Follow Us :              

Buruh Migran Berikan Bendera Ukuran Besar Dalam Upacara Hut RI Pemprov Jateng

  17 August 2022  |   07:00:00  |   dibaca : 265 
Kategori :
Bagikan :


Buruh Migran Berikan Bendera Ukuran Besar Dalam Upacara Hut RI Pemprov Jateng

17 August 2022 | 07:00:00 | dibaca : 265
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo bertindak sebagai inspektur upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 77 Republik Indonesia di Lapangan Pancasila Simpanglima, Kota Semarang, Rabu (17/8/2022). Selain turut diikuti 22 eks narapidana teroris, upacara ini juga diikuti puluhan perwakilan buruh migran Jateng. 

Pada peringatan hari kemerdekaan kali ini, buruh migran memberikan bendera merah putih ukuran besar kepada Gubernur Jawa Tengah. Bendera tersebut kemudian dibentangkan bersama Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, Sekda Jateng Sumarno, serta para perwakilan buruh migran. 

"Sebenarnya itu ekspresi yang ingin mereka sampaikan bahwa iya kami dari buruh juga berkontribusi. Kami dari masyarakat yang mungkin termajinalkan juga bisa berkontribusi," ujar Gubenur penuh apresiasi. 

Mereka sebelumnya memang ingin menyerahkannya sejak lama, namun saat itu Gubenur meminta penyerahan tersebut ditunda. "Saya sampaikan, kamu ikut upacara saja. Kamu ikut hadir dan diserahkan di upacara. Alhamdulillah, semua tadi ikut pengibarannya sebagai satu simbol penerimaan kita," ujarnya. 

Perwakilan buruh migran, Novi Kurniasih menyampaikan, bendera tersebut mereka jahit sendiri oleh 150 orang, selama tiga bulan. Dengan ukuran panjang bendera sekitar 22,5 meter. 

"Bendara ini dari awal dijahit, akan diserahkan ke Bapak Gubernur dan diinisiatori oleh buruh migran Indonesia dari DPW SBMI (Dewan Perwakilan Wilayah Serikat Buruh Migran Indonesia) Jateng dan diikuti oleh 45 organisasi," terangnya. 

Pihaknya berharap melalui komunikasi tersebut akan mempercepat diterbitkannya Perda Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Mengingat Jateng merupakan salah satu pengirim buruh migran terbesar nomor dua. 

Kepada eks narapidana teroris, Gubernur berharap, mereka dapat menyampaikan kepada masyarakat tentang pengalaman yang mereka lakukan, kemudian memberikan edukasi yang benar. 

“Saya ingin mereka bercerita kepada masyarakat, menyampaikan pendidikan, baik kepada pelajar, di rumah ibadah, bahwa mereka punya pengalaman pernah salah. Dan, mereka bisa memberikan testimoni bagaimana mereka berproses kembali kepangkuan Ibu Pertiwi dan kemudian mereka bisa mengedukasi, termasuk tentang kegiatan sosialnya. Itu pesan yang ingin saya sampaikan agar anak bangsa tidak salah arah, agar semua nilai Pancasila betul membumi," terangnya. 

Kesempatan mengikuti upacara Hari Kemerdekaan RI bersama Gubernur disambut gembira para eks napiter. 

“Ya, Alhamdulillah kita bisa bersilaturahmi dengan eks naipter yang lain, dan dengan seluruh elemen masyarakat di sini. Jadi, ketika kita di sini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Tengah memiliki toleransi tinggi. Kita bisa diterima dari kalangan manapun,” ujar Joko Priyono, eks napiter yang mendapat kesempatan dipakaikan hasduk secara langsung oleh Gubernur. 

Dia sangat mengapresiasi inisiatif Gubernur yang telah mengundang para eks napiter untuk ikut memberi hormat bendera merah putih di hari kemerdekaan. 

“Saya apresiasi Pak Gubernur Ganjar yang telah memberi kesempatan eks napiter dalam upacara 17 Agustus ini,” lanjut napiter eks Jamaah Islamiyah yang divonis empat tahun penjara tersebut. 

Joko juga sangat berterima kasih, Pemerintah Provinsi Jateng juga telah memberikan perhatian lebih terhadap para eks napiter. Mereka tidak hanya diberikan pelatihan wirausaha, bahkan pinjaman modal. 

“Pemerintah Alhamdulillah baik. Setelah keluar dari penjara ada proses mengembalikan kesejahteraan, misalnya usaha (yang) Itu dilakukan secara nyata. Seperti memberikan pelatihan memasarkan produk. Dan, usaha bisa mengajukan proposal, Insyaallah dibantu,” ungkap Joko yang saat ini merintis usaha optik. 

Joko, saat ini mengaku membentuk Neo JI bersama rekan-rekannya yang telah keluar dari JI, dengan tujuan meluruskan pemahaman terorisme menuju ahlussunah wal jamaah.

“JI bubar di tahun 2007, dan di tahun 2008 saya mendirikan Neo JI untuk meluruskan pemahaman. Bersama teman-teman yang lain kita mencoba mengajak kembali kepada akidah ahlussunah wal jamaah. Tolong pahami Pancasila ini lebih adil, dari proses sejarah terbentuknya, sebagai suatu kemaslahatan, dan dibuat untuk kebaikan bangsa Indonesia,” imbuhnya.


Bagikan :

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo bertindak sebagai inspektur upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 77 Republik Indonesia di Lapangan Pancasila Simpanglima, Kota Semarang, Rabu (17/8/2022). Selain turut diikuti 22 eks narapidana teroris, upacara ini juga diikuti puluhan perwakilan buruh migran Jateng. 

Pada peringatan hari kemerdekaan kali ini, buruh migran memberikan bendera merah putih ukuran besar kepada Gubernur Jawa Tengah. Bendera tersebut kemudian dibentangkan bersama Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, Sekda Jateng Sumarno, serta para perwakilan buruh migran. 

"Sebenarnya itu ekspresi yang ingin mereka sampaikan bahwa iya kami dari buruh juga berkontribusi. Kami dari masyarakat yang mungkin termajinalkan juga bisa berkontribusi," ujar Gubenur penuh apresiasi. 

Mereka sebelumnya memang ingin menyerahkannya sejak lama, namun saat itu Gubenur meminta penyerahan tersebut ditunda. "Saya sampaikan, kamu ikut upacara saja. Kamu ikut hadir dan diserahkan di upacara. Alhamdulillah, semua tadi ikut pengibarannya sebagai satu simbol penerimaan kita," ujarnya. 

Perwakilan buruh migran, Novi Kurniasih menyampaikan, bendera tersebut mereka jahit sendiri oleh 150 orang, selama tiga bulan. Dengan ukuran panjang bendera sekitar 22,5 meter. 

"Bendara ini dari awal dijahit, akan diserahkan ke Bapak Gubernur dan diinisiatori oleh buruh migran Indonesia dari DPW SBMI (Dewan Perwakilan Wilayah Serikat Buruh Migran Indonesia) Jateng dan diikuti oleh 45 organisasi," terangnya. 

Pihaknya berharap melalui komunikasi tersebut akan mempercepat diterbitkannya Perda Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Mengingat Jateng merupakan salah satu pengirim buruh migran terbesar nomor dua. 

Kepada eks narapidana teroris, Gubernur berharap, mereka dapat menyampaikan kepada masyarakat tentang pengalaman yang mereka lakukan, kemudian memberikan edukasi yang benar. 

“Saya ingin mereka bercerita kepada masyarakat, menyampaikan pendidikan, baik kepada pelajar, di rumah ibadah, bahwa mereka punya pengalaman pernah salah. Dan, mereka bisa memberikan testimoni bagaimana mereka berproses kembali kepangkuan Ibu Pertiwi dan kemudian mereka bisa mengedukasi, termasuk tentang kegiatan sosialnya. Itu pesan yang ingin saya sampaikan agar anak bangsa tidak salah arah, agar semua nilai Pancasila betul membumi," terangnya. 

Kesempatan mengikuti upacara Hari Kemerdekaan RI bersama Gubernur disambut gembira para eks napiter. 

“Ya, Alhamdulillah kita bisa bersilaturahmi dengan eks naipter yang lain, dan dengan seluruh elemen masyarakat di sini. Jadi, ketika kita di sini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Tengah memiliki toleransi tinggi. Kita bisa diterima dari kalangan manapun,” ujar Joko Priyono, eks napiter yang mendapat kesempatan dipakaikan hasduk secara langsung oleh Gubernur. 

Dia sangat mengapresiasi inisiatif Gubernur yang telah mengundang para eks napiter untuk ikut memberi hormat bendera merah putih di hari kemerdekaan. 

“Saya apresiasi Pak Gubernur Ganjar yang telah memberi kesempatan eks napiter dalam upacara 17 Agustus ini,” lanjut napiter eks Jamaah Islamiyah yang divonis empat tahun penjara tersebut. 

Joko juga sangat berterima kasih, Pemerintah Provinsi Jateng juga telah memberikan perhatian lebih terhadap para eks napiter. Mereka tidak hanya diberikan pelatihan wirausaha, bahkan pinjaman modal. 

“Pemerintah Alhamdulillah baik. Setelah keluar dari penjara ada proses mengembalikan kesejahteraan, misalnya usaha (yang) Itu dilakukan secara nyata. Seperti memberikan pelatihan memasarkan produk. Dan, usaha bisa mengajukan proposal, Insyaallah dibantu,” ungkap Joko yang saat ini merintis usaha optik. 

Joko, saat ini mengaku membentuk Neo JI bersama rekan-rekannya yang telah keluar dari JI, dengan tujuan meluruskan pemahaman terorisme menuju ahlussunah wal jamaah.

“JI bubar di tahun 2007, dan di tahun 2008 saya mendirikan Neo JI untuk meluruskan pemahaman. Bersama teman-teman yang lain kita mencoba mengajak kembali kepada akidah ahlussunah wal jamaah. Tolong pahami Pancasila ini lebih adil, dari proses sejarah terbentuknya, sebagai suatu kemaslahatan, dan dibuat untuk kebaikan bangsa Indonesia,” imbuhnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu