Follow Us :              

Perbaikan Jalan Penghubung di Kec. Kesugihan, Tingkatkan Pesat Ekonomi Masyarakat

  08 August 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 217 
Kategori :
Bagikan :


Perbaikan Jalan Penghubung di Kec. Kesugihan, Tingkatkan Pesat Ekonomi Masyarakat

08 August 2022 | 10:00:00 | dibaca : 217
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

CILACAP - Jalan penghubung empat desa di Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap bukan hanya menjadi kemudahan akses transportasi, tapi juga telah meningkatkan perekonomian warga. Bahkan saat ini wilayah tersebut sedang mempersiapkan diri menjadi desa wisata. 

Jalan beton sepanjang 8 kilometer yang diresmikan Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, pada Oktober 2019 lalu itu, melintasi Desa Pesanggrahan, Desa Karang Jengkol, Desa Keleng dan Desa Ciwuni tersebut dibangun dari dana gotong royong. Sumber dana berasal dari anggaran Bantuan Gubernur Rp 7 miliar, anggaran Pemerintah Pusat Rp5 miliar dan Pemerintah Kabupaten Rp 4 miliar. 

Kepala Desa Pesanggrahan, Tugiman menuturkan bahwa betonisasi jalan tersebut mampu meningkatkan perekonomian masyarakatnya. Bahkan, saat ini pihaknya tengah merintis obyek wisata Kampug Durian. 

“Dampaknya, perekonomian sangat meningkat. Dan, kita sedang membangun Kampung Durian, Wisata Kampung Durian karena akses jalan sudah baik, mudah dan nyaman,” ujarnya, Senin (8/8/2022) 

Kampung Durian sendiri merupakan edukasi wisata terutama di bidang budidaya durian dan palawija yang lain. Nantinya, bagi wisatawan selain dapat belajar budidaya tanaman, juga dapat menikmati buahnya. “Ini sedang kita rintis. Ya di lokasi kita tanami durian dan ada gazebo-gazebo,” lanjutnya. 

Dikatakannya, kondisi jalan dulunya berupa aspal, yang sudah rusak karena sering dilintasi truk galian C.  “Dulunya rusak, aspal rusak karena dilalui truk batu. Tapi sekarang sudah ditata bagus. Otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena untuk hasil pertanian dulu dipikul, sekarang sudah bisa pakai motor atau mobil,” paparnya. 

Pendapat serupa juga datang dari tokoh Masyarakat Desa Pesanggrahan, Tugiyo. “Dampak postifnya adalah perekonomian dalam satu tahun sangat meningkat tajam. Terlihat warung-warung muncul di pinggir jalan banyak banget. Dan juga agrowisata Kampung Durian baru rintinsan saja itu wisatawan, terutama pesepeda, luar biasa. Dulu mustahil bersepeda sekarang banyak yang bersepeda, cari singkong bakar, gadung goreng, dan durian kalau musim,” ungkapnya. 

Selain itu, kemudahan akses jalan juga dirasakan oleh para petani di desanya. Dulu saat jalan masih rusak, petani terpaksa memikul hasil panennya untuk dijual. Namun, sekarang sudah bisa pakai kendaraan bermotor. 

“ 80 persen warga di sini adalah petani. (Dulu) untuk mengangkut hasil panen sangat memprihatinkan, yakni dipikul. Setelah jalan dibangun pikulannya hilang, hasil pertanian mudah (transpotasi) dan memangkas pengeluaran dari petani. Hasil bumi, unggulannya singkong, cengkeh, kelapa, makanan tradisional semacam gadung,” imbuhnya.  

Kondisi tersebut, jelas Tugiyo, juga membuat harga lahan atau tanah di desanya naik drastis. “Harga lahan dulu hanya Rp500 ribu sampai Rp1 juta per ubin atau 14 meter persegi, sekarang per ubin Rp 3 juta tidak boleh,” terangnya.  

Begitu juga dengan pola pikir masyarakat yang berubah menjadi lebih baik setelah adanya akses jalan yang  bagus. “Sangat mengubah pola pikir hidup masyarakat. Tadinya misalnya ada kamar mandi atau toilet di sebelah jalan, kini sudah tergusur jadi lebih baik dan sehat,” ucap Tugiyo. 

Sementara itu, Sugiyati, warga Desa Pesanggrahan mengaku senang atas pembangunan jalan tersebut. Hal itu lantaran sangat membantu kemajuan usahanya. “Sangat bahagia, karena sangat berguna bagi saya. Jualan di pinggir jalan jadi ramai. Dulu jualannya di belakang rumah sepi, karena jalan susah tidak banyak yang lewat. Sekarang banyak yang bersepeda. saya jualan mi ayam soto, gorengan. Sangat senang dan bahagia karena pendapatan sekarang naik jauh dari dulunya,” tandas Sugiyati.


Bagikan :

CILACAP - Jalan penghubung empat desa di Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap bukan hanya menjadi kemudahan akses transportasi, tapi juga telah meningkatkan perekonomian warga. Bahkan saat ini wilayah tersebut sedang mempersiapkan diri menjadi desa wisata. 

Jalan beton sepanjang 8 kilometer yang diresmikan Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, pada Oktober 2019 lalu itu, melintasi Desa Pesanggrahan, Desa Karang Jengkol, Desa Keleng dan Desa Ciwuni tersebut dibangun dari dana gotong royong. Sumber dana berasal dari anggaran Bantuan Gubernur Rp 7 miliar, anggaran Pemerintah Pusat Rp5 miliar dan Pemerintah Kabupaten Rp 4 miliar. 

Kepala Desa Pesanggrahan, Tugiman menuturkan bahwa betonisasi jalan tersebut mampu meningkatkan perekonomian masyarakatnya. Bahkan, saat ini pihaknya tengah merintis obyek wisata Kampug Durian. 

“Dampaknya, perekonomian sangat meningkat. Dan, kita sedang membangun Kampung Durian, Wisata Kampung Durian karena akses jalan sudah baik, mudah dan nyaman,” ujarnya, Senin (8/8/2022) 

Kampung Durian sendiri merupakan edukasi wisata terutama di bidang budidaya durian dan palawija yang lain. Nantinya, bagi wisatawan selain dapat belajar budidaya tanaman, juga dapat menikmati buahnya. “Ini sedang kita rintis. Ya di lokasi kita tanami durian dan ada gazebo-gazebo,” lanjutnya. 

Dikatakannya, kondisi jalan dulunya berupa aspal, yang sudah rusak karena sering dilintasi truk galian C.  “Dulunya rusak, aspal rusak karena dilalui truk batu. Tapi sekarang sudah ditata bagus. Otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena untuk hasil pertanian dulu dipikul, sekarang sudah bisa pakai motor atau mobil,” paparnya. 

Pendapat serupa juga datang dari tokoh Masyarakat Desa Pesanggrahan, Tugiyo. “Dampak postifnya adalah perekonomian dalam satu tahun sangat meningkat tajam. Terlihat warung-warung muncul di pinggir jalan banyak banget. Dan juga agrowisata Kampung Durian baru rintinsan saja itu wisatawan, terutama pesepeda, luar biasa. Dulu mustahil bersepeda sekarang banyak yang bersepeda, cari singkong bakar, gadung goreng, dan durian kalau musim,” ungkapnya. 

Selain itu, kemudahan akses jalan juga dirasakan oleh para petani di desanya. Dulu saat jalan masih rusak, petani terpaksa memikul hasil panennya untuk dijual. Namun, sekarang sudah bisa pakai kendaraan bermotor. 

“ 80 persen warga di sini adalah petani. (Dulu) untuk mengangkut hasil panen sangat memprihatinkan, yakni dipikul. Setelah jalan dibangun pikulannya hilang, hasil pertanian mudah (transpotasi) dan memangkas pengeluaran dari petani. Hasil bumi, unggulannya singkong, cengkeh, kelapa, makanan tradisional semacam gadung,” imbuhnya.  

Kondisi tersebut, jelas Tugiyo, juga membuat harga lahan atau tanah di desanya naik drastis. “Harga lahan dulu hanya Rp500 ribu sampai Rp1 juta per ubin atau 14 meter persegi, sekarang per ubin Rp 3 juta tidak boleh,” terangnya.  

Begitu juga dengan pola pikir masyarakat yang berubah menjadi lebih baik setelah adanya akses jalan yang  bagus. “Sangat mengubah pola pikir hidup masyarakat. Tadinya misalnya ada kamar mandi atau toilet di sebelah jalan, kini sudah tergusur jadi lebih baik dan sehat,” ucap Tugiyo. 

Sementara itu, Sugiyati, warga Desa Pesanggrahan mengaku senang atas pembangunan jalan tersebut. Hal itu lantaran sangat membantu kemajuan usahanya. “Sangat bahagia, karena sangat berguna bagi saya. Jualan di pinggir jalan jadi ramai. Dulu jualannya di belakang rumah sepi, karena jalan susah tidak banyak yang lewat. Sekarang banyak yang bersepeda. saya jualan mi ayam soto, gorengan. Sangat senang dan bahagia karena pendapatan sekarang naik jauh dari dulunya,” tandas Sugiyati.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu