Follow Us :              

27 Ribu Siswa Membatik Pecahkan Rekor Muri, Bunda PAUD Jateng: Ajak Anak Cinta Budaya Batik

  02 October 2025  |   07:00:00  |   dibaca : 793 
Kategori :
Bagikan :

27 Ribu Siswa Membatik Pecahkan Rekor Muri, Bunda PAUD Jateng: Ajak Anak Cinta Budaya Batik

02 October 2025 | 07:00:00 | dibaca : 793
Kategori :
Bagikan :

Foto : Sigit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
27 Ribu Siswa Membatik Pecahkan Rekor Muri, Bunda PAUD Jateng: Ajak Anak Cinta Budaya Batik
27 Ribu Siswa Membatik Pecahkan Rekor Muri, Bunda PAUD Jateng: Ajak Anak Cinta Budaya Batik
27 Ribu Siswa Membatik Pecahkan Rekor Muri, Bunda PAUD Jateng: Ajak Anak Cinta Budaya Batik
27 Ribu Siswa Membatik Pecahkan Rekor Muri, Bunda PAUD Jateng: Ajak Anak Cinta Budaya Batik
27 Ribu Siswa Membatik Pecahkan Rekor Muri, Bunda PAUD Jateng: Ajak Anak Cinta Budaya Batik

Foto : Sigit (Humas Jateng)

SEMARANG – Sebanyak 27 ribu siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Jawa Tengah melakukan gerakan “Ayo Membatik Serentak Bersama Bunda PAUD Jateng” dalam Peringatan Hari Batik Nasional pada Kamis, 2 Oktober 2025.

Adapun dari 27 ribu siswa, sebanyak 3 ribu siswa membatik di Stadion Jatidiri Semarang, sementara 24 ribu siswa lainnya berpartisipasi secara daring, dari sekolah PAUD binaan Yayasan Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama (YPMNU) di seluruh Jawa Tengah.

Kegiatan yang diikuti ribuan siswa ini berhasil memecahkan rekor Edukasi Membatik secara Serentak Anak Usia Dini Terbanyak pada Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).

Pada kesempatan itu, Bunda PAUD Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengajak anak-anak usia dini untuk membantik bersama. Sebab, membatik tidak hanya untuk melestarikan budaya Jawa, tetapi juga membiasakan anak untuk cinta terhadap bangsanya.

"Setiap motifnya adalah cerita kebhinnekaan, dan dari setiap torehan tintanya adalah cinta kepada bangsa," ucapnya di GOR Jatidiri Semarang. 

Menurutnya, filosofi membatik sangatlah penting. Maka dari itu, ia mendorong agar anak-anak usia dini mulai diajarkan untuk membatik.

Apalagi, saat ini gempuran budaya asing begitu massif, termasuk dalam hal berpakaian. Apabila tidak dibentengi dengan cinta budaya bangsa, anak-anak bisa melupakan budayanya sendiri. 

"Mengajari anak-anak membatik bisa meningkatkan literasi dan pengalaman langsung. Saya mendorong bunda PAUD se-Jateng untuk mengajak anak, cinta budaya batik," harapnya. 

Selain cinta batik, Ning Nawal juga meminta kepada Bunda PAUD se-Jateng untuk menyosialisasikan program PAUD Emas (PAUD swadaya masyarakat) dan Satu Desa Dua PAUD. 

Ia juga menginginkan, Bunda PAUD berkolaborasi dengan posyandu untuk menginformasikan kepada orang tua terkait dengan kebijakan wajib belajar 1 tahun prasekolah bagi anak usia 5-6 tahun. 

Dalam kegiatan itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, berharap, peringatan Hari Batik Nasional ini mampu memperkuat produksi dan industri batik di 35 Kabupaten/Kota di Jateng.

Ia mengungkapkan, tamu dari negara sahabat juga tertarik dengan batik, bahkan ingin mengundang guru batik untuk mengajar di negara mereka.

"Waktu saya mendampingi Bapak Gubernur Ahmad Luthfi menerima tamu dari Kerajaan Malaka, mereka sangat tertarik pada batik, dan meminta guru batik dari Jawa Tengah untuk mengajar di Malaysia," katanya.

Harapannya, dari Jawa Tengah akan lahir guru-guru membatik yang dapat menyebarkan ilmunya ke berbagai negara.


Bagikan :

SEMARANG – Sebanyak 27 ribu siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Jawa Tengah melakukan gerakan “Ayo Membatik Serentak Bersama Bunda PAUD Jateng” dalam Peringatan Hari Batik Nasional pada Kamis, 2 Oktober 2025.

Adapun dari 27 ribu siswa, sebanyak 3 ribu siswa membatik di Stadion Jatidiri Semarang, sementara 24 ribu siswa lainnya berpartisipasi secara daring, dari sekolah PAUD binaan Yayasan Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama (YPMNU) di seluruh Jawa Tengah.

Kegiatan yang diikuti ribuan siswa ini berhasil memecahkan rekor Edukasi Membatik secara Serentak Anak Usia Dini Terbanyak pada Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).

Pada kesempatan itu, Bunda PAUD Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengajak anak-anak usia dini untuk membantik bersama. Sebab, membatik tidak hanya untuk melestarikan budaya Jawa, tetapi juga membiasakan anak untuk cinta terhadap bangsanya.

"Setiap motifnya adalah cerita kebhinnekaan, dan dari setiap torehan tintanya adalah cinta kepada bangsa," ucapnya di GOR Jatidiri Semarang. 

Menurutnya, filosofi membatik sangatlah penting. Maka dari itu, ia mendorong agar anak-anak usia dini mulai diajarkan untuk membatik.

Apalagi, saat ini gempuran budaya asing begitu massif, termasuk dalam hal berpakaian. Apabila tidak dibentengi dengan cinta budaya bangsa, anak-anak bisa melupakan budayanya sendiri. 

"Mengajari anak-anak membatik bisa meningkatkan literasi dan pengalaman langsung. Saya mendorong bunda PAUD se-Jateng untuk mengajak anak, cinta budaya batik," harapnya. 

Selain cinta batik, Ning Nawal juga meminta kepada Bunda PAUD se-Jateng untuk menyosialisasikan program PAUD Emas (PAUD swadaya masyarakat) dan Satu Desa Dua PAUD. 

Ia juga menginginkan, Bunda PAUD berkolaborasi dengan posyandu untuk menginformasikan kepada orang tua terkait dengan kebijakan wajib belajar 1 tahun prasekolah bagi anak usia 5-6 tahun. 

Dalam kegiatan itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, berharap, peringatan Hari Batik Nasional ini mampu memperkuat produksi dan industri batik di 35 Kabupaten/Kota di Jateng.

Ia mengungkapkan, tamu dari negara sahabat juga tertarik dengan batik, bahkan ingin mengundang guru batik untuk mengajar di negara mereka.

"Waktu saya mendampingi Bapak Gubernur Ahmad Luthfi menerima tamu dari Kerajaan Malaka, mereka sangat tertarik pada batik, dan meminta guru batik dari Jawa Tengah untuk mengajar di Malaysia," katanya.

Harapannya, dari Jawa Tengah akan lahir guru-guru membatik yang dapat menyebarkan ilmunya ke berbagai negara.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu