Follow Us :              

Tata Kelola MBG Jadi Perhatian, Gubernur dan Wapres Serap Aspirasi Warga di Batang

  28 September 2026  |   10:00:00  |   dibaca : 510 
Kategori :
Bagikan :

Tata Kelola MBG Jadi Perhatian, Gubernur dan Wapres Serap Aspirasi Warga di Batang

28 September 2026 | 10:00:00 | dibaca : 510
Kategori :
Bagikan :

Foto : Tim Humas (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Tata Kelola MBG Jadi Perhatian, Gubernur dan Wapres Serap Aspirasi Warga di Batang
Tata Kelola MBG Jadi Perhatian, Gubernur dan Wapres Serap Aspirasi Warga di Batang
Tata Kelola MBG Jadi Perhatian, Gubernur dan Wapres Serap Aspirasi Warga di Batang
Tata Kelola MBG Jadi Perhatian, Gubernur dan Wapres Serap Aspirasi Warga di Batang
Tata Kelola MBG Jadi Perhatian, Gubernur dan Wapres Serap Aspirasi Warga di Batang

Foto : Tim Humas (Humas Jateng)

BATANG — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mendampingi Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, meninjau penanganan kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang pada Senin, 28 September 2026.

Ada tiga titik yang ditinjau oleh Gubernur dan Wapres, yaitu RSUD Limpung, Puskesmas Bawang, dan SD Pasusukan Bawang. Saat dilakukan peninjauan di Puskesmas Bawang, keduanya mendengarkan keluhan dan aspirasi warga.

Tercatat, korban yang saat ini masih dirawat di Puskesmas Bawang ada 8 orang, terdiri dari 4 orang dewasa dan 4 orang usia pelajar. Adapun dari jumlah tersebut, terdapat seorang pasien yang baru datang pada Senin pagi (28/9/2026).

Gubernur dan Wapres tiba di Puskesmas Bawang sekitar pukul 10.00 WIB, setelah sebelumnya bertemu dan berdialog dengan korban di RSUD Limpung. Sesampainya di lokasi, keduanya didampingi oleh Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, langsung menuju Ruang Anggrek, Dahlia, dan Mawar untuk menemui sejumlah korban.

Setelah berkunjung ke Puskesmas Bawang, Wapres dan Gubernur bertemu dan berbincang dengan para wali murid di SD Negeri Pasusukan Batang. 

Dalam dialog itu, para wali murid tidak meminta program MBG dihentikan. Mereka berharap program tersebut tetap berjalan dengan tata kelola yang lebih baik.

Salah seorang wali murid, Nuriah, menyampaikan keluhan sekaligus harapan terkait pelaksanaan MBG ke depan.

Ia mengungkapkan, Wapres juga menyampaikan keinginan untuk memperbaiki tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama di wilayah Bawang, Batang.

Perbaikan tersebut dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Sebab, meskipun kondisi anaknya kini telah membaik, pengalaman tersebut masih meninggalkan trauma. Anaknya sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama tiga hari. Kini kondisinya sudah membaik dan anaknya sudah kembali bersekolah.

Nuriah berharap, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi, sehingga tidak ada lagi anak yang mengalami kejadian serupa.

Dalam kunjungan itu, Gubernur dan Wapres juga menyapa para siswa yang terdampak. Salah satunya Faiz Fatih Ardani, siswa kelas 6 SD Negeri Pasusukan.

Faiz mengatakan, kondisinya kini sudah membaik dan masih dalam masa pemulihan. Ia berharap, pengelolaan MBG ke depan bisa semakin baik. 

“Semoga program MBG bisa diperbaiki dan dilanjutkan,” katanya.

Harapan serupa disampaikan As'ad Arif Nurul Munji, siswa kelas 6 SD Negeri Pasusukan yang juga terdampak.

“Tetap dilanjutkan, (tetapi perlu) diperbaiki,” ujarnya.

Berdasarkan data dari SD Negeri Pasusukan, sebanyak 26 siswa kelas 1-6 terdampak dugaan kasus keracunan. Selain siswa, terdapat 7 orang terdampak, termasuk kepala sekolah. Diketahui, para korban mulai merasakan gejala yang berbeda-beda sejak Rabu (23/9/2026). 

Kepala SD Negeri Pasusukan, Maryana, mengatakan, gejalanya tidak muncul secara bersamaan setelah makanan MBG dikonsumsi. Makanan tiba sekitar pukul 08.30 dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.00 saat jam istirahat. Namun, keluhan baru muncul beberapa jam kemudian.

Ia mengungkapkan, waktu munculnya gejala pada siswa juga berbeda-beda. Ada yang mulai merasakan keluhan pada malam hari, ada pula yang baru mengalami gejala pada keesokan harinya.

“Kalau untuk anak-anak beragam dari mulai malam. Ada juga yang esok harinya. Enggak sama,” ujarnya.

Maryana mengatakan, 26 siswa yang terdampak sudah pulang ke rumah. Sementara itu, 1 guru masih menjalani perawatan di RSUD Limpung. Keluhan yang paling banyak dirasakan adalah mual dan diare.

Ia berharap ,kejadian tersebut menjadi perhatian agar pelaksanaan MBG ke depan semakin aman bagi anak-anak.

Pada kesempatan itu, Kepala Puskesmas Bawang, Ida Suryani, mengatakan bahwa penanganan korban di puskesmasnya dimulai pada Rabu (23/9/2026), saat pasien berdatangan. Total ada 597 orang dengan rincian 32 orang rawat jalan di puskesmas, 384 orang rawat jalan, dan 182 orang dirujuk ke RSUD Limpung, RSUD Batang, dan puskesmas rawat inap lainnya di Batang. Rentang usia korban mulai dari balita sampai lansia.

"Hari ini yang masih dirawat inap di sini ada 8 orang dan kondisinya sudah cukup membaik,” katanya.

Ia menjelaskan, keluhan yang diderita pasien saat tiba di Puskesmas Bawang, antara lain mual, sakit perut, muntah, diare, dan panas-dingin. Dari hasil pemeriksaan belum diketahui secara pasti terkait penyebab kejadian, hasil laboratorium baru akan keluar setelah 20 hari.

Ida menambahkan, peristiwa keracunan tersebut menjadi pelajaran bersama, sehingga langkah antisipasi akan terus ditingkatkan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Tentunya dimulai dari pihak SPPG yang memiliki wewenang dalam penyediaan makanan MBG.

"Kita juga sudah kerja sama dengan SPPG untuk masalah kelaikan sanitasi higienisnya, puskesmas juga sering meninjau ke SPPG supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi. Koordinasi dengan SPPG berjalan," ucapnya.


Bagikan :

BATANG — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mendampingi Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, meninjau penanganan kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang pada Senin, 28 September 2026.

Ada tiga titik yang ditinjau oleh Gubernur dan Wapres, yaitu RSUD Limpung, Puskesmas Bawang, dan SD Pasusukan Bawang. Saat dilakukan peninjauan di Puskesmas Bawang, keduanya mendengarkan keluhan dan aspirasi warga.

Tercatat, korban yang saat ini masih dirawat di Puskesmas Bawang ada 8 orang, terdiri dari 4 orang dewasa dan 4 orang usia pelajar. Adapun dari jumlah tersebut, terdapat seorang pasien yang baru datang pada Senin pagi (28/9/2026).

Gubernur dan Wapres tiba di Puskesmas Bawang sekitar pukul 10.00 WIB, setelah sebelumnya bertemu dan berdialog dengan korban di RSUD Limpung. Sesampainya di lokasi, keduanya didampingi oleh Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, langsung menuju Ruang Anggrek, Dahlia, dan Mawar untuk menemui sejumlah korban.

Setelah berkunjung ke Puskesmas Bawang, Wapres dan Gubernur bertemu dan berbincang dengan para wali murid di SD Negeri Pasusukan Batang. 

Dalam dialog itu, para wali murid tidak meminta program MBG dihentikan. Mereka berharap program tersebut tetap berjalan dengan tata kelola yang lebih baik.

Salah seorang wali murid, Nuriah, menyampaikan keluhan sekaligus harapan terkait pelaksanaan MBG ke depan.

Ia mengungkapkan, Wapres juga menyampaikan keinginan untuk memperbaiki tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama di wilayah Bawang, Batang.

Perbaikan tersebut dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Sebab, meskipun kondisi anaknya kini telah membaik, pengalaman tersebut masih meninggalkan trauma. Anaknya sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama tiga hari. Kini kondisinya sudah membaik dan anaknya sudah kembali bersekolah.

Nuriah berharap, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi, sehingga tidak ada lagi anak yang mengalami kejadian serupa.

Dalam kunjungan itu, Gubernur dan Wapres juga menyapa para siswa yang terdampak. Salah satunya Faiz Fatih Ardani, siswa kelas 6 SD Negeri Pasusukan.

Faiz mengatakan, kondisinya kini sudah membaik dan masih dalam masa pemulihan. Ia berharap, pengelolaan MBG ke depan bisa semakin baik. 

“Semoga program MBG bisa diperbaiki dan dilanjutkan,” katanya.

Harapan serupa disampaikan As'ad Arif Nurul Munji, siswa kelas 6 SD Negeri Pasusukan yang juga terdampak.

“Tetap dilanjutkan, (tetapi perlu) diperbaiki,” ujarnya.

Berdasarkan data dari SD Negeri Pasusukan, sebanyak 26 siswa kelas 1-6 terdampak dugaan kasus keracunan. Selain siswa, terdapat 7 orang terdampak, termasuk kepala sekolah. Diketahui, para korban mulai merasakan gejala yang berbeda-beda sejak Rabu (23/9/2026). 

Kepala SD Negeri Pasusukan, Maryana, mengatakan, gejalanya tidak muncul secara bersamaan setelah makanan MBG dikonsumsi. Makanan tiba sekitar pukul 08.30 dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.00 saat jam istirahat. Namun, keluhan baru muncul beberapa jam kemudian.

Ia mengungkapkan, waktu munculnya gejala pada siswa juga berbeda-beda. Ada yang mulai merasakan keluhan pada malam hari, ada pula yang baru mengalami gejala pada keesokan harinya.

“Kalau untuk anak-anak beragam dari mulai malam. Ada juga yang esok harinya. Enggak sama,” ujarnya.

Maryana mengatakan, 26 siswa yang terdampak sudah pulang ke rumah. Sementara itu, 1 guru masih menjalani perawatan di RSUD Limpung. Keluhan yang paling banyak dirasakan adalah mual dan diare.

Ia berharap ,kejadian tersebut menjadi perhatian agar pelaksanaan MBG ke depan semakin aman bagi anak-anak.

Pada kesempatan itu, Kepala Puskesmas Bawang, Ida Suryani, mengatakan bahwa penanganan korban di puskesmasnya dimulai pada Rabu (23/9/2026), saat pasien berdatangan. Total ada 597 orang dengan rincian 32 orang rawat jalan di puskesmas, 384 orang rawat jalan, dan 182 orang dirujuk ke RSUD Limpung, RSUD Batang, dan puskesmas rawat inap lainnya di Batang. Rentang usia korban mulai dari balita sampai lansia.

"Hari ini yang masih dirawat inap di sini ada 8 orang dan kondisinya sudah cukup membaik,” katanya.

Ia menjelaskan, keluhan yang diderita pasien saat tiba di Puskesmas Bawang, antara lain mual, sakit perut, muntah, diare, dan panas-dingin. Dari hasil pemeriksaan belum diketahui secara pasti terkait penyebab kejadian, hasil laboratorium baru akan keluar setelah 20 hari.

Ida menambahkan, peristiwa keracunan tersebut menjadi pelajaran bersama, sehingga langkah antisipasi akan terus ditingkatkan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Tentunya dimulai dari pihak SPPG yang memiliki wewenang dalam penyediaan makanan MBG.

"Kita juga sudah kerja sama dengan SPPG untuk masalah kelaikan sanitasi higienisnya, puskesmas juga sering meninjau ke SPPG supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi. Koordinasi dengan SPPG berjalan," ucapnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu