Follow Us :              

TPID Jateng Pertemukan 111 Produsen dan 99 Off Taker, Jaga Inflasi dan Ketersediaan Pangan

  10 June 2026  |   09:00:00  |   dibaca : 355 
Kategori :
Bagikan :


TPID Jateng Pertemukan 111 Produsen dan 99 Off Taker, Jaga Inflasi dan Ketersediaan Pangan

10 June 2026 | 09:00:00 | dibaca : 355
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

SEMARANG — Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah mempertemukan 111 produsen dan 99 off taker (pembeli) bahan pokok penting (bapokting). Langkah ini diambil untuk menjaga inflasi serta memastikan keterjangkauan bahan pangan bagi masyarakat.

Pertemuan dilakukan dalam acara Rapat Koordinasi TPID dan Temu Bisnis Kerja Sama Antardaerah (KAD) Intra Provinsi Jawa Tengah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang pada Rabu, 10 Juni 2026. 

Acara itu juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K.; Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho; dan bupati/wali kota se-Jateng.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jateng mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi langkah penting untuk mengendalikan laju inflasi di wilayahnya. Ia menilai, inflasi di Jateng relatif bagus, sehingga perlu dipertahankan. 

"Harapannya terjadi kerja sama di antara para bupati/wali kota, produsen, dan off taker yang ada, sehingga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok penting bagi masyarakat terkendali, output-nya adalah inflasi di Jawa Tengah bisa terjaga," katanya. 

Ia menyampaikan, Jateng merupakan salah satu lumbung pangan nasional. Maka dari itu, setiap produksi pangan harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Jateng lebih dulu, sebelum memenuhi kebutuhan provinsi lain. Salah satunya dengan mengefektifkan distribusi pangan melalui aglomerasi wilayah maupun kerja sama antardaerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menyampaikan, acara ini merupakan upaya bersama untuk memperkuat ketahanan dan stabilitas harga pangan, sebagaimana dicanangkan dalam Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). 

"Yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari efisiensi distribusi. Kita coba pertemukan para produsen bahan pangan pokok dengan off taker," katanya.

Melalui pertemuan bisnis tersebut, harapannya off taker bisa mengumpulkan bahan-bahan pangan yang diproduksi oleh para produsen untuk dipasarkan di wilayah Jateng. Tujuannya agar harga-harga pangan bisa lebih terkendali.

Dalam temu bisnis itu, komoditas yang paling diminati, meliputi beras sebanyak 30 peminat, minyak goreng 24 peminat, cabai 25 peminat, bawang merah 13 peminat, jagung 4 peminat, dan telur 3 peminat.

Sementara dari sisi produsen, pasokan terbesar berasal dari komoditas cabai yang dihadiri oleh 33 produsen, beras 28 produsen, jagung 25 produsen, bawang merah 20 produsen, telur ayam 4 produsen, dan minyak goreng 2 produsen.

"Mudah-mudahan dari pertemuan antara produsen dan off taker ini, dicapai transaksi atau pun komitmen untuk melakukan kerja sama perdagangan. Untuk mendukung itu, kami juga buatkan database-nya supaya koordinasi dengan TPID bisa lebih optimal," ucap Noor.

Secara kewilayahan, beberapa daerah juga menunjukkan potensi transaksi yang cukup tinggi dari sisi off taker. Tercatat, Kabupaten Klaten dan Kota Semarang memiliki potensi terbesar dengan total 11 potensi kerja sama. Kemudian, Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Kendal, dan Wonosobo masing-masing 7 potensi kerja sama. Adapun dari sisi produsen, Kabupaten Demak dan Grobogan masing-masing memiliki 9 potensi kerja sama, serta Kabupaten Batang dan Brebes masing-masing 7 potensi kerja sama.

Dalam kegiatan itu juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Kalingga Makmur Sejahtera Kabupaten Jepara dengan Gerakan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Manunggal Kabupaten Rembang, untuk komoditas beras. Kemudian, kerja sama antardaerah di wilayah Banyumas Raya untuk komoditas cabai, beras, jagung, bawang merah, dan minyak goreng.


Bagikan :

SEMARANG — Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah mempertemukan 111 produsen dan 99 off taker (pembeli) bahan pokok penting (bapokting). Langkah ini diambil untuk menjaga inflasi serta memastikan keterjangkauan bahan pangan bagi masyarakat.

Pertemuan dilakukan dalam acara Rapat Koordinasi TPID dan Temu Bisnis Kerja Sama Antardaerah (KAD) Intra Provinsi Jawa Tengah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang pada Rabu, 10 Juni 2026. 

Acara itu juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K.; Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho; dan bupati/wali kota se-Jateng.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jateng mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi langkah penting untuk mengendalikan laju inflasi di wilayahnya. Ia menilai, inflasi di Jateng relatif bagus, sehingga perlu dipertahankan. 

"Harapannya terjadi kerja sama di antara para bupati/wali kota, produsen, dan off taker yang ada, sehingga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok penting bagi masyarakat terkendali, output-nya adalah inflasi di Jawa Tengah bisa terjaga," katanya. 

Ia menyampaikan, Jateng merupakan salah satu lumbung pangan nasional. Maka dari itu, setiap produksi pangan harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Jateng lebih dulu, sebelum memenuhi kebutuhan provinsi lain. Salah satunya dengan mengefektifkan distribusi pangan melalui aglomerasi wilayah maupun kerja sama antardaerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menyampaikan, acara ini merupakan upaya bersama untuk memperkuat ketahanan dan stabilitas harga pangan, sebagaimana dicanangkan dalam Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). 

"Yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari efisiensi distribusi. Kita coba pertemukan para produsen bahan pangan pokok dengan off taker," katanya.

Melalui pertemuan bisnis tersebut, harapannya off taker bisa mengumpulkan bahan-bahan pangan yang diproduksi oleh para produsen untuk dipasarkan di wilayah Jateng. Tujuannya agar harga-harga pangan bisa lebih terkendali.

Dalam temu bisnis itu, komoditas yang paling diminati, meliputi beras sebanyak 30 peminat, minyak goreng 24 peminat, cabai 25 peminat, bawang merah 13 peminat, jagung 4 peminat, dan telur 3 peminat.

Sementara dari sisi produsen, pasokan terbesar berasal dari komoditas cabai yang dihadiri oleh 33 produsen, beras 28 produsen, jagung 25 produsen, bawang merah 20 produsen, telur ayam 4 produsen, dan minyak goreng 2 produsen.

"Mudah-mudahan dari pertemuan antara produsen dan off taker ini, dicapai transaksi atau pun komitmen untuk melakukan kerja sama perdagangan. Untuk mendukung itu, kami juga buatkan database-nya supaya koordinasi dengan TPID bisa lebih optimal," ucap Noor.

Secara kewilayahan, beberapa daerah juga menunjukkan potensi transaksi yang cukup tinggi dari sisi off taker. Tercatat, Kabupaten Klaten dan Kota Semarang memiliki potensi terbesar dengan total 11 potensi kerja sama. Kemudian, Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Kendal, dan Wonosobo masing-masing 7 potensi kerja sama. Adapun dari sisi produsen, Kabupaten Demak dan Grobogan masing-masing memiliki 9 potensi kerja sama, serta Kabupaten Batang dan Brebes masing-masing 7 potensi kerja sama.

Dalam kegiatan itu juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Kalingga Makmur Sejahtera Kabupaten Jepara dengan Gerakan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Manunggal Kabupaten Rembang, untuk komoditas beras. Kemudian, kerja sama antardaerah di wilayah Banyumas Raya untuk komoditas cabai, beras, jagung, bawang merah, dan minyak goreng.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu