Foto : Fajar (Humas Jateng)
Foto : Fajar (Humas Jateng)
SRAGEN — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., meninjau program layanan kesehatan hewan keliling (Healing) di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen pada Rabu, 15 April 2026.
Ia meminta, layanan Healing diintensifkan untuk memantau kesehatan hewan ternak, sebagai persiapan menyambut Iduladha pada bulan depan.
"Hari ini sudah kita lakukan pengecekan, karena sebentar lagi Iduladha. Populasi di Jawa Tengah itu 6,3 juta hewan. Artinya besar sekali," ucap Gubernur usai meninjau layanan Healing.
Secara rinci, populasi hewan ternak di Jateng pada 2026 diperkirakan mencapai lebih dari 6,3 juta ekor, terdiri dari sapi potong 1,32 juta ekor; kerbau 23 ribu ekor; kambing 3,7 juta ekor; dan domba 1,33 juta ekor. Perkiraan kebutuhan ternak untuk kurban tahun ini mencapai kurang lebih 593 ribu ekor.
"Kami tidak ingin pada saat Iduladha nanti ditemukan penyakit-penyakit yang bisa menular, apalagi pada sapi, kerbau, kambing, dan ternak lainnya," ucap Gubernur.
Layanan Healing merupakan inovasi dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Provinsi Jawa Tengah, sebagai pendukung pusat kesehatan hewan (puskeswan) yang sudah ada di 35 kabupaten/kota.
Program tersebut bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi para petani dan peternak untuk mendapatkan layanan kesehatan hewan yang menjangkau sampai wilayah perdesaan. Fasilitas yang diberikan, meliputi pengecekan kesehatan terkait penyakit-penyakit hewan, pengobatan, vaksinasi, ultrasonografi (USG) hewan bunting, dan lainnya.
"Gunanya untuk kontrol terkait kesehatan hewan di tempat kita. Dokter-dokter hewan yang kami miliki keliling secara langsung, menjemput bola ke peternak tanpa biaya," ucap Gubernur.
Sejak diluncurkan pada Februari 2026, program Healing terbukti mampu mencegah penyebaran penyakit-penyakit endemik hewan di Jateng. Hingga pertengahan April tahun ini, hanya ada 10 ekor hewan yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK).
"Itu sudah terdeteksi dan sudah diobati," kata Gubernur.
Kepala Distannak Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menambahkan, program Healing diselenggarakan untuk menindaklanjuti laporan dan deteksi dini yang ada di lapangan.
Program ini mirip sistem Spot Stop atau gerakan pengendalian hama pertanian sejak dini pada titik-titik serangan (spot) sebelum menyebar luas dari Kementerian Pertanian. Tak hanya itu, Healing juga menambah program pencegahan penyebaran dan masuknya penyakit hewan dari luar Jateng.
"Di perbatasan, kita punya pos lalu lintas ternak. Ini untuk mengontrol agar hewan yang masuk ke Jawa Tengah tidak membawa penyakit," katanya.
Sementara itu, seorang peternak sapi dan kambing di Desa Krikilan, Agus Kiswoyo, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian dari Pemprov Jateng melalui program Healing. Hal ini menunjukkan kepedulian pemerintah kepada para peternak sapi dan kambing, terutama di wilayah Desa Krikilan.
"Tahun 2024 dan 2025 kemarin, (jumlah hewan terjangkit) PMK tertinggi di sini. Hampir sisa 50% saja hewan ternak, karena penyakit itu. Saya berharap, program ini bisa lebih sering dilakukan," ucap peternak yang berpindah dari penggemukan sapi menjadi pembibitan sapi, sejak terserang PMK beberapa tahun lalu.
SRAGEN — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., meninjau program layanan kesehatan hewan keliling (Healing) di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen pada Rabu, 15 April 2026.
Ia meminta, layanan Healing diintensifkan untuk memantau kesehatan hewan ternak, sebagai persiapan menyambut Iduladha pada bulan depan.
"Hari ini sudah kita lakukan pengecekan, karena sebentar lagi Iduladha. Populasi di Jawa Tengah itu 6,3 juta hewan. Artinya besar sekali," ucap Gubernur usai meninjau layanan Healing.
Secara rinci, populasi hewan ternak di Jateng pada 2026 diperkirakan mencapai lebih dari 6,3 juta ekor, terdiri dari sapi potong 1,32 juta ekor; kerbau 23 ribu ekor; kambing 3,7 juta ekor; dan domba 1,33 juta ekor. Perkiraan kebutuhan ternak untuk kurban tahun ini mencapai kurang lebih 593 ribu ekor.
"Kami tidak ingin pada saat Iduladha nanti ditemukan penyakit-penyakit yang bisa menular, apalagi pada sapi, kerbau, kambing, dan ternak lainnya," ucap Gubernur.
Layanan Healing merupakan inovasi dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Provinsi Jawa Tengah, sebagai pendukung pusat kesehatan hewan (puskeswan) yang sudah ada di 35 kabupaten/kota.
Program tersebut bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi para petani dan peternak untuk mendapatkan layanan kesehatan hewan yang menjangkau sampai wilayah perdesaan. Fasilitas yang diberikan, meliputi pengecekan kesehatan terkait penyakit-penyakit hewan, pengobatan, vaksinasi, ultrasonografi (USG) hewan bunting, dan lainnya.
"Gunanya untuk kontrol terkait kesehatan hewan di tempat kita. Dokter-dokter hewan yang kami miliki keliling secara langsung, menjemput bola ke peternak tanpa biaya," ucap Gubernur.
Sejak diluncurkan pada Februari 2026, program Healing terbukti mampu mencegah penyebaran penyakit-penyakit endemik hewan di Jateng. Hingga pertengahan April tahun ini, hanya ada 10 ekor hewan yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK).
"Itu sudah terdeteksi dan sudah diobati," kata Gubernur.
Kepala Distannak Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menambahkan, program Healing diselenggarakan untuk menindaklanjuti laporan dan deteksi dini yang ada di lapangan.
Program ini mirip sistem Spot Stop atau gerakan pengendalian hama pertanian sejak dini pada titik-titik serangan (spot) sebelum menyebar luas dari Kementerian Pertanian. Tak hanya itu, Healing juga menambah program pencegahan penyebaran dan masuknya penyakit hewan dari luar Jateng.
"Di perbatasan, kita punya pos lalu lintas ternak. Ini untuk mengontrol agar hewan yang masuk ke Jawa Tengah tidak membawa penyakit," katanya.
Sementara itu, seorang peternak sapi dan kambing di Desa Krikilan, Agus Kiswoyo, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian dari Pemprov Jateng melalui program Healing. Hal ini menunjukkan kepedulian pemerintah kepada para peternak sapi dan kambing, terutama di wilayah Desa Krikilan.
"Tahun 2024 dan 2025 kemarin, (jumlah hewan terjangkit) PMK tertinggi di sini. Hampir sisa 50% saja hewan ternak, karena penyakit itu. Saya berharap, program ini bisa lebih sering dilakukan," ucap peternak yang berpindah dari penggemukan sapi menjadi pembibitan sapi, sejak terserang PMK beberapa tahun lalu.
Berita Terbaru