Follow Us :              

Tinjau Desa Dampingan, Taj Yasin Minta Anak Muda Terlibat Pasarkan Produk UMKM secara Online

  03 November 2021  |   14:00:00  |   dibaca : 288 
Kategori :
Bagikan :


Tinjau Desa Dampingan, Taj Yasin Minta Anak Muda Terlibat Pasarkan Produk UMKM secara Online

03 November 2021 | 14:00:00 | dibaca : 288
Kategori :
Bagikan :

Foto : Handy (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Handy (Humas Jateng)

PEMALANG - Pada era digitalisasi dan globalisasi, peran generasi muda dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sangat diperlukan. Termasuk turut terlibat memasarkan aneka produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada di pelosok daerah supaya dapat dikenal di pasar internasional. 

"Anak-anak muda desa harus dilatih teknik pemasaran, bisa lewat Facebook, Instagram, atau toko online dan media digital lainnya. Bahkan saya maupun Pak Ganjar juga membantu memasarkan produk-produk UMKM melalui lG dan nanti pasti ada yang melirik," ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat mengunjungi perajin UMKM tempe keripik di Desa Purwosari, Kecamatan Comal, Pemalang, Rabu (3/11/2021). 

Ia mengatakan, program Satu OPD Satu Desa Dampingan yang digagas Pemprov Jateng untuk mengentaskan kemiskinan, tidak hanya membangun jamban dan pemugaran rumah tidak layak huni, melainkan juga upaya berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat dengan berbagai kegiatan keterampilan dan usaha. 

Di antara upaya itu adalah pelatihan desain pengemasan produk UMKM supaya menarik pembeli, meningkatkan kualitas produk, hingga pemasaran melalui media digital agar produk dari daerah dapat dikenal dan dibeli masyarakat dari dalam daerah, luar daerah, sampai luar negeri. 

Taj Yasin mencontohkan tempe keripik produk salah satu UMKM warga Dusun Sirandu, Desa Purwosari. Awalnya dikemas dengan plastik polos dan hanya dijual di pasar-pasar tradisional. Setelah mendapat dampingan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah melalui program Satu OPD Satu Desa Dampingan, kini kemasan tempe keripik sudah jauh lebih menarik dan berkualitas. 

Menurutnya, selama ini tidak sedikit warga mengira kalau dikemas menarik dengan plastik  berkualitas akan membutuhkan modal banyak. Ia mencontohkan produk tempe keripik yang awalnya cuma dibungkus plastik biasa seberat setengah kilogram dan dijual di pasar seharga Rp 22 ribu per bungkus. Namun setelah dikemas dengan plastik menarik dan berkualitas satu bungkus dengan berat 200 gram dijual Rp 18 ribu. 

"Jangan lihat harga kemasannya, tetapi dilihat siapa yang membeli. Karena kalau sudah dikemas menarik akan banyak yang membeli. Kalau kemasan plastik biasa, kita jual di Jakarta atau jual online, maka orang akan mikir mau beli atau tidak ya. Tapi kalau kemasannya sudah bagus maka sangat menarik dan pembelinya lebih luas," jelasnya. 

Gus Yasin menambahkan, dengan melibatkan anak-anak muda dalam pemasaran digital, maka tempe keripik produk Purwosari tidak hanya dijual di Pasar Comal, tapi juga sampai Rembang dan kabupaten lainnya. Selain tempe keripik, produk unggulan lainnya di Desa Purwosari, yakni pemanfaatan kain perca menjadi beragam produk kerajinan bernilai ekonomi.


Bagikan :

PEMALANG - Pada era digitalisasi dan globalisasi, peran generasi muda dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sangat diperlukan. Termasuk turut terlibat memasarkan aneka produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada di pelosok daerah supaya dapat dikenal di pasar internasional. 

"Anak-anak muda desa harus dilatih teknik pemasaran, bisa lewat Facebook, Instagram, atau toko online dan media digital lainnya. Bahkan saya maupun Pak Ganjar juga membantu memasarkan produk-produk UMKM melalui lG dan nanti pasti ada yang melirik," ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat mengunjungi perajin UMKM tempe keripik di Desa Purwosari, Kecamatan Comal, Pemalang, Rabu (3/11/2021). 

Ia mengatakan, program Satu OPD Satu Desa Dampingan yang digagas Pemprov Jateng untuk mengentaskan kemiskinan, tidak hanya membangun jamban dan pemugaran rumah tidak layak huni, melainkan juga upaya berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat dengan berbagai kegiatan keterampilan dan usaha. 

Di antara upaya itu adalah pelatihan desain pengemasan produk UMKM supaya menarik pembeli, meningkatkan kualitas produk, hingga pemasaran melalui media digital agar produk dari daerah dapat dikenal dan dibeli masyarakat dari dalam daerah, luar daerah, sampai luar negeri. 

Taj Yasin mencontohkan tempe keripik produk salah satu UMKM warga Dusun Sirandu, Desa Purwosari. Awalnya dikemas dengan plastik polos dan hanya dijual di pasar-pasar tradisional. Setelah mendapat dampingan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah melalui program Satu OPD Satu Desa Dampingan, kini kemasan tempe keripik sudah jauh lebih menarik dan berkualitas. 

Menurutnya, selama ini tidak sedikit warga mengira kalau dikemas menarik dengan plastik  berkualitas akan membutuhkan modal banyak. Ia mencontohkan produk tempe keripik yang awalnya cuma dibungkus plastik biasa seberat setengah kilogram dan dijual di pasar seharga Rp 22 ribu per bungkus. Namun setelah dikemas dengan plastik menarik dan berkualitas satu bungkus dengan berat 200 gram dijual Rp 18 ribu. 

"Jangan lihat harga kemasannya, tetapi dilihat siapa yang membeli. Karena kalau sudah dikemas menarik akan banyak yang membeli. Kalau kemasan plastik biasa, kita jual di Jakarta atau jual online, maka orang akan mikir mau beli atau tidak ya. Tapi kalau kemasannya sudah bagus maka sangat menarik dan pembelinya lebih luas," jelasnya. 

Gus Yasin menambahkan, dengan melibatkan anak-anak muda dalam pemasaran digital, maka tempe keripik produk Purwosari tidak hanya dijual di Pasar Comal, tapi juga sampai Rembang dan kabupaten lainnya. Selain tempe keripik, produk unggulan lainnya di Desa Purwosari, yakni pemanfaatan kain perca menjadi beragam produk kerajinan bernilai ekonomi.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu