Follow Us :              

Borobudur Marathon Sukses Tanpa Keluhan

  28 November 2021  |   05:00:00  |   dibaca : 483 
Kategori :
Bagikan :


Borobudur Marathon Sukses Tanpa Keluhan

28 November 2021 | 05:00:00 | dibaca : 483
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

MAGELANG - Event Borobudur Marathon 2021 telah selesai dihelat. Sebanyak 42 atlet nasional yang berlomba di kategori elite race dan 128 pelari umum yang mengikuti kategori Tilik Candi telah menyelesaikan perlombaan pada Sabtu dan Minggu (27-28/11). Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan istrinya, Siti Atikoh, juga ikut berlari bersama peserta mereka. 

Meski masih dalam kondisi pandemi, namun event Borobudur Marathon tetap bisa digelar secara hybrid. Para peserta yang berhasil memenangkan ballot bisa ikut lari secara langsung di kawasan Candi Borobudur dan lainnya mengikuti lomba secara virtual di daerah masing-masing. 

Peserta yang terpilih mengikuti ajang ini secara langsung di Borobudur harus menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Selain wajib dikarantina dulu, mereka juga harus menjalani tes PCR. Bahkan masker juga baru diijinkan dilepas satu menit sebelum bendera start dikibarkan. 

Rute lintasan, karena pandemi, tidak lagi mengelilingi perkampungan-perkampungan di sekitar Borobudur, tetapi dibatasi hanya berlari memutari Candi Borobudur. Untuk kategori elite race dengan jarak 42,5 km, para peserta memutari Candi Borobudur sebanyak 12 kali. Sementara untuk kategori Tilik Candi dengan rute 21 km, hanya memutar sebanyak 6 kali. 

Pada event ini Gubernur dan istri ikut berlari di kategori Tilik Candi. Berbeda dengan Ibu Gubernur yang mampu menuntaskan 6 etape, Gubernur memutuskan berhenti di satu etape karena kelelahan. Meski ia hanya satu putaran saja, dirinya mengaku bisa mengamati dengan seksama antusias dan kegembiraaan semua peserta. 

"Saya senang eventnya sukses, bagus. Pengorganisasiannya bagus dan sangat profesional. Banyak yang ikut dan dari banyak tempat. Saya melihat mereka senang sekali," katanya. 

Pada Borobudur Marathon tahun ini masih 8000 peserta lebih yang harus mengikuti secara virtual di tempat masing-masing akibat aturan pembatasan kerumunan. Gubernur berharap, seiring kondisi pandemi yang semakin terkendalinya, tahun depan akan semakin banyak yang bisa mengikuti secara langsung. 

"Nanti kita siapkan Borobudur Marathon tahun 2022 mendatang. Saya berharap akan lebih banyak pelari yang mendapatkan ruang untuk beraksi di lokasi itu. Jadi masih ada ruang bagi pelari, setahun bisa latihan dan muncul atlet-atlet hebat dari ajang ini," terang Gubernur.

"Saya _ngobrol_ bareng peserta tadi, rasanya mereka senang semuanya. Sampai hari ini saya tidak mendapat komplen. Tapi kalau ada, pasti kita evaluasi," tambahnya. 

Sejauh ini Gubernur mengaku belum ada keluhan terkait penyelengggaraan event ini. Ia justru mendengar berbagai ungkapan rasa puas dari para peserta. Mereka menyebut event ini menjadi pelepas rindu pada gelaran event-event lari secara offline setelah dua tahun lebih dilanda pandemi. 

"Di masa pandemi ini jarang ada yang mengadakan lomba lari offline. Borobudur Marathon ini saya sangat salut. Luar biasa karena bisa menggelar ajang lomba lari offline dengan baik," kata Irmansyah, salah satu peserta Borobudur Marathon kategori Tilik Candi. 

Pelari berusia 31 tahun asal Kalimantan Barat ini mengatakan, ajang Borobudur Marathon menghilangkan rasa rindu pelari di Indonesia. Banyak pelari yang menantikan ajang tahunan ini. 

"Apalagi euforia pelari di Indonesia ini luar biasa. Harapannya banyak lagi event berikutnya yang digelar seperti ini," ucapnya. 

Hal senada disampaikan Candra Dewi, peserta lain asal Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ia mengatakan sudah sejak sebulan lalu mempersiapkan diri mengikuti ajang Borobudur Marathon. Pada para peserta yang mengikuti ajang ini secara virtual, ia mengingatkan agar mengikuti acara ini dengan penuh ketekunan dan kejujuran.


Bagikan :

MAGELANG - Event Borobudur Marathon 2021 telah selesai dihelat. Sebanyak 42 atlet nasional yang berlomba di kategori elite race dan 128 pelari umum yang mengikuti kategori Tilik Candi telah menyelesaikan perlombaan pada Sabtu dan Minggu (27-28/11). Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan istrinya, Siti Atikoh, juga ikut berlari bersama peserta mereka. 

Meski masih dalam kondisi pandemi, namun event Borobudur Marathon tetap bisa digelar secara hybrid. Para peserta yang berhasil memenangkan ballot bisa ikut lari secara langsung di kawasan Candi Borobudur dan lainnya mengikuti lomba secara virtual di daerah masing-masing. 

Peserta yang terpilih mengikuti ajang ini secara langsung di Borobudur harus menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Selain wajib dikarantina dulu, mereka juga harus menjalani tes PCR. Bahkan masker juga baru diijinkan dilepas satu menit sebelum bendera start dikibarkan. 

Rute lintasan, karena pandemi, tidak lagi mengelilingi perkampungan-perkampungan di sekitar Borobudur, tetapi dibatasi hanya berlari memutari Candi Borobudur. Untuk kategori elite race dengan jarak 42,5 km, para peserta memutari Candi Borobudur sebanyak 12 kali. Sementara untuk kategori Tilik Candi dengan rute 21 km, hanya memutar sebanyak 6 kali. 

Pada event ini Gubernur dan istri ikut berlari di kategori Tilik Candi. Berbeda dengan Ibu Gubernur yang mampu menuntaskan 6 etape, Gubernur memutuskan berhenti di satu etape karena kelelahan. Meski ia hanya satu putaran saja, dirinya mengaku bisa mengamati dengan seksama antusias dan kegembiraaan semua peserta. 

"Saya senang eventnya sukses, bagus. Pengorganisasiannya bagus dan sangat profesional. Banyak yang ikut dan dari banyak tempat. Saya melihat mereka senang sekali," katanya. 

Pada Borobudur Marathon tahun ini masih 8000 peserta lebih yang harus mengikuti secara virtual di tempat masing-masing akibat aturan pembatasan kerumunan. Gubernur berharap, seiring kondisi pandemi yang semakin terkendalinya, tahun depan akan semakin banyak yang bisa mengikuti secara langsung. 

"Nanti kita siapkan Borobudur Marathon tahun 2022 mendatang. Saya berharap akan lebih banyak pelari yang mendapatkan ruang untuk beraksi di lokasi itu. Jadi masih ada ruang bagi pelari, setahun bisa latihan dan muncul atlet-atlet hebat dari ajang ini," terang Gubernur.

"Saya _ngobrol_ bareng peserta tadi, rasanya mereka senang semuanya. Sampai hari ini saya tidak mendapat komplen. Tapi kalau ada, pasti kita evaluasi," tambahnya. 

Sejauh ini Gubernur mengaku belum ada keluhan terkait penyelengggaraan event ini. Ia justru mendengar berbagai ungkapan rasa puas dari para peserta. Mereka menyebut event ini menjadi pelepas rindu pada gelaran event-event lari secara offline setelah dua tahun lebih dilanda pandemi. 

"Di masa pandemi ini jarang ada yang mengadakan lomba lari offline. Borobudur Marathon ini saya sangat salut. Luar biasa karena bisa menggelar ajang lomba lari offline dengan baik," kata Irmansyah, salah satu peserta Borobudur Marathon kategori Tilik Candi. 

Pelari berusia 31 tahun asal Kalimantan Barat ini mengatakan, ajang Borobudur Marathon menghilangkan rasa rindu pelari di Indonesia. Banyak pelari yang menantikan ajang tahunan ini. 

"Apalagi euforia pelari di Indonesia ini luar biasa. Harapannya banyak lagi event berikutnya yang digelar seperti ini," ucapnya. 

Hal senada disampaikan Candra Dewi, peserta lain asal Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ia mengatakan sudah sejak sebulan lalu mempersiapkan diri mengikuti ajang Borobudur Marathon. Pada para peserta yang mengikuti ajang ini secara virtual, ia mengingatkan agar mengikuti acara ini dengan penuh ketekunan dan kejujuran.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu