Follow Us :              

Antisipasi Kemarau, Gubernur Minta Cek Seluruh Embung dan Saluran Irigasi 

  08 April 2026  |   10:00:00  |   dibaca : 189 
Kategori :
Bagikan :


Antisipasi Kemarau, Gubernur Minta Cek Seluruh Embung dan Saluran Irigasi 

08 April 2026 | 10:00:00 | dibaca : 189
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

KARANGANYAR — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., meminta jajarannya untuk mengecek seluruh embung dan saluran irigasi, guna mengantisipasi musim kemarau yang diprediksi akan dimulai pada April 2026. 

Ia ingin memastikan kebutuhan air baku dan irigasi persawahan di wilayahnya terpenuhi selama musim kemarau, sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga.

"Saya ingin betul-betul memastikan, cek dan ricek embung yang ada. Embung merupakan salah satu tempat untuk memenuhi kebutuhan air baku maupun persawahan,” ucap Gubernur saat mengecek Embung Alastuwo di Desa Wonolepo, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar pada Rabu, 7 April 2026.

Embung Alastuwo dibangun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2017. Kapasitas tampungnya sekitar 6.723,30 m³. Embung tersebut menjadi sumber air baku bagi 186 kartu keluarga (KK) serta mengairi lahan pertanian seluas 35 hektare pada musim kemarau.

Gubernur menjelaskan, mulai dari tahun 2025 hingga awal 2026, setidaknya sudah ada 12 embung baru yang dibangun di Jateng. Namun, jumlah itu dirasa masih belum cukup, sehingga ia meminta agar daerah-daerah yang membutuhkan embung didata agar bisa segera ditindaklanjuti.

"Saya sudah wanti-wanti, nitip kepada bupati dan wali kota, kalau masih ada masyarakat yang di tempatnya butuh embung, segera diusulkan dan akan dianggarkan (pembangunannya)," ucapnya didampingi Bupati Karanganyar, Rober Christanto.

Gubernur melakukan tinjauan untuk memastikan bahwa embung-embung yang sudah ada, benar-benar berfungsi secara optimal selama musim kemarau, seperti Embung Alastuwo dan saluran irigasi yang mengarah ke sawah-sawah petani. 

Sebab, keberadaan embung akan membantu menggenjot produktivitas pangan, terutama padi untuk mencapai swasembada pangan. Apalagi pada tahun 2026, target produksi padi sebesar 10,55 juta ton gabah kering giling (GKG). 

"Ini sangat membantu, karena Provinsi Jawa Tengah berharap swasembada pangan bisa tercapai. Tahun kemarin kita produksi hampir 9,7 juta ton atau memenuhi 15,6 persen kebutuhan padi nasional. Jawa Tengah nomor dua dan kami ingin nanti bisa nomor satu," tegasnya.

Guna mengantisipasi musim kemarau yang diperkirakan akan lebih kering dari sebelumnya, Gubernur telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Salah satunya dengan Kodam IV/Diponegoro yang memiliki program pipanisasi dan sumurisasi.

Selanjutnya, koordinasi dengan kabupaten/kota juga akan dilakukan untuk memetakan daerah mana yang perlu dilakukan pipanisasi dan sumurisasi pada saat kemarau.

Salah seorang petani di Kecamatan Tasikmadu, Admin, mengaku bahwa Embung Alastuwo sangat membantu petani saat musim tanam kedua dan ketiga. Sebab, dua musim tanam tersebut biasanya berada pada musim kemarau, sehingga pemenuhan kebutuhan air menjadi hal yang sangat penting.


Bagikan :

KARANGANYAR — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., meminta jajarannya untuk mengecek seluruh embung dan saluran irigasi, guna mengantisipasi musim kemarau yang diprediksi akan dimulai pada April 2026. 

Ia ingin memastikan kebutuhan air baku dan irigasi persawahan di wilayahnya terpenuhi selama musim kemarau, sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga.

"Saya ingin betul-betul memastikan, cek dan ricek embung yang ada. Embung merupakan salah satu tempat untuk memenuhi kebutuhan air baku maupun persawahan,” ucap Gubernur saat mengecek Embung Alastuwo di Desa Wonolepo, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar pada Rabu, 7 April 2026.

Embung Alastuwo dibangun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2017. Kapasitas tampungnya sekitar 6.723,30 m³. Embung tersebut menjadi sumber air baku bagi 186 kartu keluarga (KK) serta mengairi lahan pertanian seluas 35 hektare pada musim kemarau.

Gubernur menjelaskan, mulai dari tahun 2025 hingga awal 2026, setidaknya sudah ada 12 embung baru yang dibangun di Jateng. Namun, jumlah itu dirasa masih belum cukup, sehingga ia meminta agar daerah-daerah yang membutuhkan embung didata agar bisa segera ditindaklanjuti.

"Saya sudah wanti-wanti, nitip kepada bupati dan wali kota, kalau masih ada masyarakat yang di tempatnya butuh embung, segera diusulkan dan akan dianggarkan (pembangunannya)," ucapnya didampingi Bupati Karanganyar, Rober Christanto.

Gubernur melakukan tinjauan untuk memastikan bahwa embung-embung yang sudah ada, benar-benar berfungsi secara optimal selama musim kemarau, seperti Embung Alastuwo dan saluran irigasi yang mengarah ke sawah-sawah petani. 

Sebab, keberadaan embung akan membantu menggenjot produktivitas pangan, terutama padi untuk mencapai swasembada pangan. Apalagi pada tahun 2026, target produksi padi sebesar 10,55 juta ton gabah kering giling (GKG). 

"Ini sangat membantu, karena Provinsi Jawa Tengah berharap swasembada pangan bisa tercapai. Tahun kemarin kita produksi hampir 9,7 juta ton atau memenuhi 15,6 persen kebutuhan padi nasional. Jawa Tengah nomor dua dan kami ingin nanti bisa nomor satu," tegasnya.

Guna mengantisipasi musim kemarau yang diperkirakan akan lebih kering dari sebelumnya, Gubernur telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Salah satunya dengan Kodam IV/Diponegoro yang memiliki program pipanisasi dan sumurisasi.

Selanjutnya, koordinasi dengan kabupaten/kota juga akan dilakukan untuk memetakan daerah mana yang perlu dilakukan pipanisasi dan sumurisasi pada saat kemarau.

Salah seorang petani di Kecamatan Tasikmadu, Admin, mengaku bahwa Embung Alastuwo sangat membantu petani saat musim tanam kedua dan ketiga. Sebab, dua musim tanam tersebut biasanya berada pada musim kemarau, sehingga pemenuhan kebutuhan air menjadi hal yang sangat penting.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu