Follow Us :              

Harga Kebutuhan Turun, Jateng Catat Deflasi Agustus -0,39 Persen

  01 September 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 160 
Kategori :
Bagikan :


Harga Kebutuhan Turun, Jateng Catat Deflasi Agustus -0,39 Persen

01 September 2022 | 10:00:00 | dibaca : 160
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

SEMARANG - Badan Pusat Statistik Jawa Tengah (BPS Jateng) mencatat terjadi penurunan harga atau deflasi sebesar -0,39 persen pada Agustus 2022. Jumlah ini bahkan melebihi besaran nasional yang mencatat deflasi sebesar -0,21 persen. 

Kepala BPS Jateng Adhi Wiriana mengatakan, indikasi ini memperlihatkan penurunan harga pada sejumlah komoditas. Di antaranya bahan makanan, dan turunnya harga tiket penerbangan pada bulan tersebut. 

"Alhamdulillah setelah sekian kita lama mengalami inflasi, pada Agustus kita (Jateng) mengalami deflasi dengan besaran yang cukup besar yakni -0,39 persen (dibanding Juli 2022).  Ini lebih tinggi dibanding deflasi nasional yang  -0,21 persen," sebutnya, pada press rilis daring pada kanal Youtube BPS Prov Jateng, Kamis (1/9/2022). 

Turut dikatakan, turunnya sejumlah harga baik makanan dan non makanan terjadi pada kota-kota besar di Jateng. Pantauan BPS Jateng, ada enam kota yakni Kota Cilacap, Kota Purwokerto, Kota Kudus, Kota Surakarta, Kota Semarang dan Kota Tegal. 

Deflasi tertinggi tercatat di Kota Tegal sebesar -0,64 persen, disusul Kota Cilacap-0,55 persen, Kota Purwokerto dan Kota Semarang masing-masing -0,44 persen. Sedangkan pada Kota Kudus terjadi deflasi -0,31 persen dan deflasi terendah di Kota Surakarta dengan -0,06 persen.  

"Ini menandakan, bulan Agustus 2022 terjadi penurunan harga komoditas baik pada makanan dan non makanan. Secara tradisional pada 2020 dan 2021 terjadi pula deflasi, namun relatif kecil berada pada kisaran -0,01 persen dan -0,03 persen," jelas Kepala BPS Jateng. 

Faktor penyebab deflasi pada Agustus 2022 adalah penurunan harga bawang merah, cabai merah, tarif angkutan udara, minyak goreng dan cabai rawit. Sedangkan, penahan deflasi adalah kenaikan upah tukang bukan mandor, harga beras, rokok kretek filter, telur ayam ras dan pisang. 

Penurunan harga pada komoditas bawang merah maupun cabai merah disebabkan beberapa daerah sentra produksi  sedang panen besar sehingga pasokan dan distribusi  pun terjaga. Pada Agustus 2022 terjadi penurunan tarif angkutan udara, karena  harga avtur turun sehingga maskapai melakukan penyesuaian tarif angkutan udara," sebutnya.

Meski demikian, Kepala BPS Jateng mengingatkan agar momen penurunan harga atau deflasi di Jateng bisa terjaga. Hal ini karena, jika dilihat dari inflasi tahun ke tahun, Jateng sudah mencapai level psikologis. Pada level ini masyarakat terdorong untuk memborong komoditi tertentu untuk stok karena yakin harganya akan naik. 

Catatan BPS Jateng inflasi tahun kalender 2022 mencapai 3,87 persen (Agustus 2022 terhadap Desember 2021). Sementara inflasi tahun ke tahun mencapai 5,03 persen (Agustus 2022 terhadap Agustus 2021). Mengacu pada data tersebut Kepala BPS Jateng berharap kondisi deflasi ini bisa terus bertahan. 

"Terlihat dari inflasi Year on Year, kita sudah di atas batas angka psikologis tiga plus minus satu, untuk tahun kalender (inflasi) kita sudah berada di atas  4 persen yakni 5,03 persen. Mudah-mudahan kondisi deflasi ini bisa terjaga sampai akhir tahun," pungkas


Bagikan :

SEMARANG - Badan Pusat Statistik Jawa Tengah (BPS Jateng) mencatat terjadi penurunan harga atau deflasi sebesar -0,39 persen pada Agustus 2022. Jumlah ini bahkan melebihi besaran nasional yang mencatat deflasi sebesar -0,21 persen. 

Kepala BPS Jateng Adhi Wiriana mengatakan, indikasi ini memperlihatkan penurunan harga pada sejumlah komoditas. Di antaranya bahan makanan, dan turunnya harga tiket penerbangan pada bulan tersebut. 

"Alhamdulillah setelah sekian kita lama mengalami inflasi, pada Agustus kita (Jateng) mengalami deflasi dengan besaran yang cukup besar yakni -0,39 persen (dibanding Juli 2022).  Ini lebih tinggi dibanding deflasi nasional yang  -0,21 persen," sebutnya, pada press rilis daring pada kanal Youtube BPS Prov Jateng, Kamis (1/9/2022). 

Turut dikatakan, turunnya sejumlah harga baik makanan dan non makanan terjadi pada kota-kota besar di Jateng. Pantauan BPS Jateng, ada enam kota yakni Kota Cilacap, Kota Purwokerto, Kota Kudus, Kota Surakarta, Kota Semarang dan Kota Tegal. 

Deflasi tertinggi tercatat di Kota Tegal sebesar -0,64 persen, disusul Kota Cilacap-0,55 persen, Kota Purwokerto dan Kota Semarang masing-masing -0,44 persen. Sedangkan pada Kota Kudus terjadi deflasi -0,31 persen dan deflasi terendah di Kota Surakarta dengan -0,06 persen.  

"Ini menandakan, bulan Agustus 2022 terjadi penurunan harga komoditas baik pada makanan dan non makanan. Secara tradisional pada 2020 dan 2021 terjadi pula deflasi, namun relatif kecil berada pada kisaran -0,01 persen dan -0,03 persen," jelas Kepala BPS Jateng. 

Faktor penyebab deflasi pada Agustus 2022 adalah penurunan harga bawang merah, cabai merah, tarif angkutan udara, minyak goreng dan cabai rawit. Sedangkan, penahan deflasi adalah kenaikan upah tukang bukan mandor, harga beras, rokok kretek filter, telur ayam ras dan pisang. 

Penurunan harga pada komoditas bawang merah maupun cabai merah disebabkan beberapa daerah sentra produksi  sedang panen besar sehingga pasokan dan distribusi  pun terjaga. Pada Agustus 2022 terjadi penurunan tarif angkutan udara, karena  harga avtur turun sehingga maskapai melakukan penyesuaian tarif angkutan udara," sebutnya.

Meski demikian, Kepala BPS Jateng mengingatkan agar momen penurunan harga atau deflasi di Jateng bisa terjaga. Hal ini karena, jika dilihat dari inflasi tahun ke tahun, Jateng sudah mencapai level psikologis. Pada level ini masyarakat terdorong untuk memborong komoditi tertentu untuk stok karena yakin harganya akan naik. 

Catatan BPS Jateng inflasi tahun kalender 2022 mencapai 3,87 persen (Agustus 2022 terhadap Desember 2021). Sementara inflasi tahun ke tahun mencapai 5,03 persen (Agustus 2022 terhadap Agustus 2021). Mengacu pada data tersebut Kepala BPS Jateng berharap kondisi deflasi ini bisa terus bertahan. 

"Terlihat dari inflasi Year on Year, kita sudah di atas batas angka psikologis tiga plus minus satu, untuk tahun kalender (inflasi) kita sudah berada di atas  4 persen yakni 5,03 persen. Mudah-mudahan kondisi deflasi ini bisa terjaga sampai akhir tahun," pungkas


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu