Follow Us :              

72 UMKM Jateng Bawa Karya Lokal di Inacraft 2026, Wagub Bidik Pasar Eropa hingga Afrika

  07 October 2026  |   10:00:00  |   dibaca : 36 
Kategori :
Bagikan :

72 UMKM Jateng Bawa Karya Lokal di Inacraft 2026, Wagub Bidik Pasar Eropa hingga Afrika

07 October 2026 | 10:00:00 | dibaca : 36
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
72 UMKM Jateng Bawa Karya Lokal di Inacraft 2026, Wagub Bidik Pasar Eropa hingga Afrika
72 UMKM Jateng Bawa Karya Lokal di Inacraft 2026, Wagub Bidik Pasar Eropa hingga Afrika
72 UMKM Jateng Bawa Karya Lokal di Inacraft 2026, Wagub Bidik Pasar Eropa hingga Afrika
72 UMKM Jateng Bawa Karya Lokal di Inacraft 2026, Wagub Bidik Pasar Eropa hingga Afrika
72 UMKM Jateng Bawa Karya Lokal di Inacraft 2026, Wagub Bidik Pasar Eropa hingga Afrika

Foto : Mizan (Humas Jateng)

SEMARANG – Sebanyak 72 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Jawa Tengah turut meramaikan ajang Inacraft Oktober Vol. 5 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Selasa, 7 Oktober 2026. 

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengunjungi gerai-gerai yang menawarkan berbagai produk dari Jawa Tengah.  

Dalam ajang itu, Jawa Tengah membuka 14 stan yang mewadahi 72 UMKM. Adapun dari jumlah tersebut, 50 UMKM bergerak di bidang fesyen, 10 UMKM bidang craft/kerajinan, sementara sisanya menampilkan produk kerajinan lainnya.

Sejumlah kabupaten/kota yang turut serta dalam pameran antara lain, Kabupaten Kendal, Purbalingga, Klaten, Jepara, Sukoharjo, Kebumen, Kota Semarang, Tegal, Pekalongan, dan Salatiga. 

Pada kesempatan itu, Wagub mengatakan, UMKM di Jateng hendaknya tidak berhenti pada pasar nasional, tetapi mampu menembus pasar internasional.

Menurutnya, Inacraft menjadi momentum penting untuk melihat potensi produk UMKM Jawa Tengah. Hal ini sekaligus untuk memetakan produk yang memiliki peluang pasar di berbagai negara.

"Dengan Inacraft saya melihat potensinya besar. Tadi kita coba arahkan mana yang harus dikirim untuk pameran ke luar negeri, ada yang ke Eropa, Afrika, dan mana yang bisa dikirim ke Arab," ucap Wagub.

Ia menilai, proses kurasi menjadi hal penting agar produk-produk UMKM yang berkualitas dapat diarahkan sesuai karakter pasar internasional.

Wagub berharap, keikutsertaan UMKM Jawa Tengah dalam pameran berskala nasional dan internasional tidak sekadar menjadi ajang promosi, tetapi menjadi pintu masuk menuju jaringan pasar yang lebih luas dan daya saing produk yang lebih baik.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengatakan, banyak inovasi menarik pada produk-produk Jateng yang dipamerkan. Salah satunya pengembangan produk turunan batik dan wastra.

"Inovasi-inovasinya bagus-bagus. Produk-produk turunannya juga sangat bagus, mulai dari (yang) ready to wear (siap dipakai) sampai pengelolaan limbah, seperti kain perca yang dibuat menjadi berbagai aksesori," katanya.

Menurutnya, inovasi dan segmentasi pasar menjadi kunci agar produk UMKM Jawa Tengah dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.

Pada kesempatan itu, ia mengajak masyarakat untuk mengunjungi Paviliun Jawa Tengah selama penyelenggaraan Inacraft di JICC.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Linda Widiastuti Ariningrum, menambahkan, produk yang ditampilkan dalam ajang tersebut memiliki beberapa kriteria, di antaranya produk unggulan daerah, kualitas dan kontinuitas produksi yang terjaga, serta telah memiliki orientasi pasar nasional dan global.

"Produk yang kita tampilkan merupakan produk unggulan Jawa Tengah atau masing-masing daerah dengan kualitas dan kontinuitas terjaga. Mengapa? Karena memang orientasinya sudah global market," ucapnya.

Selain kualitas, pihaknya juga menekankan aspek inovasi, kreativitas, kebaruan, serta keberlanjutan. Produk yang ditampilkan tidak hanya harus menarik secara visual, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan pasar yang semakin memperhatikan aspek lingkungan.

Salah satu contoh inovasi ditunjukkan oleh produk dari Sragen yang memanfaatkan bahan turunan tekstil. Produk tersebut tidak hanya mengandalkan kain sebagai bahan utama, tetapi mengolah material turunannya menjadi produk kreatif yang menyasar konsumen milenial dan generasi Z.

Salah satu desainer asal Sragen, Akhsan, mengatakan, produk pakaian yang dipamerkan memanfaatkan bahan turunan tekstil sebagai inovasi.  

Melalui brand Ikaten, ia mengembangkan teknologi upcycle woven, yang menggunakan limbah benang sarung goyor. Limbah itu diolah menjadi karya tenun dari tangan Simbah Surati, salah seorang perajin tenun tradisional di Sragen. Hasilnya, terciptalah karya fesyen yang disukai pasar di tingkat nasional.

Akhsan mengaku bersyukur melalui fasilitasi dari Dekranasda Kabupaten Sragen, kesempatan ini mempertemukan dirinya dengan hasil tenun Simbah Surati. 

"Terima kasih sekali, karena sudah difasilitasi dengan pameran, ke depannya bisa ada regenerasi untuk tenun tradisional yang saat ini dikembangkan Simbah Surati," harapnya.


Bagikan :

SEMARANG – Sebanyak 72 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Jawa Tengah turut meramaikan ajang Inacraft Oktober Vol. 5 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Selasa, 7 Oktober 2026. 

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengunjungi gerai-gerai yang menawarkan berbagai produk dari Jawa Tengah.  

Dalam ajang itu, Jawa Tengah membuka 14 stan yang mewadahi 72 UMKM. Adapun dari jumlah tersebut, 50 UMKM bergerak di bidang fesyen, 10 UMKM bidang craft/kerajinan, sementara sisanya menampilkan produk kerajinan lainnya.

Sejumlah kabupaten/kota yang turut serta dalam pameran antara lain, Kabupaten Kendal, Purbalingga, Klaten, Jepara, Sukoharjo, Kebumen, Kota Semarang, Tegal, Pekalongan, dan Salatiga. 

Pada kesempatan itu, Wagub mengatakan, UMKM di Jateng hendaknya tidak berhenti pada pasar nasional, tetapi mampu menembus pasar internasional.

Menurutnya, Inacraft menjadi momentum penting untuk melihat potensi produk UMKM Jawa Tengah. Hal ini sekaligus untuk memetakan produk yang memiliki peluang pasar di berbagai negara.

"Dengan Inacraft saya melihat potensinya besar. Tadi kita coba arahkan mana yang harus dikirim untuk pameran ke luar negeri, ada yang ke Eropa, Afrika, dan mana yang bisa dikirim ke Arab," ucap Wagub.

Ia menilai, proses kurasi menjadi hal penting agar produk-produk UMKM yang berkualitas dapat diarahkan sesuai karakter pasar internasional.

Wagub berharap, keikutsertaan UMKM Jawa Tengah dalam pameran berskala nasional dan internasional tidak sekadar menjadi ajang promosi, tetapi menjadi pintu masuk menuju jaringan pasar yang lebih luas dan daya saing produk yang lebih baik.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengatakan, banyak inovasi menarik pada produk-produk Jateng yang dipamerkan. Salah satunya pengembangan produk turunan batik dan wastra.

"Inovasi-inovasinya bagus-bagus. Produk-produk turunannya juga sangat bagus, mulai dari (yang) ready to wear (siap dipakai) sampai pengelolaan limbah, seperti kain perca yang dibuat menjadi berbagai aksesori," katanya.

Menurutnya, inovasi dan segmentasi pasar menjadi kunci agar produk UMKM Jawa Tengah dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.

Pada kesempatan itu, ia mengajak masyarakat untuk mengunjungi Paviliun Jawa Tengah selama penyelenggaraan Inacraft di JICC.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Linda Widiastuti Ariningrum, menambahkan, produk yang ditampilkan dalam ajang tersebut memiliki beberapa kriteria, di antaranya produk unggulan daerah, kualitas dan kontinuitas produksi yang terjaga, serta telah memiliki orientasi pasar nasional dan global.

"Produk yang kita tampilkan merupakan produk unggulan Jawa Tengah atau masing-masing daerah dengan kualitas dan kontinuitas terjaga. Mengapa? Karena memang orientasinya sudah global market," ucapnya.

Selain kualitas, pihaknya juga menekankan aspek inovasi, kreativitas, kebaruan, serta keberlanjutan. Produk yang ditampilkan tidak hanya harus menarik secara visual, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan pasar yang semakin memperhatikan aspek lingkungan.

Salah satu contoh inovasi ditunjukkan oleh produk dari Sragen yang memanfaatkan bahan turunan tekstil. Produk tersebut tidak hanya mengandalkan kain sebagai bahan utama, tetapi mengolah material turunannya menjadi produk kreatif yang menyasar konsumen milenial dan generasi Z.

Salah satu desainer asal Sragen, Akhsan, mengatakan, produk pakaian yang dipamerkan memanfaatkan bahan turunan tekstil sebagai inovasi.  

Melalui brand Ikaten, ia mengembangkan teknologi upcycle woven, yang menggunakan limbah benang sarung goyor. Limbah itu diolah menjadi karya tenun dari tangan Simbah Surati, salah seorang perajin tenun tradisional di Sragen. Hasilnya, terciptalah karya fesyen yang disukai pasar di tingkat nasional.

Akhsan mengaku bersyukur melalui fasilitasi dari Dekranasda Kabupaten Sragen, kesempatan ini mempertemukan dirinya dengan hasil tenun Simbah Surati. 

"Terima kasih sekali, karena sudah difasilitasi dengan pameran, ke depannya bisa ada regenerasi untuk tenun tradisional yang saat ini dikembangkan Simbah Surati," harapnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu