Follow Us :              

K.H. Maimoen Zubair Terima Penghargaan Adiluhung, Wagub: Sosok yang Mengabdi untuk Keutuhan Indonesia 

  23 July 2025  |   19:00:00  |   dibaca : 342 
Kategori :
Bagikan :


K.H. Maimoen Zubair Terima Penghargaan Adiluhung, Wagub: Sosok yang Mengabdi untuk Keutuhan Indonesia 

23 July 2025 | 19:00:00 | dibaca : 342
Kategori :
Bagikan :

Foto : Medianto (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Medianto (Humas Jateng)

SEMARANG - Mendiang K.H. Maimoen Zubair (Mbah Moen) mendapatkan penghargaan kategori Adiluhung, dalam ajang Detik Jateng-Jogja Awards 2025 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang pada Rabu, 23 Juli 2025. 

Penghargaan ini diberikan oleh Pemimpin Redaksi Detik.com, Alfito Deannova Gintings, kepada Wakil Gubernur Jateng sekaligus putra dari K.H. Maimoen Zubair, Taj Yasin Maimoen.

K.H. Maimoen Zubair menerima penghargaan Adiluhung berkat berbagai pemikiran dan keteladanannya sebagai ulama dan tokoh bangsa dalam bidang keilmuan, keagamaan, dan kemanusiaan.

Sebagai informasi, Mbah Moen merupakan tokoh yang lahir di Sarang, Kabupaten Rembang pada 28 Oktober 1928. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Al Anwar Rembang. Saat ini, Ponpes Al Anwar Rembang terus berkembang dan terbagi menjadi 4 model sesuai dengan fokus pembelajaran agamanya masing-masing.

Dalam kesempatan itu, Wagub menyatakan, K.H. Maimoen Zubair merupakan sosok yang terus mengabdikan diri untuk keutuhan Indonesia. Bahkan, sang ayah pernah menjadi tentara rakyat pada masa perjuangan kemerdekaan. 

"Mbah Maimoen yang saya kenal, dan bercerita kepada kami, beliau lulusan dari TNI. Beliau mengabdi untuk negara, dimulai saat perjuangan (kemerdekaan), kantornya di Koramil (Komando Rayon Militer) Sarang, Rembang," katanya.

Namun, Mbah Moen akhirnya mengundurkan diri dan mengabdikan hidupnya untuk menjaga kebutuhan negara di jalan lain.

Wagub mengungkapkan, Mbah Moen ingin suksesi kepemimpinan bukan sebagai upaya untuk menggantikan, melainkan upaya yang dilakukan untuk melanjutkan kepemimpinan sebelumnya. 
 
"Itu cita-cita beliau yang disampaikan kepada saya pribadi," ucapnya.

Ia menceritakan, Mbah Moen pernah memintanya masuk ke dunia politik. Hal itu terwujud, bahkan ia sudah dua kali terpilih menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah. Wagub memegang amanah yang disampaikan oleh sang ayah untuk tetap melanjutkan kepemimpinan sebelumnya.

Wagub mengatakan, ada pesan dari Mbah Moen yang harus dipegang bersama. Apapun kondisinya, Indonesia harus menjadi yang nomor satu. 

"Saya mengikuti beliau. Pernah suatu ketika (beliau) tidak sependapat dengan pemerintah, akan tetapi itu tidak disampaikan (secara terbuka). Tetap didukung dengan diberikan (masukan dan) pemikiran-pemikiran beliau," katanya.

Menurutnya, arah pemikiran Mbah Moen hingga saat ini masih sangat relavan, yaitu menyelesaikan persoalan dengan mencari titik tengah.

Pemimpin Redaksi Detik.com, Alfito Deannova, mengatakan, mendiang K.H. Maimoen Zubair semasa hidupnya merupakan pembela kemanusiaan, kebhinekaan, dan Pancasila.

"Tak jarang, sosok (Mbah Moen) menjadi penengah dari gesekan sosial hingga friksi (perpecahan) para elit politik. Dia meneladani pandangan tentang konsep lita'arafu (saling mengenal) dan konsep sawa' atau menekankan pada titik temu. Keduanya lahir dari pemikirannya yang masih relevan hingga saat ini," ucapnya.


Bagikan :

SEMARANG - Mendiang K.H. Maimoen Zubair (Mbah Moen) mendapatkan penghargaan kategori Adiluhung, dalam ajang Detik Jateng-Jogja Awards 2025 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang pada Rabu, 23 Juli 2025. 

Penghargaan ini diberikan oleh Pemimpin Redaksi Detik.com, Alfito Deannova Gintings, kepada Wakil Gubernur Jateng sekaligus putra dari K.H. Maimoen Zubair, Taj Yasin Maimoen.

K.H. Maimoen Zubair menerima penghargaan Adiluhung berkat berbagai pemikiran dan keteladanannya sebagai ulama dan tokoh bangsa dalam bidang keilmuan, keagamaan, dan kemanusiaan.

Sebagai informasi, Mbah Moen merupakan tokoh yang lahir di Sarang, Kabupaten Rembang pada 28 Oktober 1928. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Al Anwar Rembang. Saat ini, Ponpes Al Anwar Rembang terus berkembang dan terbagi menjadi 4 model sesuai dengan fokus pembelajaran agamanya masing-masing.

Dalam kesempatan itu, Wagub menyatakan, K.H. Maimoen Zubair merupakan sosok yang terus mengabdikan diri untuk keutuhan Indonesia. Bahkan, sang ayah pernah menjadi tentara rakyat pada masa perjuangan kemerdekaan. 

"Mbah Maimoen yang saya kenal, dan bercerita kepada kami, beliau lulusan dari TNI. Beliau mengabdi untuk negara, dimulai saat perjuangan (kemerdekaan), kantornya di Koramil (Komando Rayon Militer) Sarang, Rembang," katanya.

Namun, Mbah Moen akhirnya mengundurkan diri dan mengabdikan hidupnya untuk menjaga kebutuhan negara di jalan lain.

Wagub mengungkapkan, Mbah Moen ingin suksesi kepemimpinan bukan sebagai upaya untuk menggantikan, melainkan upaya yang dilakukan untuk melanjutkan kepemimpinan sebelumnya. 
 
"Itu cita-cita beliau yang disampaikan kepada saya pribadi," ucapnya.

Ia menceritakan, Mbah Moen pernah memintanya masuk ke dunia politik. Hal itu terwujud, bahkan ia sudah dua kali terpilih menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah. Wagub memegang amanah yang disampaikan oleh sang ayah untuk tetap melanjutkan kepemimpinan sebelumnya.

Wagub mengatakan, ada pesan dari Mbah Moen yang harus dipegang bersama. Apapun kondisinya, Indonesia harus menjadi yang nomor satu. 

"Saya mengikuti beliau. Pernah suatu ketika (beliau) tidak sependapat dengan pemerintah, akan tetapi itu tidak disampaikan (secara terbuka). Tetap didukung dengan diberikan (masukan dan) pemikiran-pemikiran beliau," katanya.

Menurutnya, arah pemikiran Mbah Moen hingga saat ini masih sangat relavan, yaitu menyelesaikan persoalan dengan mencari titik tengah.

Pemimpin Redaksi Detik.com, Alfito Deannova, mengatakan, mendiang K.H. Maimoen Zubair semasa hidupnya merupakan pembela kemanusiaan, kebhinekaan, dan Pancasila.

"Tak jarang, sosok (Mbah Moen) menjadi penengah dari gesekan sosial hingga friksi (perpecahan) para elit politik. Dia meneladani pandangan tentang konsep lita'arafu (saling mengenal) dan konsep sawa' atau menekankan pada titik temu. Keduanya lahir dari pemikirannya yang masih relevan hingga saat ini," ucapnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu