Foto : Fajar (Humas Jateng)
Foto : Fajar (Humas Jateng)
SEMARANG – Gelaran Central Java Investment Forum (CJIBF) 2026 untuk menarik investasi ke Jawa Tengah telah menunjukkan hasil. Baru sehari dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., ajang tersebut menghasilkan sebanyak 40 Letter of Intent (LOI) atau surat pernyataan minat dengan nilai mencapai Rp16 triliun.
Capaian tersebut diperoleh dari rangkaian one on one meeting antara calon investor dengan pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, dan para pelaku usaha.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengatakan, 40 LoI tersebut merupakan hasil dari one on one meeting 21 proyek yang ditawarkan kepada calon investor, terdiri dari 17 proyek yang mencakup sektor energi terbarukan, pertanian dan hilirisasi pangan, pariwisata hingga pertambangan di Jawa Tengah. Selain itu, Jawa Tengah memiliki 4 kawasan industri utama, yaitu Kendal Special Economic Zone, Industropolis Batang Special Economic Zone, Wijayakusuma Industrial Park, dan Jatengland Industrial Park Sayung.
"Tentunya ini menjadi tugas dari DPMPTSP untuk mengawal. Kepeminatan, yang kemudian, sudah tanda tangan Letter of Intent ini kita kawal untuk betul-betul menjadi realisasi investasi," ucapnya di sela mendampingi Gubernur Jateng dalam acara Gala Dinner Rapat Kerja Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD MPU) di Hotel Tentrem, Kota Semarang pada Senin, 11 Mei 2026.
Ia mengatakan, para calon investor yang melakukan one on one meeting sangat antusias pada semua sektor yang ditawarkan. Bahkan, para calon investor dari dalam dan luar negeri menyatakan komitmen awal untuk melakukan kerja sama bisnis/investasi.
Adapun sektor yang menarik minat calon investor dalam negeri atau penanaman modal dalam negeri (PMDN), meliputi industri manufaktur, biomassa, geothermal, industri garam, serta mocaf dan hilirisasi produk.
"Ada penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN). PMA yang saya tahu ada dari Thailand, Cina, dan India. Kepeminatan itu kami kawal terus. Biasanya juga butuh waktu 1-2 tahun, realisasi itu tergantung pada negara (asal investor) untuk melakukan kajian," jelasnya.
Ka DPMPTSP Jateng menambahkan, CJIBF digelar untuk mendorong pencapaian target investasi setiap tahun. Tahun lalu, realisasi investasi di Jateng mencapai Rp110 triliun. Pada tahun 2026, target investasi yang masuk diharapkan bisa melebihi tahun sebelumnya.
Pada kesempatan itu, Gubernur Jateng menyatakan, CJIBF merupakan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jawa Tengah untuk mempromosikan potensi investasi di provinsi ini. Tujuannya untuk mempertemukan pengusaha atau calon investor, baik dalam negeri maupun luar negeri, dengan pemerintah dan mitra, termasuk kawasan industri dan dunia usaha.
Ia menegaskan, pihaknya akan terus menggenjot sektor investasi di wilayahnya. Sebab, sektor investasi memberikan kontribusi besar dalam perekonomian daerah. Tingginya investasi itu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jateng triwulan I 2026 sebesar 5,89% atau di atas rata-rata nasional 5,61%.
“Artinya untuk meningkatkan ekonomi di wilayah kita perlu adanya forum-forum seperti ini," jelasnya.
Guna mendukung investasi, Provinsi Jateng telah menyiapkan sekitar 12 kawasan industri dan ekonomi khusus baru. Hal ini menjadi salah satu upaya collaborative governance (pemerintahan kolaboratif) antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah.
SEMARANG – Gelaran Central Java Investment Forum (CJIBF) 2026 untuk menarik investasi ke Jawa Tengah telah menunjukkan hasil. Baru sehari dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., ajang tersebut menghasilkan sebanyak 40 Letter of Intent (LOI) atau surat pernyataan minat dengan nilai mencapai Rp16 triliun.
Capaian tersebut diperoleh dari rangkaian one on one meeting antara calon investor dengan pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, dan para pelaku usaha.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengatakan, 40 LoI tersebut merupakan hasil dari one on one meeting 21 proyek yang ditawarkan kepada calon investor, terdiri dari 17 proyek yang mencakup sektor energi terbarukan, pertanian dan hilirisasi pangan, pariwisata hingga pertambangan di Jawa Tengah. Selain itu, Jawa Tengah memiliki 4 kawasan industri utama, yaitu Kendal Special Economic Zone, Industropolis Batang Special Economic Zone, Wijayakusuma Industrial Park, dan Jatengland Industrial Park Sayung.
"Tentunya ini menjadi tugas dari DPMPTSP untuk mengawal. Kepeminatan, yang kemudian, sudah tanda tangan Letter of Intent ini kita kawal untuk betul-betul menjadi realisasi investasi," ucapnya di sela mendampingi Gubernur Jateng dalam acara Gala Dinner Rapat Kerja Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD MPU) di Hotel Tentrem, Kota Semarang pada Senin, 11 Mei 2026.
Ia mengatakan, para calon investor yang melakukan one on one meeting sangat antusias pada semua sektor yang ditawarkan. Bahkan, para calon investor dari dalam dan luar negeri menyatakan komitmen awal untuk melakukan kerja sama bisnis/investasi.
Adapun sektor yang menarik minat calon investor dalam negeri atau penanaman modal dalam negeri (PMDN), meliputi industri manufaktur, biomassa, geothermal, industri garam, serta mocaf dan hilirisasi produk.
"Ada penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN). PMA yang saya tahu ada dari Thailand, Cina, dan India. Kepeminatan itu kami kawal terus. Biasanya juga butuh waktu 1-2 tahun, realisasi itu tergantung pada negara (asal investor) untuk melakukan kajian," jelasnya.
Ka DPMPTSP Jateng menambahkan, CJIBF digelar untuk mendorong pencapaian target investasi setiap tahun. Tahun lalu, realisasi investasi di Jateng mencapai Rp110 triliun. Pada tahun 2026, target investasi yang masuk diharapkan bisa melebihi tahun sebelumnya.
Pada kesempatan itu, Gubernur Jateng menyatakan, CJIBF merupakan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jawa Tengah untuk mempromosikan potensi investasi di provinsi ini. Tujuannya untuk mempertemukan pengusaha atau calon investor, baik dalam negeri maupun luar negeri, dengan pemerintah dan mitra, termasuk kawasan industri dan dunia usaha.
Ia menegaskan, pihaknya akan terus menggenjot sektor investasi di wilayahnya. Sebab, sektor investasi memberikan kontribusi besar dalam perekonomian daerah. Tingginya investasi itu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jateng triwulan I 2026 sebesar 5,89% atau di atas rata-rata nasional 5,61%.
“Artinya untuk meningkatkan ekonomi di wilayah kita perlu adanya forum-forum seperti ini," jelasnya.
Guna mendukung investasi, Provinsi Jateng telah menyiapkan sekitar 12 kawasan industri dan ekonomi khusus baru. Hal ini menjadi salah satu upaya collaborative governance (pemerintahan kolaboratif) antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Berita Terbaru