Follow Us :              

Tuntaskan Persoalan Sampah, Wagub Dorong Percepatan Pemanfaatan RDF

  23 February 2026  |   12:00:00  |   dibaca : 357 
Kategori :
Bagikan :

Tuntaskan Persoalan Sampah, Wagub Dorong Percepatan Pemanfaatan RDF

23 February 2026 | 12:00:00 | dibaca : 357
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Tuntaskan Persoalan Sampah, Wagub Dorong Percepatan Pemanfaatan RDF
Tuntaskan Persoalan Sampah, Wagub Dorong Percepatan Pemanfaatan RDF
Tuntaskan Persoalan Sampah, Wagub Dorong Percepatan Pemanfaatan RDF
Tuntaskan Persoalan Sampah, Wagub Dorong Percepatan Pemanfaatan RDF
Tuntaskan Persoalan Sampah, Wagub Dorong Percepatan Pemanfaatan RDF

Foto : Adit (Humas Jateng)

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mendorong percepatan pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), sebagai solusi konkret penanganan sampah sekaligus pemanfaatan sumber energi terbarukan di wilayahnya.

Sebagai informasi, Refuse Derived Fuel (RDF) adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari pengolahan sampah, terutama sampah kering, seperti plastik, kertas, kain, dan kemasan yang mudah terbakar.

Hal itu disampaikan Wagub saat beraudiensi dengan Direksi PT Semen Gresik di Ruang Kerja Kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang pada Senin, 23 Februari 2026. 

Ia menyampaikan, langkah ini menjadi upaya untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah yang menjadi atensi Presiden RI, Prabowo Subianto.

Oleh karena itu, Wagub menekankan pentingnya peran sektor industri, khususnya PT Semen Gresik, dalam menyerap hasil olahan sampah atau RDF dari tempat pembuangan sampah di kabupaten/kota. 

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT Semen Gresik, Gatot Mardiana, mengungkapkan, pihaknya tengah berupaya mempercepat kesiapan infrastruktur untuk menyerap RDF. 

Saat ini, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan 6 kabupaten/kota di Jateng, dan Kabupaten Rembang menjadi proyek percontohan yang paling progresif.

"Secara teknis kami sudah siap. Untuk (pengolahan sampah di) wilayah Rembang, jika tidak ada kendala, produksi (RDF) akan dimulai pada April 2026, dan ditargetkan mulai masuk ke pasar (pabrik) pada awal 2027," ucap Gatot. 

Ia mengungkapkan, tantangan utama yang dihadapi saat ini terkait dengan sinkronisasi kesiapan antara pihak industri dan pemerintah kabupaten/kota, dalam mengolah sampah menjadi bahan bakar yang sesuai dengan standar industri.

Gatot mengatakan, pemanfaatan sampah sebagai pengganti bahan bakar fosil bukan hanya mengejar target administratif, melainkan bagian dari komitmen besar perusahaan dalam menurunkan emisi karbondioksida (CO2). 

"Kami sudah melakukan investasi untuk mendukung pemakaian RDF itu sendiri," pungkasnya.


Bagikan :

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mendorong percepatan pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), sebagai solusi konkret penanganan sampah sekaligus pemanfaatan sumber energi terbarukan di wilayahnya.

Sebagai informasi, Refuse Derived Fuel (RDF) adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari pengolahan sampah, terutama sampah kering, seperti plastik, kertas, kain, dan kemasan yang mudah terbakar.

Hal itu disampaikan Wagub saat beraudiensi dengan Direksi PT Semen Gresik di Ruang Kerja Kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang pada Senin, 23 Februari 2026. 

Ia menyampaikan, langkah ini menjadi upaya untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah yang menjadi atensi Presiden RI, Prabowo Subianto.

Oleh karena itu, Wagub menekankan pentingnya peran sektor industri, khususnya PT Semen Gresik, dalam menyerap hasil olahan sampah atau RDF dari tempat pembuangan sampah di kabupaten/kota. 

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT Semen Gresik, Gatot Mardiana, mengungkapkan, pihaknya tengah berupaya mempercepat kesiapan infrastruktur untuk menyerap RDF. 

Saat ini, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan 6 kabupaten/kota di Jateng, dan Kabupaten Rembang menjadi proyek percontohan yang paling progresif.

"Secara teknis kami sudah siap. Untuk (pengolahan sampah di) wilayah Rembang, jika tidak ada kendala, produksi (RDF) akan dimulai pada April 2026, dan ditargetkan mulai masuk ke pasar (pabrik) pada awal 2027," ucap Gatot. 

Ia mengungkapkan, tantangan utama yang dihadapi saat ini terkait dengan sinkronisasi kesiapan antara pihak industri dan pemerintah kabupaten/kota, dalam mengolah sampah menjadi bahan bakar yang sesuai dengan standar industri.

Gatot mengatakan, pemanfaatan sampah sebagai pengganti bahan bakar fosil bukan hanya mengejar target administratif, melainkan bagian dari komitmen besar perusahaan dalam menurunkan emisi karbondioksida (CO2). 

"Kami sudah melakukan investasi untuk mendukung pemakaian RDF itu sendiri," pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu