Follow Us :              

Wagub Apresiasi Peran Media dalam Peningkatan Indeks Demokrasi Jateng

  21 May 2026  |   14:00:00  |   dibaca : 208 
Kategori :
Bagikan :

Wagub Apresiasi Peran Media dalam Peningkatan Indeks Demokrasi Jateng

21 May 2026 | 14:00:00 | dibaca : 208
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Wagub Apresiasi Peran Media dalam Peningkatan Indeks Demokrasi Jateng
Wagub Apresiasi Peran Media dalam Peningkatan Indeks Demokrasi Jateng
Wagub Apresiasi Peran Media dalam Peningkatan Indeks Demokrasi Jateng
Wagub Apresiasi Peran Media dalam Peningkatan Indeks Demokrasi Jateng
Wagub Apresiasi Peran Media dalam Peningkatan Indeks Demokrasi Jateng

Foto : Adit (Humas Jateng)

SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menilai, media massa turut berkontribusi terhadap tingginya Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di Jawa Tengah pada tahun 2025. 

Sebagai informasi, nilai IDI di Jateng tahun 2025 sebesar 86,72 atau mengalami peningkatan 0,88 dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian itu menempatkan Jateng di peringkat ketiga nasional.

Oleh karena itu, Wagub memberikan apresiasi khusus kepada media-media di wilayahnya, yang dinilai mampu meningkatkan indeks demokrasi di Jateng. 

“Penghargaan itu sebenarnya bukan untuk Pemprov saja, tetapi untuk kita semua, khususnya media,” ucapnya saat memberikan keynote speech dalam acara Jateng Media Summit 2026 di Khas Hotel Semarang pada Kamis, 21 Mei 2026. 

Ia menyebut, media memiliki peran besar dalam menjaga keterbukaan informasi dan memperkuat partisipasi publik. Hal ini tentunya menjadi bagian penting dalam penilaian indeks demokrasi.

“Indeks demokrasi itu lahir dari keterlibatan masyarakat maupun keterlibatan media. Maka capaian ini perlu kita genjot bersama-sama,” ujarnya.

Dalam forum yang diikuti 100 media lokal dan 30 homeless media tersebut, Wagub secara khusus menyoroti perubahan besar ekosistem media di era digital. Menurutnya, kini media massa tidak hanya bersaing dengan sesama perusahaan pers, tetapi juga menghadapi derasnya arus media di ruang digital.

“Media mainstream (arus utama) sekarang tantangannya adalah media sosial dan homeless media (media digital tanpa web resmi). Ternyata homeless media ini minatnya luar biasa,” katanya.

Meskipun demikian, ia menilai media arus utama tetap memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya adanya verifikasi data, menerapkan kode etik jurnalistik, dan ada pertanggungjawaban terhadap informasi yang dipublikasikan.

Sementara itu, Wagub mengakui bahwa homeless media memiliki kekuatan dalam menjangkau audiens. Apalagi, panyajian konten lebih cepat dan visual yang lebih sesuai dengan pola konsumsi informasi generasi saat ini.

Oleh karena itu, ia tidak ingin media mainstream dan homeless media saling berseberangan. Sebaliknya, ia mendorong keduanya berkolaborasi untuk membangun ruang informasi yang sehat sekaligus mendukung demokrasi.

“Pertemuan antara media mainstream dengan homeless media ini, harapannya ada titik temu. Karena tujuan kita sama, mencerdaskan masyarakat dan mengawal negara ini,” katanya.

Wagub menilai, kolaborasi ini perlu dilakukan agar ruang digital tidak dipenuhi informasi yang menyesatkan atau hoaks. Ia khawatir, jika homeless media berkembang tanpa pendampingan media yang memiliki standar jurnalistik, maka masyarakat akan kesulitan membedakan informasi valid dan tidak.

Ia menyampaikan, media juga berperan penting untuk membantu pemerintah membaca persoalan masyarakat secara cepat. 

Salah satu contohnya adalah kasus pemutusan kontrak kerja sebuah perusahaan di Kabupaten Sragen yang sempat ramai diberitakan di media. Setelah kasus itu menjadi perhatian publik, pemerintah dapat segera turun tangan dan sebagian pekerja terdampak akhirnya berhasil dialihkan ke perusahaan lain.

“Inilah pentingnya media. Banyak hal bisa cepat kita tangani, karena adanya pemberitaan,” katanya.

Penyelenggara Jateng Media Summit 2026, Suwarjono, mengatakan bahwa forum ini memang dirancang untuk mempertemukan media lokal, digital, dan homeless untuk membahas masa depan industri media di Jateng.

Selain diskusi, kegiatan ini juga diisi workshop pengelolaan website pemerintah dan pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk media lokal.

“Kita ingin media di Jawa Tengah terus hidup dan mampu bertransformasi. Kalau medianya sehat secara bisnis, maka kontennya juga akan berkualitas,” ucapnya.


Bagikan :

SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menilai, media massa turut berkontribusi terhadap tingginya Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di Jawa Tengah pada tahun 2025. 

Sebagai informasi, nilai IDI di Jateng tahun 2025 sebesar 86,72 atau mengalami peningkatan 0,88 dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian itu menempatkan Jateng di peringkat ketiga nasional.

Oleh karena itu, Wagub memberikan apresiasi khusus kepada media-media di wilayahnya, yang dinilai mampu meningkatkan indeks demokrasi di Jateng. 

“Penghargaan itu sebenarnya bukan untuk Pemprov saja, tetapi untuk kita semua, khususnya media,” ucapnya saat memberikan keynote speech dalam acara Jateng Media Summit 2026 di Khas Hotel Semarang pada Kamis, 21 Mei 2026. 

Ia menyebut, media memiliki peran besar dalam menjaga keterbukaan informasi dan memperkuat partisipasi publik. Hal ini tentunya menjadi bagian penting dalam penilaian indeks demokrasi.

“Indeks demokrasi itu lahir dari keterlibatan masyarakat maupun keterlibatan media. Maka capaian ini perlu kita genjot bersama-sama,” ujarnya.

Dalam forum yang diikuti 100 media lokal dan 30 homeless media tersebut, Wagub secara khusus menyoroti perubahan besar ekosistem media di era digital. Menurutnya, kini media massa tidak hanya bersaing dengan sesama perusahaan pers, tetapi juga menghadapi derasnya arus media di ruang digital.

“Media mainstream (arus utama) sekarang tantangannya adalah media sosial dan homeless media (media digital tanpa web resmi). Ternyata homeless media ini minatnya luar biasa,” katanya.

Meskipun demikian, ia menilai media arus utama tetap memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya adanya verifikasi data, menerapkan kode etik jurnalistik, dan ada pertanggungjawaban terhadap informasi yang dipublikasikan.

Sementara itu, Wagub mengakui bahwa homeless media memiliki kekuatan dalam menjangkau audiens. Apalagi, panyajian konten lebih cepat dan visual yang lebih sesuai dengan pola konsumsi informasi generasi saat ini.

Oleh karena itu, ia tidak ingin media mainstream dan homeless media saling berseberangan. Sebaliknya, ia mendorong keduanya berkolaborasi untuk membangun ruang informasi yang sehat sekaligus mendukung demokrasi.

“Pertemuan antara media mainstream dengan homeless media ini, harapannya ada titik temu. Karena tujuan kita sama, mencerdaskan masyarakat dan mengawal negara ini,” katanya.

Wagub menilai, kolaborasi ini perlu dilakukan agar ruang digital tidak dipenuhi informasi yang menyesatkan atau hoaks. Ia khawatir, jika homeless media berkembang tanpa pendampingan media yang memiliki standar jurnalistik, maka masyarakat akan kesulitan membedakan informasi valid dan tidak.

Ia menyampaikan, media juga berperan penting untuk membantu pemerintah membaca persoalan masyarakat secara cepat. 

Salah satu contohnya adalah kasus pemutusan kontrak kerja sebuah perusahaan di Kabupaten Sragen yang sempat ramai diberitakan di media. Setelah kasus itu menjadi perhatian publik, pemerintah dapat segera turun tangan dan sebagian pekerja terdampak akhirnya berhasil dialihkan ke perusahaan lain.

“Inilah pentingnya media. Banyak hal bisa cepat kita tangani, karena adanya pemberitaan,” katanya.

Penyelenggara Jateng Media Summit 2026, Suwarjono, mengatakan bahwa forum ini memang dirancang untuk mempertemukan media lokal, digital, dan homeless untuk membahas masa depan industri media di Jateng.

Selain diskusi, kegiatan ini juga diisi workshop pengelolaan website pemerintah dan pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk media lokal.

“Kita ingin media di Jawa Tengah terus hidup dan mampu bertransformasi. Kalau medianya sehat secara bisnis, maka kontennya juga akan berkualitas,” ucapnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu