Follow Us :              

Wujudkan Jateng sebagai Destinasi Wisata Kesehatan, Wagub Dorong Penguatan Budaya Donor Darah

  29 September 2026  |   08:00:00  |   dibaca : 68 
Kategori :
Bagikan :

Wujudkan Jateng sebagai Destinasi Wisata Kesehatan, Wagub Dorong Penguatan Budaya Donor Darah

29 September 2026 | 08:00:00 | dibaca : 68
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Wujudkan Jateng sebagai Destinasi Wisata Kesehatan, Wagub Dorong Penguatan Budaya Donor Darah
Wujudkan Jateng sebagai Destinasi Wisata Kesehatan, Wagub Dorong Penguatan Budaya Donor Darah
Wujudkan Jateng sebagai Destinasi Wisata Kesehatan, Wagub Dorong Penguatan Budaya Donor Darah
Wujudkan Jateng sebagai Destinasi Wisata Kesehatan, Wagub Dorong Penguatan Budaya Donor Darah
Wujudkan Jateng sebagai Destinasi Wisata Kesehatan, Wagub Dorong Penguatan Budaya Donor Darah

Foto : Mizan (Humas Jateng)

SEMARANG - Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan pentingnya upaya memperkuat ekosistem kesehatan guna mewujudkan Jawa Tengah sebagai destinasi wisata kesehatan (medical tourism), yang salah satunya ditopang oleh budaya donor darah.  

Hal itu disampaikannya saat acara Penyerahan Penghargaan dan Temu Donor Darah Sukarela ke-50 dan ke-75 kali PMI Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah di Balairung Astina Ballroom UTC Convention Hotel Semarang pada Selasa, 29 September 2026. 

Wagub mengatakan, donor darah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan darah bagi pasien, tetapi juga menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan dan kemanusiaan. Oleh karena itu, budaya donor darah perlu terus dikembangkan seiring dengan upaya Jawa Tengah untuk memperkuat sektor kesehatan.

“Melalui donor darah, kita bisa mewujudkan kesehatan dan menyelamatkan nyawa. Kita ingin Jawa Tengah menjadi destinasi wisata kesehatan, Nah, ini yang kita dorong,” ucapnya selaku Ketua Dewan Kehormatan Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Tengah. 

Ia menilai, tingginya partisipasi masyarakat dalam donor darah menjadi modal sosial yang penting untuk mendukung penguatan layanan kesehatan di wilayahnya. Setiap tahun, tercatat jumlah masyarakat yang aktif melakukan donor darah mencapai lebih dari 2.000 orang.

Bahkan, dalam kegiatan tersebut ada pendonor yang telah melakukan donor darah hingga 50 dan 75 kali. Wagub mengapresiasi konsistensi tersebut, sekaligus berharap para pendonor dapat menjadi penggerak bagi masyarakat lain untuk ikut berdonor.

Selain ketersediaan darah, Wagub menilai penguatan layanan kesehatan juga harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan, salah satunya melalui digitalisasi pelayanan donor darah.

Ia meminta, PMI di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan masyarakat yang hendak melakukan donor darah. Sistem ini membuat calon pendonor mengetahui layanan donor dan bisa datang tanpa harus menghabiskan waktu untuk mengantre.

Ketua PMI Jawa Tengah, Haryanto, mengatakan, sekitar 97% kebutuhan darah di rumah sakit se-Jawa Tengah dapat dipenuhi oleh PMI. Kondisi tersebut membuat Jateng, termasuk daerah dengan stok darah yang aman.

Ia menjelaskan, seorang pendonor membutuhkan waktu sekitar 13-14 tahun untuk mencapai donor darah ke-50, sedangkan pendonor yang mencapai 75 kali donor membutuhkan waktu sekitar 18 tahun. Khusus pendonor ke-75, total darah yang telah didonorkan mencapai sekitar 37,5 liter per orang.

“Ini luar biasa. Tanda jasa yang kami berikan tidak seberapa dibandingkan dengan pengorbanan yang tulus dari Bapak-Ibu sekalian,” ujarnya.

Salah seorang pendonor ke-75 kali asal Kabupaten Magelang, Agustian, mengaku mulai mendonorkan darah sejak berusia sekitar 16-17 tahun.

“Kalau mau membantu orang lain dengan uang atau materi mungkin belum bisa, tetapi kalau darah, insyaallah bisa,” ujarnya.

Sementara itu, pendonor asal Bulukerto, Wonogiri, Sementara Saparwanti (67), mengaku telah mendonorkan darah sebanyak 52 kali. Menurutnya, donor darah merupakan bentuk kepedulian sosial untuk membantu orang yang membutuhkan.

“Saya merasa senang juga, karena kegiatan sosial kita dihargai,” ucap mantan guru SD tersebut.


Bagikan :

SEMARANG - Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan pentingnya upaya memperkuat ekosistem kesehatan guna mewujudkan Jawa Tengah sebagai destinasi wisata kesehatan (medical tourism), yang salah satunya ditopang oleh budaya donor darah.  

Hal itu disampaikannya saat acara Penyerahan Penghargaan dan Temu Donor Darah Sukarela ke-50 dan ke-75 kali PMI Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah di Balairung Astina Ballroom UTC Convention Hotel Semarang pada Selasa, 29 September 2026. 

Wagub mengatakan, donor darah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan darah bagi pasien, tetapi juga menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan dan kemanusiaan. Oleh karena itu, budaya donor darah perlu terus dikembangkan seiring dengan upaya Jawa Tengah untuk memperkuat sektor kesehatan.

“Melalui donor darah, kita bisa mewujudkan kesehatan dan menyelamatkan nyawa. Kita ingin Jawa Tengah menjadi destinasi wisata kesehatan, Nah, ini yang kita dorong,” ucapnya selaku Ketua Dewan Kehormatan Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Tengah. 

Ia menilai, tingginya partisipasi masyarakat dalam donor darah menjadi modal sosial yang penting untuk mendukung penguatan layanan kesehatan di wilayahnya. Setiap tahun, tercatat jumlah masyarakat yang aktif melakukan donor darah mencapai lebih dari 2.000 orang.

Bahkan, dalam kegiatan tersebut ada pendonor yang telah melakukan donor darah hingga 50 dan 75 kali. Wagub mengapresiasi konsistensi tersebut, sekaligus berharap para pendonor dapat menjadi penggerak bagi masyarakat lain untuk ikut berdonor.

Selain ketersediaan darah, Wagub menilai penguatan layanan kesehatan juga harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan, salah satunya melalui digitalisasi pelayanan donor darah.

Ia meminta, PMI di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan masyarakat yang hendak melakukan donor darah. Sistem ini membuat calon pendonor mengetahui layanan donor dan bisa datang tanpa harus menghabiskan waktu untuk mengantre.

Ketua PMI Jawa Tengah, Haryanto, mengatakan, sekitar 97% kebutuhan darah di rumah sakit se-Jawa Tengah dapat dipenuhi oleh PMI. Kondisi tersebut membuat Jateng, termasuk daerah dengan stok darah yang aman.

Ia menjelaskan, seorang pendonor membutuhkan waktu sekitar 13-14 tahun untuk mencapai donor darah ke-50, sedangkan pendonor yang mencapai 75 kali donor membutuhkan waktu sekitar 18 tahun. Khusus pendonor ke-75, total darah yang telah didonorkan mencapai sekitar 37,5 liter per orang.

“Ini luar biasa. Tanda jasa yang kami berikan tidak seberapa dibandingkan dengan pengorbanan yang tulus dari Bapak-Ibu sekalian,” ujarnya.

Salah seorang pendonor ke-75 kali asal Kabupaten Magelang, Agustian, mengaku mulai mendonorkan darah sejak berusia sekitar 16-17 tahun.

“Kalau mau membantu orang lain dengan uang atau materi mungkin belum bisa, tetapi kalau darah, insyaallah bisa,” ujarnya.

Sementara itu, pendonor asal Bulukerto, Wonogiri, Sementara Saparwanti (67), mengaku telah mendonorkan darah sebanyak 52 kali. Menurutnya, donor darah merupakan bentuk kepedulian sosial untuk membantu orang yang membutuhkan.

“Saya merasa senang juga, karena kegiatan sosial kita dihargai,” ucap mantan guru SD tersebut.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu