Follow Us :              

Workshop Pengarusutamaan Gender Bagi Anak, Wagub: "Diskusi Gender, Pancasila, Kenegaraan dan Patriotisme"

  27 June 2022  |   16:00:00  |   dibaca : 95 
Kategori :
Bagikan :


Workshop Pengarusutamaan Gender Bagi Anak, Wagub: "Diskusi Gender, Pancasila, Kenegaraan dan Patriotisme"

27 June 2022 | 16:00:00 | dibaca : 95
Kategori :
Bagikan :

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

SEMARANG - Membicarakan masalah pengarusutamaan gender dan nasionalisme dengan anak remaja, mungkin bukan perkara mudah. Tetapi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah memiliki cara  menyenangkan untuk melakukan hal ini. 

Puluhan remaja yang merupakan perwakilan dari Forum Anak Jawa Tengah, Forum Osis, Genre (Generasi Berencana) dikumpulkan dalam Workshop Pengarusutamaan Gender Bagi Anak yang berlangsung seru di Hotel Grasia, Senin (27/06/2022). Acara berlangsung seru  karena  adakannya kuis. Wakil Gubernur Jawa Tengah (Wagub Jateng), Taj Yasin Maimoen dan Kepala DP3AP2KB, Retno Sudewi, juga turut serta menjadi peserta dalam kuis tersebut, masing-masing berbeda kubu. 

Ada sejumlah pertanyaan bertema kesetaraan gender dan nilai nasionalisme yang harus dijawab dengan cepat. Mereka hanya diberi waktu 10 detik untuk menjawab, setelah membunyikan bel. Ketika akhirnya tidak bisa menjawab,  maka pertanyaan dilempar ke grup lawan. Grup lawan hanya diberikan waktu maksimal 5 detik untuk menjawab. 

Wagub berpendapat, workshop yang diselenggarakan DP3AP2KB ini, metodenya bagus. Sekali workshop, anak-anak bisa mendapatkan semua yang menjadi sasaran edukasi. 

"Yang pertama bagaimana anak diajak berbicara siapa (laki atau perempuan) yang menjadi pemimpin. Artinya gender benar-benar masuk. Tidak hanya gender saja, tetapi juga Pancasila, kenegaraan. Secara tidak langsung anak anak diajak (memahami), apa sih Pancasila itu, apa sih negara itu, apa sih patriotisme itu," terangnya. 

Metode lain yang menurut Wagub menarik, anak - anak diajak mendiskusikan persoalan gender dan nasionalisme sesuai usia mereka. Meskipun terdapat perbedaan usia diantara peserta, namun semua dianggap setara. Dampaknya, anak-anak menjadi berani berbicara dan mengutarakan pendapat untuk mencari solusi, sesuai dengan kebutuhan mereka. 

"Yang menarik lagi, mereka diajak mendiskusikan di usia mereka, seolah-olah kita semua ini sama usianya. Sehingga mereka mau bicara ini, mengutarakan ini, berpendapat ini, mereka jadi berani. Dan  permasalahan-permasalahan yang muncul, itu diutarakan anak-anak sendiri. Karena mereka yang melaksanakan, mereka yang mengalami, sehingga permasalahan itu bisa kita selesaikan sesuai dengan yang mereka butuhkan," tutupnya.


Bagikan :

SEMARANG - Membicarakan masalah pengarusutamaan gender dan nasionalisme dengan anak remaja, mungkin bukan perkara mudah. Tetapi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah memiliki cara  menyenangkan untuk melakukan hal ini. 

Puluhan remaja yang merupakan perwakilan dari Forum Anak Jawa Tengah, Forum Osis, Genre (Generasi Berencana) dikumpulkan dalam Workshop Pengarusutamaan Gender Bagi Anak yang berlangsung seru di Hotel Grasia, Senin (27/06/2022). Acara berlangsung seru  karena  adakannya kuis. Wakil Gubernur Jawa Tengah (Wagub Jateng), Taj Yasin Maimoen dan Kepala DP3AP2KB, Retno Sudewi, juga turut serta menjadi peserta dalam kuis tersebut, masing-masing berbeda kubu. 

Ada sejumlah pertanyaan bertema kesetaraan gender dan nilai nasionalisme yang harus dijawab dengan cepat. Mereka hanya diberi waktu 10 detik untuk menjawab, setelah membunyikan bel. Ketika akhirnya tidak bisa menjawab,  maka pertanyaan dilempar ke grup lawan. Grup lawan hanya diberikan waktu maksimal 5 detik untuk menjawab. 

Wagub berpendapat, workshop yang diselenggarakan DP3AP2KB ini, metodenya bagus. Sekali workshop, anak-anak bisa mendapatkan semua yang menjadi sasaran edukasi. 

"Yang pertama bagaimana anak diajak berbicara siapa (laki atau perempuan) yang menjadi pemimpin. Artinya gender benar-benar masuk. Tidak hanya gender saja, tetapi juga Pancasila, kenegaraan. Secara tidak langsung anak anak diajak (memahami), apa sih Pancasila itu, apa sih negara itu, apa sih patriotisme itu," terangnya. 

Metode lain yang menurut Wagub menarik, anak - anak diajak mendiskusikan persoalan gender dan nasionalisme sesuai usia mereka. Meskipun terdapat perbedaan usia diantara peserta, namun semua dianggap setara. Dampaknya, anak-anak menjadi berani berbicara dan mengutarakan pendapat untuk mencari solusi, sesuai dengan kebutuhan mereka. 

"Yang menarik lagi, mereka diajak mendiskusikan di usia mereka, seolah-olah kita semua ini sama usianya. Sehingga mereka mau bicara ini, mengutarakan ini, berpendapat ini, mereka jadi berani. Dan  permasalahan-permasalahan yang muncul, itu diutarakan anak-anak sendiri. Karena mereka yang melaksanakan, mereka yang mengalami, sehingga permasalahan itu bisa kita selesaikan sesuai dengan yang mereka butuhkan," tutupnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu