Follow Us :              

Ketimbang PSBB, Wali Kota Semarang Pilih Berlakukan Jogo Tonggo

  24 April 2020  |   09:30:00  |   dibaca : 2303 
Kategori :
Bagikan :


Ketimbang PSBB, Wali Kota Semarang Pilih Berlakukan Jogo Tonggo

24 April 2020 | 09:30:00 | dibaca : 2303
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG – Ketimbang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memilih menerapkan program Jogo Tonggo, yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

"Sudah kami rapatkan peraturan wali kota (Perwalkot) pembatasan wilayah non-PSBB yaitu dengan model Jogo Tonggo. Hari Senin (27/4/2020) gerakan itu kita berlakukan di Semarang. Dasarnya semangat kondisi tanggap bencana, yang nanti akan mengatur tempat kerja, usaha, pendidikan dan kegiatan masyarakat," kata Hendi, sapaan Hendrar Prihadi, seusai mengikuti rapat bersama gubernur, wakil gubernur, beserta bupati dan wali kota di Semarang Raya, Jumat (24/4/2020). 

Hendi mengatakan, dengan memberlakukan Jogo Tonggo, pihaknya akan mengaktifkan perangkat kelurahan dan rukun warga (RW) di Kota Semarang. "Saat ini kami juga sudah melaksanakan sistem lumbung pangan kelurahan, meskipun basis kegiatannya ada di tingkat RW. Tapi ini sudah ready," katanya. 

Dengan pemberlakuan Jogo Tonggo, Hendi menjelaskan, petugas tingkat kelurahan dipersilakan melakukan karantina wilayah dengan portal, baik menggunakan portal besi yang sudah tersedia atau portal seadanya dari bambu maupun bahan lain.

Pemberlakuan Jogo Tonggo tersebut nantinya bakal mendapat dukungan penuh dari tim yang bertugas di 16 pos pantau. 

"Kita menaruh 16 pos pantau, 8 pos ditaruh di perbatasan dengan wilayah lain, 8 pos pantau di kota. Yang setiap pos pantau ada tiga tim patroli. Anggotanya TNI, Polri, dishub, Satpol-PP dan tenaga kesehatan. Total ada 48 tim patroli," katanya. 

Hendi mengatakan Jogo Tonggo tersebut bakal mulai diberlakukan pada Senin (27/4) lusa. Sementara Sabtu dan Minggu besok dimanfaatkan untuk persiapan dan sosialisasi ke masyarakat. Hendi berharap dengan cara tersebut penurunan kasus covid-19 di Semarang bisa menurun. 

"Pergerakan di Semarang tidak pernah ada berita klaim penurunan. Mudah-mudahan dengan banyaknya tim dan pos pantau, angka covid-19 di Semarang bisa menurun," harapnya.

Saat ini jumlah kasus COVID-19 di Kota Semarang merupakan yang terbesar di Jawa Tengah. Hendi, sapaan walikota Semarang mengatakan saat ini total pasien terkonfirmasi COVID-19 sebanyak 148. Dengan total sembuh 50, sementara 29 pasien meninggal yang terdiri dari 21 orang merupakan warga Semarang serta 8 orang warga luar kota.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, masyarakat harus turut mendukung pemberantasan wabah covid-19, antara lain dengan meningkatkan kebersihan, rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, juga tetap mengenakan masker, tinggal di rumah dan menerapkan physical distancing.

"Basisnya desa atau kampung. Kenapa? Ruang yang lebih kecil bisa kita lakukan kendali yang lebih manageble. Kalau kita mau tetapkan PSBB, sudahkah kita menghitung dan siap? Kalau belum, kita latihan dulu dengan melakukan tindakan seperti PSBB. Pasar mulai kita ubah mulai besok. Yang ke sana harus cuci tangan, wajib pakai masker, kalau tidak suruh pulang," kata Ganjar.


Bagikan :

SEMARANG – Ketimbang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memilih menerapkan program Jogo Tonggo, yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

"Sudah kami rapatkan peraturan wali kota (Perwalkot) pembatasan wilayah non-PSBB yaitu dengan model Jogo Tonggo. Hari Senin (27/4/2020) gerakan itu kita berlakukan di Semarang. Dasarnya semangat kondisi tanggap bencana, yang nanti akan mengatur tempat kerja, usaha, pendidikan dan kegiatan masyarakat," kata Hendi, sapaan Hendrar Prihadi, seusai mengikuti rapat bersama gubernur, wakil gubernur, beserta bupati dan wali kota di Semarang Raya, Jumat (24/4/2020). 

Hendi mengatakan, dengan memberlakukan Jogo Tonggo, pihaknya akan mengaktifkan perangkat kelurahan dan rukun warga (RW) di Kota Semarang. "Saat ini kami juga sudah melaksanakan sistem lumbung pangan kelurahan, meskipun basis kegiatannya ada di tingkat RW. Tapi ini sudah ready," katanya. 

Dengan pemberlakuan Jogo Tonggo, Hendi menjelaskan, petugas tingkat kelurahan dipersilakan melakukan karantina wilayah dengan portal, baik menggunakan portal besi yang sudah tersedia atau portal seadanya dari bambu maupun bahan lain.

Pemberlakuan Jogo Tonggo tersebut nantinya bakal mendapat dukungan penuh dari tim yang bertugas di 16 pos pantau. 

"Kita menaruh 16 pos pantau, 8 pos ditaruh di perbatasan dengan wilayah lain, 8 pos pantau di kota. Yang setiap pos pantau ada tiga tim patroli. Anggotanya TNI, Polri, dishub, Satpol-PP dan tenaga kesehatan. Total ada 48 tim patroli," katanya. 

Hendi mengatakan Jogo Tonggo tersebut bakal mulai diberlakukan pada Senin (27/4) lusa. Sementara Sabtu dan Minggu besok dimanfaatkan untuk persiapan dan sosialisasi ke masyarakat. Hendi berharap dengan cara tersebut penurunan kasus covid-19 di Semarang bisa menurun. 

"Pergerakan di Semarang tidak pernah ada berita klaim penurunan. Mudah-mudahan dengan banyaknya tim dan pos pantau, angka covid-19 di Semarang bisa menurun," harapnya.

Saat ini jumlah kasus COVID-19 di Kota Semarang merupakan yang terbesar di Jawa Tengah. Hendi, sapaan walikota Semarang mengatakan saat ini total pasien terkonfirmasi COVID-19 sebanyak 148. Dengan total sembuh 50, sementara 29 pasien meninggal yang terdiri dari 21 orang merupakan warga Semarang serta 8 orang warga luar kota.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, masyarakat harus turut mendukung pemberantasan wabah covid-19, antara lain dengan meningkatkan kebersihan, rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, juga tetap mengenakan masker, tinggal di rumah dan menerapkan physical distancing.

"Basisnya desa atau kampung. Kenapa? Ruang yang lebih kecil bisa kita lakukan kendali yang lebih manageble. Kalau kita mau tetapkan PSBB, sudahkah kita menghitung dan siap? Kalau belum, kita latihan dulu dengan melakukan tindakan seperti PSBB. Pasar mulai kita ubah mulai besok. Yang ke sana harus cuci tangan, wajib pakai masker, kalau tidak suruh pulang," kata Ganjar.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu