Follow Us :              

GTR Ultra 2026 Jelajahi 3 Gunung di Jawa Tengah, Gerakkan Ekonomi Desa hingga Rp4,5 Miliar

  27 September 2026  |   12:30:00  |   dibaca : 369 
Kategori :
Bagikan :

GTR Ultra 2026 Jelajahi 3 Gunung di Jawa Tengah, Gerakkan Ekonomi Desa hingga Rp4,5 Miliar

27 September 2026 | 12:30:00 | dibaca : 369
Kategori :
Bagikan :

Foto : Istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
GTR Ultra 2026 Jelajahi 3 Gunung di Jawa Tengah, Gerakkan Ekonomi Desa hingga Rp4,5 Miliar
GTR Ultra 2026 Jelajahi 3 Gunung di Jawa Tengah, Gerakkan Ekonomi Desa hingga Rp4,5 Miliar
GTR Ultra 2026 Jelajahi 3 Gunung di Jawa Tengah, Gerakkan Ekonomi Desa hingga Rp4,5 Miliar
GTR Ultra 2026 Jelajahi 3 Gunung di Jawa Tengah, Gerakkan Ekonomi Desa hingga Rp4,5 Miliar
GTR Ultra 2026 Jelajahi 3 Gunung di Jawa Tengah, Gerakkan Ekonomi Desa hingga Rp4,5 Miliar

Foto : Istimewa (Humas Jateng)

KAB SEMARANG – Sebanyak 900 pelari dari tujuh negara meramaikan Gajah Trail Run (GTR) Ultra 2026 di Dusun Kayuwangi, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang pada Minggu, 27 September 2026. 

Tak sekadar mengikuti event lari, para peserta harus menaklukkan jalur yang membentang dari Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, hingga Gunung Kendil, dengan tantangan elevasi hingga sekitar 3.000 meter untuk kategori terjauh sepanjang 52 kilometer.

Di balik tantangan tersebut, GTR Ultra yang memasuki tahun keempat penyelenggaraan juga membawa pergerakan ekonomi bagi masyarakat desa. Penyelenggara memperkirakan total spending (pengeluaran) peserta selama berada di kawasan tersebut mencapai sekitar Rp4,5 miliar.

Race Director GTR Ultra 2026, Sri Agus Budi Santoso, mengatakan bahwa jumlah peserta tahun ini meningkat sekitar 200 orang, dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 700 peserta.

“Gajah Trail Run Ultra 2026 ini pelaksanaan tahun keempat dengan kategori yang masih sama ada 7, 12, 30, 52 (KM),” ucapnya.

Peningkatan jumlah peserta itu juga diikuti dengan meluasnya jangkauan peserta. Tahun ini, para pelari berasal dari tujuh negara, di antaranya New Zealand, Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris. Pada penyelenggaraan tahun lalu, tercatat para pesertanya datang dari sekitar empat negara.

Adapun untuk kategori 52K, rute kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. Namun, para peserta tetap diarahkan menuju puncak Gunung Telomoyo dan melintasi tiga gunung.

“Nanti melewati tiga gunung, yaitu Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, Gunung Kendil,” ujar Agus.

Bagi peserta, bentang alam tersebut menjadi bagian dari tantangan sekaligus daya tarik GTR Ultra. Dari kawasan Kayuwangi, pelari dapat menikmati panorama Gunung Telomoyo, Gunung Kendil, dan Gunung Gajah, sekaligus melihat Kota Salatiga dari ketinggian.

Namun, geliat GTR Ultra tidak berhenti di lintasan. Kedatangan ratusan pelari juga membuat aktivitas ekonomi warga di sekitar lokasi ikut bergerak.

Keterbatasan akomodasi di kawasan Kayuwangi, misalnya, membuat sejumlah rumah warga dimanfaatkan sebagai homestay untuk menampung peserta.

“Tentunya dengan jumlah peserta yang stay di sekitaran warga, ini lumayan banyak, karena memang tantangannya di desa sini adalah hotel masih belum begitu banyak,” ucap Agus. 

Belanja peserta selama mengikuti event juga turut mengalir ke berbagai kebutuhan, mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga aktivitas wisata. 

Agus memperkirakan rata-rata pengeluaran setiap peserta mencapai sekitar Rp5 juta, termasuk biaya pendaftaran. Dengan sekitar 900 peserta, potensi perputaran uang selama GTR Ultra 2026 diperkirakan mencapai Rp4,5 miliar.

“Kalau kita hitung rata-rata peserta itu spending-nya Rp5 juta ya, sudah termasuk pendaftaran, Rp5 juta kali 900 peserta berarti sekitar Rp4,5 miliar,” jelasnya.

Geliat ekonomi itu dirasakan pula oleh peserta yang memilih tinggal lebih lama di kawasan sekitar. Salah satunya Rimba Simanjuntak, peserta kategori 52K yang datang dari Jakarta bersama lima rekannya.

GTR Ultra menjadi pengalaman pertamanya mengikuti event trail run dengan jarak 52 kilometer. Ia tertarik menjajal lintasan tersebut, setelah mengetahui karakter medannya yang menantang.

“Ini kebetulan sama teman-teman kita mengikuti trail run GTR ini. Dan kebetulan kami sama-sama ngambil yang kategori 52 km. Ini pertama kali, virgin trail-lah di 52,” kata Rimba.

Bersama lima rekannya, ia menargetkan dapat menyelesaikan lintasan sebelum batas waktu maksimal atau cut off time (COT). Guna menghadapi tantangan tersebut, Rimba mengaku telah melakukan persiapan selama sekitar lima bulan.

“Jadi itu juga sebagai tantangan bagi kami yang sudah berumur, cukup berumur lah,” ucap pria yang hampir mendekati kepala enam itu.

Bahkan, ia sudah berada di Kayuwangi sejak dua hari sebelum perlombaan. Setelah mengikuti lomba, Rimba berencana tinggal sekitar dua malam lagi bersama keluarga untuk bersilaturahmi dengan kerabat di Salatiga.

Kesempatan itu sekaligus dimanfaatkan untuk berwisata ke sejumlah destinasi di Semarang, Salatiga, dan sekitarnya.

Ia sebenarnya ingin menginap di homestay warga agar bisa merasakan dengan lebih dekat kehidupan masyarakat sekitar. Namun, seluruh homestay yang dicarinya sudah penuh, sehingga ia memilih menginap di hotel.

“Penuh semua, sebetulnya homestay ini kan menarik buat anak-anak bersosialisasi, seperti live-in lah, cuma penuh,” ujarnya.

Selama berada di Kayuwangi, Rimba juga melihat langsung antusiasme warga menyambut para pelari. Di sejumlah titik, warga turut membantu mengarahkan peserta yang melintasi jalur perlombaan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah, Anton Asfihani, mengingatkan peserta agar tidak hanya mengejar catatan waktu, tetapi juga memperhatikan kondisi tubuh selama menaklukkan lintasan.

“Persiapkan diri kalian sebaik mungkin,” ucapnya saat melakukan flag off kategori 52K.

Ia juga mengingatkan peserta untuk tidak mengabaikan tanda-tanda kelelahan selama berada di lintasan.

GTR Ultra 2026 diselenggarakan oleh Escape Nice berkolaborasi dengan Karang Taruna setempat. Event tersebut tercatat di International Trail Running Association (ITRA) dan berafiliasi dengan UTMB atau Ultra-Trail du Mont-Blanc.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan, banyaknya penyelenggaraan trail run di berbagai daerah merupakan bagian dari upaya mengembangkan sport tourism (pariwisata olahraga) di Jawa Tengah.

"Kita pinginnya nanti di seluruh Jawa Tengah ada event trail run. Ini bagian (dari upaya) kita untuk pengembangan sport tourism di Jawa Tengah," ucapnya.


Bagikan :

KAB SEMARANG – Sebanyak 900 pelari dari tujuh negara meramaikan Gajah Trail Run (GTR) Ultra 2026 di Dusun Kayuwangi, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang pada Minggu, 27 September 2026. 

Tak sekadar mengikuti event lari, para peserta harus menaklukkan jalur yang membentang dari Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, hingga Gunung Kendil, dengan tantangan elevasi hingga sekitar 3.000 meter untuk kategori terjauh sepanjang 52 kilometer.

Di balik tantangan tersebut, GTR Ultra yang memasuki tahun keempat penyelenggaraan juga membawa pergerakan ekonomi bagi masyarakat desa. Penyelenggara memperkirakan total spending (pengeluaran) peserta selama berada di kawasan tersebut mencapai sekitar Rp4,5 miliar.

Race Director GTR Ultra 2026, Sri Agus Budi Santoso, mengatakan bahwa jumlah peserta tahun ini meningkat sekitar 200 orang, dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 700 peserta.

“Gajah Trail Run Ultra 2026 ini pelaksanaan tahun keempat dengan kategori yang masih sama ada 7, 12, 30, 52 (KM),” ucapnya.

Peningkatan jumlah peserta itu juga diikuti dengan meluasnya jangkauan peserta. Tahun ini, para pelari berasal dari tujuh negara, di antaranya New Zealand, Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris. Pada penyelenggaraan tahun lalu, tercatat para pesertanya datang dari sekitar empat negara.

Adapun untuk kategori 52K, rute kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. Namun, para peserta tetap diarahkan menuju puncak Gunung Telomoyo dan melintasi tiga gunung.

“Nanti melewati tiga gunung, yaitu Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, Gunung Kendil,” ujar Agus.

Bagi peserta, bentang alam tersebut menjadi bagian dari tantangan sekaligus daya tarik GTR Ultra. Dari kawasan Kayuwangi, pelari dapat menikmati panorama Gunung Telomoyo, Gunung Kendil, dan Gunung Gajah, sekaligus melihat Kota Salatiga dari ketinggian.

Namun, geliat GTR Ultra tidak berhenti di lintasan. Kedatangan ratusan pelari juga membuat aktivitas ekonomi warga di sekitar lokasi ikut bergerak.

Keterbatasan akomodasi di kawasan Kayuwangi, misalnya, membuat sejumlah rumah warga dimanfaatkan sebagai homestay untuk menampung peserta.

“Tentunya dengan jumlah peserta yang stay di sekitaran warga, ini lumayan banyak, karena memang tantangannya di desa sini adalah hotel masih belum begitu banyak,” ucap Agus. 

Belanja peserta selama mengikuti event juga turut mengalir ke berbagai kebutuhan, mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga aktivitas wisata. 

Agus memperkirakan rata-rata pengeluaran setiap peserta mencapai sekitar Rp5 juta, termasuk biaya pendaftaran. Dengan sekitar 900 peserta, potensi perputaran uang selama GTR Ultra 2026 diperkirakan mencapai Rp4,5 miliar.

“Kalau kita hitung rata-rata peserta itu spending-nya Rp5 juta ya, sudah termasuk pendaftaran, Rp5 juta kali 900 peserta berarti sekitar Rp4,5 miliar,” jelasnya.

Geliat ekonomi itu dirasakan pula oleh peserta yang memilih tinggal lebih lama di kawasan sekitar. Salah satunya Rimba Simanjuntak, peserta kategori 52K yang datang dari Jakarta bersama lima rekannya.

GTR Ultra menjadi pengalaman pertamanya mengikuti event trail run dengan jarak 52 kilometer. Ia tertarik menjajal lintasan tersebut, setelah mengetahui karakter medannya yang menantang.

“Ini kebetulan sama teman-teman kita mengikuti trail run GTR ini. Dan kebetulan kami sama-sama ngambil yang kategori 52 km. Ini pertama kali, virgin trail-lah di 52,” kata Rimba.

Bersama lima rekannya, ia menargetkan dapat menyelesaikan lintasan sebelum batas waktu maksimal atau cut off time (COT). Guna menghadapi tantangan tersebut, Rimba mengaku telah melakukan persiapan selama sekitar lima bulan.

“Jadi itu juga sebagai tantangan bagi kami yang sudah berumur, cukup berumur lah,” ucap pria yang hampir mendekati kepala enam itu.

Bahkan, ia sudah berada di Kayuwangi sejak dua hari sebelum perlombaan. Setelah mengikuti lomba, Rimba berencana tinggal sekitar dua malam lagi bersama keluarga untuk bersilaturahmi dengan kerabat di Salatiga.

Kesempatan itu sekaligus dimanfaatkan untuk berwisata ke sejumlah destinasi di Semarang, Salatiga, dan sekitarnya.

Ia sebenarnya ingin menginap di homestay warga agar bisa merasakan dengan lebih dekat kehidupan masyarakat sekitar. Namun, seluruh homestay yang dicarinya sudah penuh, sehingga ia memilih menginap di hotel.

“Penuh semua, sebetulnya homestay ini kan menarik buat anak-anak bersosialisasi, seperti live-in lah, cuma penuh,” ujarnya.

Selama berada di Kayuwangi, Rimba juga melihat langsung antusiasme warga menyambut para pelari. Di sejumlah titik, warga turut membantu mengarahkan peserta yang melintasi jalur perlombaan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah, Anton Asfihani, mengingatkan peserta agar tidak hanya mengejar catatan waktu, tetapi juga memperhatikan kondisi tubuh selama menaklukkan lintasan.

“Persiapkan diri kalian sebaik mungkin,” ucapnya saat melakukan flag off kategori 52K.

Ia juga mengingatkan peserta untuk tidak mengabaikan tanda-tanda kelelahan selama berada di lintasan.

GTR Ultra 2026 diselenggarakan oleh Escape Nice berkolaborasi dengan Karang Taruna setempat. Event tersebut tercatat di International Trail Running Association (ITRA) dan berafiliasi dengan UTMB atau Ultra-Trail du Mont-Blanc.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan, banyaknya penyelenggaraan trail run di berbagai daerah merupakan bagian dari upaya mengembangkan sport tourism (pariwisata olahraga) di Jawa Tengah.

"Kita pinginnya nanti di seluruh Jawa Tengah ada event trail run. Ini bagian (dari upaya) kita untuk pengembangan sport tourism di Jawa Tengah," ucapnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu