Follow Us :              

Tak Sekadar Bantuan, Program Desa Dampingan Pemprov Jateng Hidupkan Perekonomian Warga

  13 August 2026  |   13:00:00  |   dibaca : 201 
Kategori :
Bagikan :

Tak Sekadar Bantuan, Program Desa Dampingan Pemprov Jateng Hidupkan Perekonomian Warga

13 August 2026 | 13:00:00 | dibaca : 201
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Tak Sekadar Bantuan, Program Desa Dampingan Pemprov Jateng Hidupkan Perekonomian Warga
Tak Sekadar Bantuan, Program Desa Dampingan Pemprov Jateng Hidupkan Perekonomian Warga
Tak Sekadar Bantuan, Program Desa Dampingan Pemprov Jateng Hidupkan Perekonomian Warga
Tak Sekadar Bantuan, Program Desa Dampingan Pemprov Jateng Hidupkan Perekonomian Warga
Tak Sekadar Bantuan, Program Desa Dampingan Pemprov Jateng Hidupkan Perekonomian Warga

Foto : Mizan (Humas Jateng)

WONOGIRI – Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menuntaskan kemiskinan di wilayahnya. Tak sekadar memberi bermacam bantuan, tetapi juga menghidupkan perekonomian warga.

Hal itu sebagaimana dilakukan oleh RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta melalui program Desa Dampingan di Desa Minggarharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Bahkan, program ini ditinjau langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Di Desa Minggarharjo, intervensi penuntasan kemiskinan dilakukan berdasarkan hasil penilaian/asesmen terhadap kondisi warga. RSJD dr. Arif Zainudin menemukan potensi ekonomi utama masyarakat berada pada sektor pertanian dan peternakan. Sementara itu, persoalan yang ditemukan ada pada sektor UMKM, kesehatan, sanitasi, hingga rumah tidak layak huni.

Bantuan yang disalurkan pun diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga untuk memperkuat aktivitas ekonomi warga.

Dalam kegiatan itu diserahkan bantuan peningkatan kualitas 4 RTLH senilai Rp80 juta, bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Rp20 juta, 4 paket modal usaha senilai Rp12 juta, serta 3 unit pembangunan jambanisasi senilai Rp19,11 juta.

Tak hanya itu, dukungan juga datang dari dunia usaha. PT Djarum memberikan bantuan 5 unit Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH) senilai Rp350 juta dan PT Jamkrida Jateng memberikan bantuan pembangunan 15 unit jambanisasi senilai Rp50 juta. Secara keseluruhan, bantuan yang disalurkan mencapai sekitar Rp531,11 juta.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengatakan, penuntasan kemiskinan tidak dapat dilakukan hanya oleh satu instansi, tetapi butuh kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, rumah sakit, BUMD, hingga pihak swasta. Semua pihak diharapkan mampu mendampingi desa yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi agar bisa lepas dari persoalan tersebut.

Ia menjelaskan, tingkat kemiskinan di Jateng berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru turun dari 9,39% menjadi 9,2% . Namun, angka kemiskinan di Kabupaten Wonogiri masih mencapai 9,59% atau berada di atas rata-rata provinsi.

Maka dari itu, Pemprov Jateng melakukan pemetaan hingga tingkat kecamatan dan desa untuk menentukan wilayah yang membutuhkan intervensi lebih lanjut.

“Dari Wonogiri ini kita petakan lagi kecamatannya. Kecamatan yang masih di atas data Kabupaten Wonogiri mana? Nah, kebetulan di Kecamatan Eromoko ini masih di atas Wonogiri, sehingga perlu diintervensi,” ujarnya.

Wagub menekankan, bantuan ekonomi harus dipastikan berkembang dan menghasilkan pendapatan bagi penerimanya.

“Tujuan kita memberikan bantuan kelompok-kelompok usaha bersama ini supaya menjadi income (pendapatan),” katanya.

Ia mengungkapkan, pihaknya akan kembali memantau perkembangan bantuan tersebut. Jika bantuan kambing yang diternakkan berkembang dan kelompok usaha mampu mengelolanya dengan baik, bantuan serupa berpeluang diberikan kepada kelompok lain.

Menurutnya, pola tersebut menjadi bagian penting dalam upaya penuntasan kemiskinan. Bantuan pemerintah diharapkan tidak berhenti sebagai barang yang diterima masyarakat, tetapi berkembang menjadi aset produktif.

Direktur RSJD dr. Arif Zainudin, Setyowati Raharjo, mengatakan bahwa pendampingan Desa Minggarharjo telah dilakukan sejak Januari 2026. Prosesnya diawali dengan identifikasi dan survei lapangan untuk memetakan persoalan serta potensi desa.

“Yang kami lakukan dari hasil survei dari peternakan, pertanian, UMKM, dan kesehatan,” katanya.

Di sektor peternakan, warga mengembangkan hewan ternak sapi, kambing, dan ayam. Namun, pola pemberian serta pembuatan pakan masih dilakukan secara konvensional.

Guna memperkuat sektor tersebut, RSJD dr. Arif Zainudin juga memberikan tiga unit alat pencacah yang dapat digunakan untuk mencacah rumput sekaligus mengolah kotoran ternak menjadi kompos.

“Dengan adanya pengolahan, pelatihan, pendampingan seperti ini harapannya pertaniannya semakin baik,” ucap Wagub.

Sementara di sektor pertanian, warga masih mengandalkan hujan dengan panen utama satu kali dalam setahun. Pada musim kemarau, lahan dimanfaatkan untuk menanam jagung, kacang tanah, tembakau, dan melon. Salah satu persoalan yang dihadapi petani adalah serangan tikus yang mengganggu produktivitas.

Di sektor UMKM, terdapat usaha produksi rengginang, wayang kulit, dan batik tulis. Sebagian besar produk masih dibuat berdasarkan pesanan, sehingga diperlukan penguatan pemasaran agar jangkauan pasar dan penjualan bisa semakin meningkat.

Pendampingan juga menyasar sektor kesehatan. Hasil identifikasi menemukan 8 balita berisiko stunting dan 3 baduta stunting. Selain itu, terdapat 4 warga dengan gangguan kesehatan jiwa yang pernah mendapatkan perawatan di RSJD dr. Arif Zainudin.

Setyowati mengatakan, pendampingan yang diberikan dilakukan secara bertahap, mulai dari penyuluhan kesehatan jiwa, pelatihan budi daya kambing, bantuan alat dan kebutuhan masyarakat, hingga pendampingan pengajuan proposal KUBE dan fasilitasi CSR.

Kepala Desa Minggarharjo, Tri Wiyono, mengatakan berbagai program yang diberikan mampu membantu desa menangani persoalan yang tidak seluruhnya dapat ditutup melalui anggaran desa.

“Harapannya, mudah-mudahan tetap masih berlanjut sampai warganya betul-betul sejahtera,” ucapnya.

Menurutnya, pendampingan perlu terus dilakukan karena masih terdapat sejumlah persoalan ekonomi yang membutuhkan penanganan berkelanjutan, termasuk para perajin gamelan yang saat ini kesulitan memperoleh pesanan.


Bagikan :

WONOGIRI – Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menuntaskan kemiskinan di wilayahnya. Tak sekadar memberi bermacam bantuan, tetapi juga menghidupkan perekonomian warga.

Hal itu sebagaimana dilakukan oleh RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta melalui program Desa Dampingan di Desa Minggarharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Bahkan, program ini ditinjau langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Di Desa Minggarharjo, intervensi penuntasan kemiskinan dilakukan berdasarkan hasil penilaian/asesmen terhadap kondisi warga. RSJD dr. Arif Zainudin menemukan potensi ekonomi utama masyarakat berada pada sektor pertanian dan peternakan. Sementara itu, persoalan yang ditemukan ada pada sektor UMKM, kesehatan, sanitasi, hingga rumah tidak layak huni.

Bantuan yang disalurkan pun diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga untuk memperkuat aktivitas ekonomi warga.

Dalam kegiatan itu diserahkan bantuan peningkatan kualitas 4 RTLH senilai Rp80 juta, bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Rp20 juta, 4 paket modal usaha senilai Rp12 juta, serta 3 unit pembangunan jambanisasi senilai Rp19,11 juta.

Tak hanya itu, dukungan juga datang dari dunia usaha. PT Djarum memberikan bantuan 5 unit Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH) senilai Rp350 juta dan PT Jamkrida Jateng memberikan bantuan pembangunan 15 unit jambanisasi senilai Rp50 juta. Secara keseluruhan, bantuan yang disalurkan mencapai sekitar Rp531,11 juta.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengatakan, penuntasan kemiskinan tidak dapat dilakukan hanya oleh satu instansi, tetapi butuh kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, rumah sakit, BUMD, hingga pihak swasta. Semua pihak diharapkan mampu mendampingi desa yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi agar bisa lepas dari persoalan tersebut.

Ia menjelaskan, tingkat kemiskinan di Jateng berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru turun dari 9,39% menjadi 9,2% . Namun, angka kemiskinan di Kabupaten Wonogiri masih mencapai 9,59% atau berada di atas rata-rata provinsi.

Maka dari itu, Pemprov Jateng melakukan pemetaan hingga tingkat kecamatan dan desa untuk menentukan wilayah yang membutuhkan intervensi lebih lanjut.

“Dari Wonogiri ini kita petakan lagi kecamatannya. Kecamatan yang masih di atas data Kabupaten Wonogiri mana? Nah, kebetulan di Kecamatan Eromoko ini masih di atas Wonogiri, sehingga perlu diintervensi,” ujarnya.

Wagub menekankan, bantuan ekonomi harus dipastikan berkembang dan menghasilkan pendapatan bagi penerimanya.

“Tujuan kita memberikan bantuan kelompok-kelompok usaha bersama ini supaya menjadi income (pendapatan),” katanya.

Ia mengungkapkan, pihaknya akan kembali memantau perkembangan bantuan tersebut. Jika bantuan kambing yang diternakkan berkembang dan kelompok usaha mampu mengelolanya dengan baik, bantuan serupa berpeluang diberikan kepada kelompok lain.

Menurutnya, pola tersebut menjadi bagian penting dalam upaya penuntasan kemiskinan. Bantuan pemerintah diharapkan tidak berhenti sebagai barang yang diterima masyarakat, tetapi berkembang menjadi aset produktif.

Direktur RSJD dr. Arif Zainudin, Setyowati Raharjo, mengatakan bahwa pendampingan Desa Minggarharjo telah dilakukan sejak Januari 2026. Prosesnya diawali dengan identifikasi dan survei lapangan untuk memetakan persoalan serta potensi desa.

“Yang kami lakukan dari hasil survei dari peternakan, pertanian, UMKM, dan kesehatan,” katanya.

Di sektor peternakan, warga mengembangkan hewan ternak sapi, kambing, dan ayam. Namun, pola pemberian serta pembuatan pakan masih dilakukan secara konvensional.

Guna memperkuat sektor tersebut, RSJD dr. Arif Zainudin juga memberikan tiga unit alat pencacah yang dapat digunakan untuk mencacah rumput sekaligus mengolah kotoran ternak menjadi kompos.

“Dengan adanya pengolahan, pelatihan, pendampingan seperti ini harapannya pertaniannya semakin baik,” ucap Wagub.

Sementara di sektor pertanian, warga masih mengandalkan hujan dengan panen utama satu kali dalam setahun. Pada musim kemarau, lahan dimanfaatkan untuk menanam jagung, kacang tanah, tembakau, dan melon. Salah satu persoalan yang dihadapi petani adalah serangan tikus yang mengganggu produktivitas.

Di sektor UMKM, terdapat usaha produksi rengginang, wayang kulit, dan batik tulis. Sebagian besar produk masih dibuat berdasarkan pesanan, sehingga diperlukan penguatan pemasaran agar jangkauan pasar dan penjualan bisa semakin meningkat.

Pendampingan juga menyasar sektor kesehatan. Hasil identifikasi menemukan 8 balita berisiko stunting dan 3 baduta stunting. Selain itu, terdapat 4 warga dengan gangguan kesehatan jiwa yang pernah mendapatkan perawatan di RSJD dr. Arif Zainudin.

Setyowati mengatakan, pendampingan yang diberikan dilakukan secara bertahap, mulai dari penyuluhan kesehatan jiwa, pelatihan budi daya kambing, bantuan alat dan kebutuhan masyarakat, hingga pendampingan pengajuan proposal KUBE dan fasilitasi CSR.

Kepala Desa Minggarharjo, Tri Wiyono, mengatakan berbagai program yang diberikan mampu membantu desa menangani persoalan yang tidak seluruhnya dapat ditutup melalui anggaran desa.

“Harapannya, mudah-mudahan tetap masih berlanjut sampai warganya betul-betul sejahtera,” ucapnya.

Menurutnya, pendampingan perlu terus dilakukan karena masih terdapat sejumlah persoalan ekonomi yang membutuhkan penanganan berkelanjutan, termasuk para perajin gamelan yang saat ini kesulitan memperoleh pesanan.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu