Follow Us :              

Petakan Resiko Bencana, Gubernur Dukung Upaya Mitigasi DAS Juwana

  23 August 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 125 
Kategori :
Bagikan :


Petakan Resiko Bencana, Gubernur Dukung Upaya Mitigasi DAS Juwana

23 August 2022 | 10:00:00 | dibaca : 125
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG - Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana masuk program Prioritas Nasional pemetaan risiko bencana. Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo mengapresiasi kajian dan masukan yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

Hal itu disampaikan usai menghadiri acara Diskusi Publik Pemetaan Resiko Bencana di DAS Juwana, di Hotel Gumaya Semarang, Selasa (23/8). Diharapkan pemetaan ini juga bisa berjalan di DAS lainnya. 

“Jadi kalau kita ingin membenahi, itu nanti seperti apa sih yang terjadi. Kalau didiamkan seperti apa sih yang akan terjadi dari aspek kebencanaannya,” jelas Gubernur. 

Selama ini sedimentasi acapkali menjadi permasalahan DAS di wilayah Jateng. Salah satu penyebabnya adalah pembuangan limbah sembarangan. Sedimentasi mengakibatkan kesulitan bagi kapal untuk bersandar. 

“Kemudian kalau sedimentasinya sudah tinggi kapal tidak bisa parkir. Kapal-kapal yang di sungai juwana itu parkirnya sulit, kemudian suk-sukan (berdesakan) (akibatnya) terbakar,” katanya. 

Diskusi pemetaan potensi bencana ini, menurut Gubernur perlu terus dilakukan. Selain untuk mitigasi, juga berguna dalam rangka merawat keberlangsungan sungai. 

“Nah kalau kemudian secara pentahelix (multipihak) ini kita bisa mengerjakan, harapan kita penanganannya akan lebih baik. Mudah-mudahan semuanya bisa dilakukan mitigasi dengan baik sehingga sungai itu kembali berfungsi seperti semula yang bermanfaat, dan kemudian meminimalkan potensi kebencanaan yang terjadi," ujarnya. 

Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Dr. Ir. Udrekh yang mengikuti secara daring menjelaskan, program ini dilakukan sebagai langkah sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah. 

“Suatu kegiatan itu dilakukan oleh beberapa pihak, dan jika ada kemauan untuk saling bersinergi, maka akan bisa saling mendukung. Semangat inilah yang harus kita bangun,” ujar Udrekh. 

Rentang waktu rencana pelaksanaan kegiatan, kata Udrekh telah berjalan sejak bulan April lalu. Juni dan Juli dilakukan penyusunan draft peta bahaya dan kerentanan serta verifikasi dan validasi. 

“Ini diskusi publik pertama, nanti September diskusi publik kedua. Kita harapkan akan banyak masukan juga untuk mendukung kegiatan ini,” tandasnya


Bagikan :

SEMARANG - Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana masuk program Prioritas Nasional pemetaan risiko bencana. Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo mengapresiasi kajian dan masukan yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

Hal itu disampaikan usai menghadiri acara Diskusi Publik Pemetaan Resiko Bencana di DAS Juwana, di Hotel Gumaya Semarang, Selasa (23/8). Diharapkan pemetaan ini juga bisa berjalan di DAS lainnya. 

“Jadi kalau kita ingin membenahi, itu nanti seperti apa sih yang terjadi. Kalau didiamkan seperti apa sih yang akan terjadi dari aspek kebencanaannya,” jelas Gubernur. 

Selama ini sedimentasi acapkali menjadi permasalahan DAS di wilayah Jateng. Salah satu penyebabnya adalah pembuangan limbah sembarangan. Sedimentasi mengakibatkan kesulitan bagi kapal untuk bersandar. 

“Kemudian kalau sedimentasinya sudah tinggi kapal tidak bisa parkir. Kapal-kapal yang di sungai juwana itu parkirnya sulit, kemudian suk-sukan (berdesakan) (akibatnya) terbakar,” katanya. 

Diskusi pemetaan potensi bencana ini, menurut Gubernur perlu terus dilakukan. Selain untuk mitigasi, juga berguna dalam rangka merawat keberlangsungan sungai. 

“Nah kalau kemudian secara pentahelix (multipihak) ini kita bisa mengerjakan, harapan kita penanganannya akan lebih baik. Mudah-mudahan semuanya bisa dilakukan mitigasi dengan baik sehingga sungai itu kembali berfungsi seperti semula yang bermanfaat, dan kemudian meminimalkan potensi kebencanaan yang terjadi," ujarnya. 

Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Dr. Ir. Udrekh yang mengikuti secara daring menjelaskan, program ini dilakukan sebagai langkah sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah. 

“Suatu kegiatan itu dilakukan oleh beberapa pihak, dan jika ada kemauan untuk saling bersinergi, maka akan bisa saling mendukung. Semangat inilah yang harus kita bangun,” ujar Udrekh. 

Rentang waktu rencana pelaksanaan kegiatan, kata Udrekh telah berjalan sejak bulan April lalu. Juni dan Juli dilakukan penyusunan draft peta bahaya dan kerentanan serta verifikasi dan validasi. 

“Ini diskusi publik pertama, nanti September diskusi publik kedua. Kita harapkan akan banyak masukan juga untuk mendukung kegiatan ini,” tandasnya


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu