Follow Us :              

Geliat Ekonomi Jateng saat Mudik Lebaran: Omzet Pedagang Melonjak, Kunjungan Wisatawan Menanjak

  26 March 2026  |   00:00:00  |   dibaca : 218 
Kategori :
Bagikan :


Geliat Ekonomi Jateng saat Mudik Lebaran: Omzet Pedagang Melonjak, Kunjungan Wisatawan Menanjak

26 March 2026 | 00:00:00 | dibaca : 218
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Adit (Humas Jateng)

SALATIGA – Arus mudik dan balik Lebaran 2026 di Jawa Tengah tak sekadar menghadirkan cerita rindu di kampung halaman. Di sepanjang jalur strategis Jateng, denyut ekonomi justru berdetak kian kencang. Dari warung makan sederhana hingga destinasi wisata unggulan, semuanya ikut “kecipratan berkah” lonjakan mobilitas jutaan pemudik.

Jawa Tengah yang kerap disebut sebagai titik temu sekaligus titik lelah perjalanan lintas Jawa, kembali membuktikan diri sebagai ruang persinggahan yang produktif, tidak hanya bagi para pelintas, tetapi juga para pelaku usaha lokal.

Bagi Sapta Aprilia (40), pengelola Rumah Makan Ayam Goreng Bu Toha cabang Tuntang, Kabupaten Semarang, momentum Lebaran tahun ini menjadi gambaran nyata bagaimana perputaran uang meningkat drastis. 

Berlokasi di jalur strategis Exit Tol Salatiga (Jalan Tingkir Raya), rumah makannya nyaris tak pernah sepi sejak arus balik dimulai.

“Peningkatannya bisa dibilang drastis, ada sekitar 100 persen,” ungkap Sapta saat ditemui pada Kamis, 26 Maret 2026.

Deretan kendaraan berpelat nomor luar daerah yang memenuhi area parkir menjadi penanda kuat tingginya mobilitas pemudik. Dengan menu sederhana, seperti ayam goreng, bebek, hingga tahu tempe, tempat makan ini tetap menjadi pilihan favorit.

Bahkan untuk menjaga kualitas layanan di tengah lonjakan pengunjung, Sapta harus menambah tenaga kerja harian.

“Tambah dua pegawai harian. (Pegawai) tetap ada tiga,” ujarnya.

Fenomena serupa juga dirasakan oleh Harnanto, pedagang mie ayam dan bakso di Jalan Raya Semarang–Solo KM 30, tepatnya di Tuntang, Kabupaten Semarang. 

Sejak H+1 Lebaran, intensitas pembeli meningkat tajam hingga membuatnya kewalahan melayani pesanan.

“Hari biasa habis 5 sampai 7 kilogram mie, musim Lebaran bisa sampai 25 kilogram. Kalau bakso saya tidak hitung detail, karena stoknya banyak, habis ambil lagi, habis ambil lagi," imbuhnya.  

Sementara itu, sektor kafe dan restoran menunjukkan pola yang sedikit berbeda. Aziz, Manager Reinz Cafe dan Resto di Demak, menyebut lonjakan pengunjung lebih banyak didorong oleh reservasi kelompok.

“Kalau kami sistemnya sudah reservasi dari jauh hari untuk acara halalbihalal atau reuni keluarga. Alhamdulillah, jadwal kami penuh sampai minggu depan,” ujarnya.

Tak hanya sektor kuliner, geliat ekonomi juga tampak di sektor pariwisata. Selama libur Lebaran 2026, sejumlah objek wisata di Jateng dipadati pengunjung.

Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah mencatat, kunjungan wisatawan mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Kepala Disbudparekraf Jateng, Hanung Triyono, menyebut bahwa total kunjungan wisatawan pada periode H-7 (13 Maret 2026) hingga H+4 Lebaran (25 Maret 2026) mencapai 687.470 kunjungan.

“Angka tersebut naik 5,25% dibandingkan periode yang sama pada 2025, sebanyak 653.178 kunjungan,” ucapnya.

Ia menambahkan, peningkatan ini terlihat di sejumlah destinasi unggulan yang menjadi titik pantauan, antara lain Candi Borobudur, Owabong, Baturraden, Guci, Pantai Menganti, Kota Lama Semarang, Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijaga, dan Candi Prambanan.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., sejak jauh-jauh hari sudah menekankan pentingnya menangkap peluang dari pergerakan jutaan manusia selama arus mudik dan balik Lebaran.

“Jawa Tengah itu sentralnya Jawa. Kami siapkan infrastruktur hingga UMKM di tempat strategis, agar kebutuhan dasar pemudik terlayani. Silakan belanjakan uang saku di Jawa Tengah,” jelasnya.

Gubernur berharap, pergerakan masyarakat yang mudik dapat meningkatkan perputaran uang dan perekonomian di wilayahnya. Menurutnya, momentum mudik harus bisa ditangkap sebagai peluang untuk menumbuhkan perekonomian di wilayahnya masing-masing.


Bagikan :

SALATIGA – Arus mudik dan balik Lebaran 2026 di Jawa Tengah tak sekadar menghadirkan cerita rindu di kampung halaman. Di sepanjang jalur strategis Jateng, denyut ekonomi justru berdetak kian kencang. Dari warung makan sederhana hingga destinasi wisata unggulan, semuanya ikut “kecipratan berkah” lonjakan mobilitas jutaan pemudik.

Jawa Tengah yang kerap disebut sebagai titik temu sekaligus titik lelah perjalanan lintas Jawa, kembali membuktikan diri sebagai ruang persinggahan yang produktif, tidak hanya bagi para pelintas, tetapi juga para pelaku usaha lokal.

Bagi Sapta Aprilia (40), pengelola Rumah Makan Ayam Goreng Bu Toha cabang Tuntang, Kabupaten Semarang, momentum Lebaran tahun ini menjadi gambaran nyata bagaimana perputaran uang meningkat drastis. 

Berlokasi di jalur strategis Exit Tol Salatiga (Jalan Tingkir Raya), rumah makannya nyaris tak pernah sepi sejak arus balik dimulai.

“Peningkatannya bisa dibilang drastis, ada sekitar 100 persen,” ungkap Sapta saat ditemui pada Kamis, 26 Maret 2026.

Deretan kendaraan berpelat nomor luar daerah yang memenuhi area parkir menjadi penanda kuat tingginya mobilitas pemudik. Dengan menu sederhana, seperti ayam goreng, bebek, hingga tahu tempe, tempat makan ini tetap menjadi pilihan favorit.

Bahkan untuk menjaga kualitas layanan di tengah lonjakan pengunjung, Sapta harus menambah tenaga kerja harian.

“Tambah dua pegawai harian. (Pegawai) tetap ada tiga,” ujarnya.

Fenomena serupa juga dirasakan oleh Harnanto, pedagang mie ayam dan bakso di Jalan Raya Semarang–Solo KM 30, tepatnya di Tuntang, Kabupaten Semarang. 

Sejak H+1 Lebaran, intensitas pembeli meningkat tajam hingga membuatnya kewalahan melayani pesanan.

“Hari biasa habis 5 sampai 7 kilogram mie, musim Lebaran bisa sampai 25 kilogram. Kalau bakso saya tidak hitung detail, karena stoknya banyak, habis ambil lagi, habis ambil lagi," imbuhnya.  

Sementara itu, sektor kafe dan restoran menunjukkan pola yang sedikit berbeda. Aziz, Manager Reinz Cafe dan Resto di Demak, menyebut lonjakan pengunjung lebih banyak didorong oleh reservasi kelompok.

“Kalau kami sistemnya sudah reservasi dari jauh hari untuk acara halalbihalal atau reuni keluarga. Alhamdulillah, jadwal kami penuh sampai minggu depan,” ujarnya.

Tak hanya sektor kuliner, geliat ekonomi juga tampak di sektor pariwisata. Selama libur Lebaran 2026, sejumlah objek wisata di Jateng dipadati pengunjung.

Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah mencatat, kunjungan wisatawan mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Kepala Disbudparekraf Jateng, Hanung Triyono, menyebut bahwa total kunjungan wisatawan pada periode H-7 (13 Maret 2026) hingga H+4 Lebaran (25 Maret 2026) mencapai 687.470 kunjungan.

“Angka tersebut naik 5,25% dibandingkan periode yang sama pada 2025, sebanyak 653.178 kunjungan,” ucapnya.

Ia menambahkan, peningkatan ini terlihat di sejumlah destinasi unggulan yang menjadi titik pantauan, antara lain Candi Borobudur, Owabong, Baturraden, Guci, Pantai Menganti, Kota Lama Semarang, Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijaga, dan Candi Prambanan.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., sejak jauh-jauh hari sudah menekankan pentingnya menangkap peluang dari pergerakan jutaan manusia selama arus mudik dan balik Lebaran.

“Jawa Tengah itu sentralnya Jawa. Kami siapkan infrastruktur hingga UMKM di tempat strategis, agar kebutuhan dasar pemudik terlayani. Silakan belanjakan uang saku di Jawa Tengah,” jelasnya.

Gubernur berharap, pergerakan masyarakat yang mudik dapat meningkatkan perputaran uang dan perekonomian di wilayahnya. Menurutnya, momentum mudik harus bisa ditangkap sebagai peluang untuk menumbuhkan perekonomian di wilayahnya masing-masing.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu