Follow Us :              

Jadi Contoh Desa Mandiri Kelola Sampah, Gubernur Resmikan Pendirian TPSTT Bumi Hijau di Desa Tersono Batang 

  06 October 2025  |   10:00:00  |   dibaca : 1093 
Kategori :
Bagikan :


Jadi Contoh Desa Mandiri Kelola Sampah, Gubernur Resmikan Pendirian TPSTT Bumi Hijau di Desa Tersono Batang 

06 October 2025 | 10:00:00 | dibaca : 1093
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

BATANG - Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K.meresmikan pendirian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu dan Terintegrasi (TPSTT) “Bumi Hijau” di Desa Tersono pada Senin, 6 Oktober 2025. Dengan peresmian itu diharapkan Desa Tersono, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang bisa menjadi percontohan desa mandiri pengelolaan sampah di Jawa Tengah. 

Gubernur mengapresiasi inovasi warga Tersono yang berhasil mengubah persoalan sampah menjadi sebuah peluang. Ia mengungkapkan, langkah yang dilakukan Desa Tersono menjadi contoh pengelolaan sampah di tingkat hulu.

“Kalau semua desa melakukan hal yang sama, sampah tidak akan jadi beban besar di TPA. Kita tahu anggaran sampah terbatas, jadi desa harus kreatif dan mandiri, seperti Tersono,” katanya.

Ia meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jateng untuk menjadikan Desa Tersono sebagai model percontohan, serta mendorong desa dan kecamatan lain belajar langsung ke desa tersebut.

“Indonesia pada 2029 ditargetkan bebas TPA open dumping (tempat pembuangan sampah terbuka). Jateng juga harus bergerak cepat,” ujarnya.

Menurutnya, TPSTT “Bumi Hijau” bukan hanya bisa menjaga kebersihan, melainkan juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“UMKM di sekitar sini ikut tumbuh. Ini bukti bahwa program lingkungan bisa memberi efek ekonomi nyata. Semoga ke depan Batang makin maju, bersih, dan profesional dalam pengelolaan lingkungan,” ucap Gubernur.

Sebagai informasi, TPSTT Bumi Hijau yang berdiri di atas lahan seluas 7.000 m2 itu memfasilitasi pengelolaan sampah di 7 desa di Kecamatan Tersono serta tiga pasar utama, yakni Pasar Tersono, Limpung, dan Bawang.

Dalam proses pengelolaannya, sampah organik diolah menjadi pakan maggot dan pupuk kompos dalam waktu 12-15 hari. Sementara sampah plastik dihancurkan menggunakan insenerator mini berbasis teknologi hidrogen yang hemat bahan bakar.

Kepala Desa Tersono, Abdul Mukti, mengatakan, program pengelolaan sampah ini sudah berjalan selama 2-3 bulan. Dalam prosesnya, warga dilibatkan langsung untuk memilah dan mengumpulkan sampah dari rumahnya masing-masing.

“Setiap rumah iuran Rp15.000 per bulan. Petugas mengambil sampah dua kali seminggu. Sosialisasinya dibantu mahasiswa KKN juga, jadi masyarakat mulai terbiasa memilah sampah organik dan anorganik,” ujarnya.

Menurut Mukti, kunci keberhasilan program ini adalah kemauan dan partisipasi warga dalam mengelola sampahnya secara mandiri.

Seorang warga Desa Tersono, Tin, mengaku antusias menyambut adanya TPSTT tersebut. Sebab, sampah yang menjadi masalah bagi warga, kini bisa diolah dengan baik.

“Kami jadi lebih sadar pentingnya memilah sampah. Iurannya cuma Rp15 ribu, tetapi manfaatnya besar—lingkungan jadi bersih, udara lebih segar,” ujarnya.

Ia menambahkan, nantinya sampah organik juga akan diolah menjadi pelet atau pupuk, sedangkan sampah plastik bisa dijadikan produk kreatif, seperti vas bunga atau sandal.

Bupati Batang, Faiz Kurniawan, mengatakan, TPSTT “Bumi Hijau” Tersono menjadi model percontohan pengelolaan sampah di tingkat desa. Maka dari itu, ia mengapresiasi peran aktif masyarakat yang menginisiasi pengelolaan sampah secara mandiri, tanpa menunggu program dari kabupaten.

“Kami berharap, desa-desa mampu mengalokasikan anggaran untuk mengelola sampah di tingkatnya masing-masing,” ujarnya.

Ia menjelaskan, langkah ini menjadi hal yang penting untuk dilakukan, mengingat pertumbuhan industri di Batang juga kian meningkat.

“Tahun 2027-2028 nanti ada sekitar 32 pabrik di Batang Industrial Park, yang beroperasi penuh dengan serapan tenaga kerja 100-125 ribu orang. Artinya, akan ada migrasi besar dan potensi timbulan sampah meningkat. Kalau dari sekarang tidak disiapkan, kita bisa kewalahan,” jelasnya.

Faiz menyebut, dukungan dari pemerintah provinsi dan kementerian sudah mulai terwujud, salah satunya melalui rencana pembangunan TPST Regional di Gringsing, Batang dengan kapasitas 100 ton sampah per hari.

Ia berharap, kehadiran Gubernur di Desa Tersono memberi semangat bagi desa lain untuk memprioritaskan pengelolaan sampah di daerahnya masing-masing.

“Tersono bisa jadi role model untuk seluruh Batang,” tegasnya.


Bagikan :

BATANG - Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K.meresmikan pendirian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu dan Terintegrasi (TPSTT) “Bumi Hijau” di Desa Tersono pada Senin, 6 Oktober 2025. Dengan peresmian itu diharapkan Desa Tersono, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang bisa menjadi percontohan desa mandiri pengelolaan sampah di Jawa Tengah. 

Gubernur mengapresiasi inovasi warga Tersono yang berhasil mengubah persoalan sampah menjadi sebuah peluang. Ia mengungkapkan, langkah yang dilakukan Desa Tersono menjadi contoh pengelolaan sampah di tingkat hulu.

“Kalau semua desa melakukan hal yang sama, sampah tidak akan jadi beban besar di TPA. Kita tahu anggaran sampah terbatas, jadi desa harus kreatif dan mandiri, seperti Tersono,” katanya.

Ia meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jateng untuk menjadikan Desa Tersono sebagai model percontohan, serta mendorong desa dan kecamatan lain belajar langsung ke desa tersebut.

“Indonesia pada 2029 ditargetkan bebas TPA open dumping (tempat pembuangan sampah terbuka). Jateng juga harus bergerak cepat,” ujarnya.

Menurutnya, TPSTT “Bumi Hijau” bukan hanya bisa menjaga kebersihan, melainkan juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“UMKM di sekitar sini ikut tumbuh. Ini bukti bahwa program lingkungan bisa memberi efek ekonomi nyata. Semoga ke depan Batang makin maju, bersih, dan profesional dalam pengelolaan lingkungan,” ucap Gubernur.

Sebagai informasi, TPSTT Bumi Hijau yang berdiri di atas lahan seluas 7.000 m2 itu memfasilitasi pengelolaan sampah di 7 desa di Kecamatan Tersono serta tiga pasar utama, yakni Pasar Tersono, Limpung, dan Bawang.

Dalam proses pengelolaannya, sampah organik diolah menjadi pakan maggot dan pupuk kompos dalam waktu 12-15 hari. Sementara sampah plastik dihancurkan menggunakan insenerator mini berbasis teknologi hidrogen yang hemat bahan bakar.

Kepala Desa Tersono, Abdul Mukti, mengatakan, program pengelolaan sampah ini sudah berjalan selama 2-3 bulan. Dalam prosesnya, warga dilibatkan langsung untuk memilah dan mengumpulkan sampah dari rumahnya masing-masing.

“Setiap rumah iuran Rp15.000 per bulan. Petugas mengambil sampah dua kali seminggu. Sosialisasinya dibantu mahasiswa KKN juga, jadi masyarakat mulai terbiasa memilah sampah organik dan anorganik,” ujarnya.

Menurut Mukti, kunci keberhasilan program ini adalah kemauan dan partisipasi warga dalam mengelola sampahnya secara mandiri.

Seorang warga Desa Tersono, Tin, mengaku antusias menyambut adanya TPSTT tersebut. Sebab, sampah yang menjadi masalah bagi warga, kini bisa diolah dengan baik.

“Kami jadi lebih sadar pentingnya memilah sampah. Iurannya cuma Rp15 ribu, tetapi manfaatnya besar—lingkungan jadi bersih, udara lebih segar,” ujarnya.

Ia menambahkan, nantinya sampah organik juga akan diolah menjadi pelet atau pupuk, sedangkan sampah plastik bisa dijadikan produk kreatif, seperti vas bunga atau sandal.

Bupati Batang, Faiz Kurniawan, mengatakan, TPSTT “Bumi Hijau” Tersono menjadi model percontohan pengelolaan sampah di tingkat desa. Maka dari itu, ia mengapresiasi peran aktif masyarakat yang menginisiasi pengelolaan sampah secara mandiri, tanpa menunggu program dari kabupaten.

“Kami berharap, desa-desa mampu mengalokasikan anggaran untuk mengelola sampah di tingkatnya masing-masing,” ujarnya.

Ia menjelaskan, langkah ini menjadi hal yang penting untuk dilakukan, mengingat pertumbuhan industri di Batang juga kian meningkat.

“Tahun 2027-2028 nanti ada sekitar 32 pabrik di Batang Industrial Park, yang beroperasi penuh dengan serapan tenaga kerja 100-125 ribu orang. Artinya, akan ada migrasi besar dan potensi timbulan sampah meningkat. Kalau dari sekarang tidak disiapkan, kita bisa kewalahan,” jelasnya.

Faiz menyebut, dukungan dari pemerintah provinsi dan kementerian sudah mulai terwujud, salah satunya melalui rencana pembangunan TPST Regional di Gringsing, Batang dengan kapasitas 100 ton sampah per hari.

Ia berharap, kehadiran Gubernur di Desa Tersono memberi semangat bagi desa lain untuk memprioritaskan pengelolaan sampah di daerahnya masing-masing.

“Tersono bisa jadi role model untuk seluruh Batang,” tegasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu