Follow Us :              

Suspek Campak Capai 2.188 Kasus, Pemprov Jateng Galakkan Imunisasi dan Deteksi Dini

  08 April 2026  |   11:30:00  |   dibaca : 737 
Kategori :
Bagikan :


Suspek Campak Capai 2.188 Kasus, Pemprov Jateng Galakkan Imunisasi dan Deteksi Dini

08 April 2026 | 11:30:00 | dibaca : 737
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

KLATEN — Suspek campak di Jawa Tengah per Januari–7 April 2026 mencapai 2.188 kasus. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggalakkan imunisasi dan deteksi dini di wilayahnya. 

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, jumlah suspek campak di antaranya tersebar di Kabupaten Kudus sebanyak 501 kasus, Brebes 202 kasus, Cilacap 119 kasus, Pati 72 kasus, Klaten 54 kasus, dan daerah-daerah lainnya. 

Adapun dari jumlah tersebut, ada sebanyak 144 kasus positif campak dan 18 kasus rubella yang sudah dilengkapi pemeriksaan laboratorium. Sebaran kasus positif campak tertinggi ada di Kabupaten Cilacap sebanyak 21 kasus, Banyumas 20 kasus, Pati 20 kasus, serta Klaten 6 kasus campak dan 1 rubella.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jateng, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menyatakan bahwa penyakit campak menjadi salah satu prioritas penanganan bersama antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

"Kita di Klaten untuk mengecek vaksin campak yang sekarang menjadi atensi di Jawa Tengah. Beberapa kabupaten/kota sudah kita lakukan deteksi dini,” ucapnya saat meninjau imunisasi campak di Puskesmas Klaten Tengah, Kabupaten Klaten pada Rabu, 8 April 2026.

Ia mengatakan, upaya untuk menggalakkan imunisasi campak dilakukan secara serentak bersama dinas kesehatan kabupaten/kota. Tujuannya agar kasus campak tidak semakin menyebar atau mewabah.

Di tengah tinjauan itu, Gubernur berpesan kepada masyarakat yang memiliki anak agar segera melengkapi vaksinnya. Masyarakat juga diminta lebih memperhatikan gejala-gejala campak yang ditemukan pada anak, termasuk melakukan upaya-upaya pencegahan. Misalnya, apabila menemukan ciri-ciri/gejala ruam merah dan demam, maka orang tua diminta segera memeriksakan anaknya ke dokter atau puskesmas terdekat.

"Pencegahan harus masif. (Masyarakat) harus punya pola hidup sehat dan makan-makanan yang bergizi," jelasnya.

Adapun untuk mengakselerasi imunisasi campak, Pemprov Jateng akan mengintegrasikannya dengan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau desa-desa di provinsi ini.

"Campak ini menjadi prioritas utama, termasuk penyakit lain, seperti Tuberkulosis (TBC) yang juga masuk prioritas nasional. Harapannya masyarakat sehat," ucap Gubernur.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Heri Purnomo, mengatakan bahwa penyakit campak rata-rata ditemukan pada anak-anak. Namun, ada juga usia dewasa dengan kondisi imunitas rendah yang bisa terjangkit.

"Pencegahan paling penting imunisasi, terus kalau sakit pakai masker, isolasi, dan jaga jarak. Juga pola hidup sehat dan makanan yang meningkatkan imunitas (sistem kekebalan tubuh)," ujarnya.

Salah seorang warga, Kiki Kumala, mengatakan bahwa kegiatan imunisasi campak sangat penting bagi anak.

"Kita cuma bisa mendukung dan membantu program pemerintah yang ada, apalagi ini gratis atau tidak berbayar. Semoga ke depan lebih baik dalam mendukung kesehatan anak," katanya usai mengantar anaknya imunisasi.


Bagikan :

KLATEN — Suspek campak di Jawa Tengah per Januari–7 April 2026 mencapai 2.188 kasus. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggalakkan imunisasi dan deteksi dini di wilayahnya. 

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, jumlah suspek campak di antaranya tersebar di Kabupaten Kudus sebanyak 501 kasus, Brebes 202 kasus, Cilacap 119 kasus, Pati 72 kasus, Klaten 54 kasus, dan daerah-daerah lainnya. 

Adapun dari jumlah tersebut, ada sebanyak 144 kasus positif campak dan 18 kasus rubella yang sudah dilengkapi pemeriksaan laboratorium. Sebaran kasus positif campak tertinggi ada di Kabupaten Cilacap sebanyak 21 kasus, Banyumas 20 kasus, Pati 20 kasus, serta Klaten 6 kasus campak dan 1 rubella.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jateng, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menyatakan bahwa penyakit campak menjadi salah satu prioritas penanganan bersama antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

"Kita di Klaten untuk mengecek vaksin campak yang sekarang menjadi atensi di Jawa Tengah. Beberapa kabupaten/kota sudah kita lakukan deteksi dini,” ucapnya saat meninjau imunisasi campak di Puskesmas Klaten Tengah, Kabupaten Klaten pada Rabu, 8 April 2026.

Ia mengatakan, upaya untuk menggalakkan imunisasi campak dilakukan secara serentak bersama dinas kesehatan kabupaten/kota. Tujuannya agar kasus campak tidak semakin menyebar atau mewabah.

Di tengah tinjauan itu, Gubernur berpesan kepada masyarakat yang memiliki anak agar segera melengkapi vaksinnya. Masyarakat juga diminta lebih memperhatikan gejala-gejala campak yang ditemukan pada anak, termasuk melakukan upaya-upaya pencegahan. Misalnya, apabila menemukan ciri-ciri/gejala ruam merah dan demam, maka orang tua diminta segera memeriksakan anaknya ke dokter atau puskesmas terdekat.

"Pencegahan harus masif. (Masyarakat) harus punya pola hidup sehat dan makan-makanan yang bergizi," jelasnya.

Adapun untuk mengakselerasi imunisasi campak, Pemprov Jateng akan mengintegrasikannya dengan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau desa-desa di provinsi ini.

"Campak ini menjadi prioritas utama, termasuk penyakit lain, seperti Tuberkulosis (TBC) yang juga masuk prioritas nasional. Harapannya masyarakat sehat," ucap Gubernur.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Heri Purnomo, mengatakan bahwa penyakit campak rata-rata ditemukan pada anak-anak. Namun, ada juga usia dewasa dengan kondisi imunitas rendah yang bisa terjangkit.

"Pencegahan paling penting imunisasi, terus kalau sakit pakai masker, isolasi, dan jaga jarak. Juga pola hidup sehat dan makanan yang meningkatkan imunitas (sistem kekebalan tubuh)," ujarnya.

Salah seorang warga, Kiki Kumala, mengatakan bahwa kegiatan imunisasi campak sangat penting bagi anak.

"Kita cuma bisa mendukung dan membantu program pemerintah yang ada, apalagi ini gratis atau tidak berbayar. Semoga ke depan lebih baik dalam mendukung kesehatan anak," katanya usai mengantar anaknya imunisasi.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu