Follow Us :              

Musda HNSI ke X, Gubernur Dorong Modernisasi Nelayan

  15 December 2021  |   17:00:00  |   dibaca : 731 
Kategori :
Bagikan :


Musda HNSI ke X, Gubernur Dorong Modernisasi Nelayan

15 December 2021 | 17:00:00 | dibaca : 731
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan saat ini nelayan seharusnya sudah tidak lagi mencari ikan tetapi menangkap ikan. Modernisasi, menurutnya, harus dilakukan oleh nelayan dengan memaksimalkan teknologi untuk mencari ikan. 

"Kita harapkan nelayan ke depan juga mulai modern. HNSI sebagai organisasi mulai introduksi peralatan untuk modernisasi, saya minta nelayan tidak ada lagi menangkap ikan saja, mencarinya (harus) dengan alat," ujar Gubernur usai memberikan sambutan, pada acara Musyawarah Daerah ke X Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) secara virtual di ruang kerjanya, Rabu (15/12). 

Selain itu, pada Musda tersebut  HNSI dalam juga diminta untuk membahas perbaikan database nelayan. Tujuannya, agar pemerintah bisa melakukan identifikasi lebih cepat ketika nelayan mengalami masalah. 

"Saya minta database nelayan. Perbaiki agar kita punya kepastian nelayan kita ada berapa di mana saja," ujarnya. 

Gubernur mengatakan, perbaikan database, akan berkaitan dengan data nelayan tangkap yang sedang tidak melaut. Sehingga bisa diketahui waktu yang tepat untuk memberikan pelatihan dan pemberdayaan bisa dilakukan. 

Pelatihan tersebut sekaligus untuk memperkenalkan modernisasi alat tangkap untuk para nelayan. Harapannya, para nelayan nantinya bisa lebih mudah menangkap ikan dengan hasil yang lebih memuaskan. 

"Nelayan tangkap itu kan tidak satu tahun dia melaut, itu hanya bulan saja. Nah ketika mereka tidak melaut, apa yang mesti dikerjakan? Itu pemberdayaan yang hari ini kita coba bantu kepada mereka," katanya. 

Bukan hanya data nelayan, Gubernur juga meminta HNSI juga diminta menghitung usaha industri perikanan agar mempermudah pendistribusian bantuan. 

"Memang kita minta identifikasi perusahaan-perusahaan yang terpukul itu. Problemnya apa? Apakah yang dulu bisa ekspor sekarang tidak bisa? Apakah problemnya permintaan yang belum ada atau alat transportasinya?" ujarnya. 

Jika pemerintah memiliki data yang lengkap maka pemerintah bisa mengetahui berapa dan di mana usaha industri perikanan yang bermasalah dan perlu dibantu, terutama saat pandemi.


Bagikan :

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan saat ini nelayan seharusnya sudah tidak lagi mencari ikan tetapi menangkap ikan. Modernisasi, menurutnya, harus dilakukan oleh nelayan dengan memaksimalkan teknologi untuk mencari ikan. 

"Kita harapkan nelayan ke depan juga mulai modern. HNSI sebagai organisasi mulai introduksi peralatan untuk modernisasi, saya minta nelayan tidak ada lagi menangkap ikan saja, mencarinya (harus) dengan alat," ujar Gubernur usai memberikan sambutan, pada acara Musyawarah Daerah ke X Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) secara virtual di ruang kerjanya, Rabu (15/12). 

Selain itu, pada Musda tersebut  HNSI dalam juga diminta untuk membahas perbaikan database nelayan. Tujuannya, agar pemerintah bisa melakukan identifikasi lebih cepat ketika nelayan mengalami masalah. 

"Saya minta database nelayan. Perbaiki agar kita punya kepastian nelayan kita ada berapa di mana saja," ujarnya. 

Gubernur mengatakan, perbaikan database, akan berkaitan dengan data nelayan tangkap yang sedang tidak melaut. Sehingga bisa diketahui waktu yang tepat untuk memberikan pelatihan dan pemberdayaan bisa dilakukan. 

Pelatihan tersebut sekaligus untuk memperkenalkan modernisasi alat tangkap untuk para nelayan. Harapannya, para nelayan nantinya bisa lebih mudah menangkap ikan dengan hasil yang lebih memuaskan. 

"Nelayan tangkap itu kan tidak satu tahun dia melaut, itu hanya bulan saja. Nah ketika mereka tidak melaut, apa yang mesti dikerjakan? Itu pemberdayaan yang hari ini kita coba bantu kepada mereka," katanya. 

Bukan hanya data nelayan, Gubernur juga meminta HNSI juga diminta menghitung usaha industri perikanan agar mempermudah pendistribusian bantuan. 

"Memang kita minta identifikasi perusahaan-perusahaan yang terpukul itu. Problemnya apa? Apakah yang dulu bisa ekspor sekarang tidak bisa? Apakah problemnya permintaan yang belum ada atau alat transportasinya?" ujarnya. 

Jika pemerintah memiliki data yang lengkap maka pemerintah bisa mengetahui berapa dan di mana usaha industri perikanan yang bermasalah dan perlu dibantu, terutama saat pandemi.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu