapkan oleh Pemprov Jateng dan Undip. Selain di Demak, 3 daerah lainnya ada di Kabupaten Brebes, Kota Pekalongan, dan Pati.

Terkait kebutuhan listrik desalinasi, ia sudah memerintahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jateng serta dinas terkait lainnya, untuk memberikan bantuan solar panel guna meringankan beban biaya tagihan listrik.

"Di Demak ini bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat hampir 2000 warga atau satu desa. Harapannya, kesehatan masyarakat terjamin dan kebutuhan dasar air minum ini terpenuhi. Ini adalah kerja kolaboratif antara Pemerintah Provinsi dengan Undip dan pemerintah kabupaten/kota di wilayah kita," katanya.

Gubernur menegaskan, kebutuhan air bersih merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengintervensi penurunan angka kemiskinan dan stunting.

"Jadi, (untuk menekan dampak) kemiskinan, di antaranya (masyarakat harus) sehat dan kebutuhan dasarnya terpenuhi. (Desalinasi) adalah salah satu faktor, agar kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah kita terjamin," tegasnya.

Acara peresmian desalinasi di Desa Banjarsari juga dihadiri oleh Ketua TP PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah, dan Bupati Demak, Eisti'anah.


Bagikan :

DEMAK — Guna meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat, pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi hal yang sangat penting. Maka dari itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya memenuhi kebutuhan air bersih, salah satunya melalui program desalinasi.

Adapun, desalinasi adalah teknologi yang mampu mengolah air payau menjadi air tawar layak minum. Dengan adanya teknologi tersebut, para warga tidak perlu khawatir terkait dengan kebutuhan air bersih dan sehat yang dikonsumsinya.

Terbaru, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, bersama Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Suharnomo, meresmikan program desalinasi di Desa Banjarsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak pada Selasa, 30 September 2025.

Salah seorang warga, Siti Nurjanah, mengaku sangat terbantu dengan adanya program tersebut. Ia dan warga lain tidak perlu jauh-jauh membeli air ke luar desa. bahkan, harga air desalinasi pun jauh lebih murah dibandingkan air galon yang dibeli di luar.

"Ini sangat membantu buat masyarakat. Harganya juga tidak terlalu tinggi, rasanya nikmat banget. Dulu susah dapat air bersih untuk minum, harus beli di luar. Sekarang lebih dekat," ucapnya saat ditemui di lokasi peresmian.

Saat ini, pengelolaan program desalinasi di Desa Banjarsari diserahkan kepada Kelompok Pengelola Sarana Prasarana Air Minum Sanitasi (KPSPAMS) Banjarsari Bergerak. Pengelolaanya dimulai dari proses produksi hingga distribusi air bersih ke masyarakat.

Ketua KPSPAMS Banjarsari Bergerak, Ahmad Bahrudin, mengatakan bahwa operasional program desalinasi sudah dimulai pada Agustus 2025. Selama satu bulan, para warga bisa mengakses air tanpa dipungut biaya atau gratis. Sementara mulai dari tanggal 8 September 2025, warga hanya membayar sekitar Rp3.000-Rp4.000 per galon. Nantinya, penghasilan yang didapat akan digunakan untuk biaya operasional, seperti perawatan dan tagihan listrik.

Desalinasi dibangun di Dukuh Brangsong, Desa Banjarsari, karena cukup dekat dengan embung Banjarsari yang menjadi sumber air program tersebut. 

Ahmad mengatakan, uji laboratorium juga sudah dilakukan pada air dari proses desalinasi. Hasilnya, air tersebut layak untuk dikonsumsi.

"Tiga hari lalu, hasil laboratorium menjelaskan kalau air ini sangat bagus," jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, desalinasi di Desa Banjarsari merupakan 1 dari 4 titik yang disiapkan oleh Pemprov Jateng dan Undip. Selain di Demak, 3 daerah lainnya ada di Kabupaten Brebes, Kota Pekalongan, dan Pati.

Terkait kebutuhan listrik desalinasi, ia sudah memerintahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jateng serta dinas terkait lainnya, untuk memberikan bantuan solar panel guna meringankan beban biaya tagihan listrik.

"Di Demak ini bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat hampir 2000 warga atau satu desa. Harapannya, kesehatan masyarakat terjamin dan kebutuhan dasar air minum ini terpenuhi. Ini adalah kerja kolaboratif antara Pemerintah Provinsi dengan Undip dan pemerintah kabupaten/kota di wilayah kita," katanya.

Gubernur menegaskan, kebutuhan air bersih merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengintervensi penurunan angka kemiskinan dan stunting.

"Jadi, (untuk menekan dampak) kemiskinan, di antaranya (masyarakat harus) sehat dan kebutuhan dasarnya terpenuhi. (Desalinasi) adalah salah satu faktor, agar kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah kita terjamin," tegasnya.

Acara peresmian desalinasi di Desa Banjarsari juga dihadiri oleh Ketua TP PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah, dan Bupati Demak, Eisti'anah.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu