Follow Us :              

Terkesima, Ganjar Sambangi Budidaya Lele Eks Napiter

  20 December 2020  |   09:00:00  |   dibaca : 537 
Kategori :
Bagikan :


Terkesima, Ganjar Sambangi Budidaya Lele Eks Napiter

20 December 2020 | 09:00:00 | dibaca : 537
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG - Stigma negatif lazimnya melekat pada mantan narapidana, terutama yang pernah tersangkut kasus terorisme. Namun, stigma itu tidak berlaku bagi Warga Genuk, Kota Semarang, tepatnya di Sumur Adem IV Kelurahan Bangetayu Kulon. Di tempat itu, masyarakat dan eks narapidana terorisme (napiter) bisa berbaur rukun, bahkan bahu-membahu mengembangkan bisnis bersama yakni budidaya lele.

Adalah Sri Pujimulyo Siswanto, eks napiter yang telah dihukum 12 tahun karena menyembunyikan pelaku Bom Bali, Noordin M Top dan Dr Azhari yang menjadi inisiatornya. Bersama teman-teman eks napiter yang tergabung dalam Yayasan Persadani, Sri Puji memilih jalan ekonomi untuk bisa diterima kembali pada masyarakat.

Menggunakan lahan milik warga, Sri Puji dan teman-temannya mencoba budidaya lele. Bahkan ke depan, mereka berencana membuat tempat makan tengah sawah, dengan menu lele yang dibudidayakan itu. Lahan itu milik warga, dan sudah diizinkan untuk keperluan itu.

Melihat hal itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pun terkesima. Saat gowes, Ia menyambangi lokasi budidaya lele yang dikembangkan para eks napiter tersebut. Menurutnya, suasana itulah yang diharapkan terjadi di seluruh masyarakat Jawa Tengah.

"Ini contoh yang bagus, bagaimana eks napiter ini bisa kembali diterima masyarakat. Pak RT mendukung, pengusaha dan masyarakat mendukung, akhirnya mereka diterima, saling bantu bahkan bisnis bareng. Narasi-narasi positif inilah yang harus kita gaungkan," kata Ganjar.

Menurutnya, ada dua persoalan eks napiter bisa kembali pada masyarakat setelah bertaubat. Pertama adalah tingkat penerimaan masyarakat, dan kedua sektor ekonomi.

"Saya senang di sini semua masyarakat membantu, ada BNPT juga membantu, dan Pemda. Setelah masalah penerimaan masyarakat dan ekonomi selesai, kami harap mereka menjadi juru bicara yang mengedukasi masyarakat agar tidak terjerumus dalam bidang yang sama. Saya mengapresiasi dan pasti akan memberikan dukungan pada program-program ini," pungkasnya.

Sementara itu, Sri Pujimulyo Siswanto mengatakan bahwa inisiasi budidaya lele bersama eks napiter dan masyarakat sekitar dimulai sejak 2019 lalu. Sejak saat itu, kolam lele dengan kapasitas 7500-an ekor itu sudah panen satu kali.

"Panen pertama tidak kami jual, tapi kami bagikan pada masyarakat. Ini mau panen kedua, dan kami berencana membuka kuliner Lele Sawah dengan membangun saung di sekitar lahan ini," kata dia.

Tak hanya untuk mencukupi ekonomi keluarga dan anggota eks napiter lain yang ikut dalam budidaya itu, langkah budidaya lele tersebut dilakukan Sri Puji sebagai metode mendekatkan diri kepada masyarakat. Dengan budidaya lele itu, pergaulan dan interaksinya dengan masyarakat sekitar semakin cair.

"Kalau hanya duduk ngobrol saja tidak akan nyambung. Dengan kegiatan semacam ini, menjadi lebih akrab dengan masyarakat. Suasana jadi cair dan semua saling menerima serta memahami," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Persadani, Mahmudi alias Yusuf mengatakan bahwa 25 eks napiter yang ada di bawah naungan yayasan Persadani memang sudah menyatakan kembali pada pangkuan Ibu Pertiwi.

"Dengan begitu, kami meyakinkan masyarakat bahwa kami ingin ikut berkontribusi dalam membangun bangsa dan negara. Kami selalu berkoordinasi untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk sektor ekonomi. Kami berharap masyarakat mau menerima kami, mendukung kami untuk menjalani hari. Kami juga berharap bantuan serta dukungan pemerintah terhadap program-program yang kami jalankan ini," katanya.


Bagikan :

SEMARANG - Stigma negatif lazimnya melekat pada mantan narapidana, terutama yang pernah tersangkut kasus terorisme. Namun, stigma itu tidak berlaku bagi Warga Genuk, Kota Semarang, tepatnya di Sumur Adem IV Kelurahan Bangetayu Kulon. Di tempat itu, masyarakat dan eks narapidana terorisme (napiter) bisa berbaur rukun, bahkan bahu-membahu mengembangkan bisnis bersama yakni budidaya lele.

Adalah Sri Pujimulyo Siswanto, eks napiter yang telah dihukum 12 tahun karena menyembunyikan pelaku Bom Bali, Noordin M Top dan Dr Azhari yang menjadi inisiatornya. Bersama teman-teman eks napiter yang tergabung dalam Yayasan Persadani, Sri Puji memilih jalan ekonomi untuk bisa diterima kembali pada masyarakat.

Menggunakan lahan milik warga, Sri Puji dan teman-temannya mencoba budidaya lele. Bahkan ke depan, mereka berencana membuat tempat makan tengah sawah, dengan menu lele yang dibudidayakan itu. Lahan itu milik warga, dan sudah diizinkan untuk keperluan itu.

Melihat hal itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pun terkesima. Saat gowes, Ia menyambangi lokasi budidaya lele yang dikembangkan para eks napiter tersebut. Menurutnya, suasana itulah yang diharapkan terjadi di seluruh masyarakat Jawa Tengah.

"Ini contoh yang bagus, bagaimana eks napiter ini bisa kembali diterima masyarakat. Pak RT mendukung, pengusaha dan masyarakat mendukung, akhirnya mereka diterima, saling bantu bahkan bisnis bareng. Narasi-narasi positif inilah yang harus kita gaungkan," kata Ganjar.

Menurutnya, ada dua persoalan eks napiter bisa kembali pada masyarakat setelah bertaubat. Pertama adalah tingkat penerimaan masyarakat, dan kedua sektor ekonomi.

"Saya senang di sini semua masyarakat membantu, ada BNPT juga membantu, dan Pemda. Setelah masalah penerimaan masyarakat dan ekonomi selesai, kami harap mereka menjadi juru bicara yang mengedukasi masyarakat agar tidak terjerumus dalam bidang yang sama. Saya mengapresiasi dan pasti akan memberikan dukungan pada program-program ini," pungkasnya.

Sementara itu, Sri Pujimulyo Siswanto mengatakan bahwa inisiasi budidaya lele bersama eks napiter dan masyarakat sekitar dimulai sejak 2019 lalu. Sejak saat itu, kolam lele dengan kapasitas 7500-an ekor itu sudah panen satu kali.

"Panen pertama tidak kami jual, tapi kami bagikan pada masyarakat. Ini mau panen kedua, dan kami berencana membuka kuliner Lele Sawah dengan membangun saung di sekitar lahan ini," kata dia.

Tak hanya untuk mencukupi ekonomi keluarga dan anggota eks napiter lain yang ikut dalam budidaya itu, langkah budidaya lele tersebut dilakukan Sri Puji sebagai metode mendekatkan diri kepada masyarakat. Dengan budidaya lele itu, pergaulan dan interaksinya dengan masyarakat sekitar semakin cair.

"Kalau hanya duduk ngobrol saja tidak akan nyambung. Dengan kegiatan semacam ini, menjadi lebih akrab dengan masyarakat. Suasana jadi cair dan semua saling menerima serta memahami," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Persadani, Mahmudi alias Yusuf mengatakan bahwa 25 eks napiter yang ada di bawah naungan yayasan Persadani memang sudah menyatakan kembali pada pangkuan Ibu Pertiwi.

"Dengan begitu, kami meyakinkan masyarakat bahwa kami ingin ikut berkontribusi dalam membangun bangsa dan negara. Kami selalu berkoordinasi untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk sektor ekonomi. Kami berharap masyarakat mau menerima kami, mendukung kami untuk menjalani hari. Kami juga berharap bantuan serta dukungan pemerintah terhadap program-program yang kami jalankan ini," katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu