Follow Us :              

Jateng Jadi Primadona Investasi, Kemudahan Perizinan hingga Biaya Hidup Jadi Daya Tarik

  18 August 2026  |   13:00:00  |   dibaca : 357 
Kategori :
Bagikan :

Jateng Jadi Primadona Investasi, Kemudahan Perizinan hingga Biaya Hidup Jadi Daya Tarik

18 August 2026 | 13:00:00 | dibaca : 357
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Jateng Jadi Primadona Investasi, Kemudahan Perizinan hingga Biaya Hidup Jadi Daya Tarik
Jateng Jadi Primadona Investasi, Kemudahan Perizinan hingga Biaya Hidup Jadi Daya Tarik
Jateng Jadi Primadona Investasi, Kemudahan Perizinan hingga Biaya Hidup Jadi Daya Tarik
Jateng Jadi Primadona Investasi, Kemudahan Perizinan hingga Biaya Hidup Jadi Daya Tarik
Jateng Jadi Primadona Investasi, Kemudahan Perizinan hingga Biaya Hidup Jadi Daya Tarik

Foto : Fajar (Humas Jateng)

SEMARANG — Kementerian Investasi dan Hilirisasi mengakui bahwa Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu primadona investasi di Indonesia. Sebab, dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi, infrastruktur yang memadai, kemudahan perizinan, kondusivitas wilayah, dan living cost atau biaya hidup menjadi daya tarik bagi para investor dari luar negeri.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Saribua Siahaan, saat bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., di Kota Semarang pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian penilaian lapangan yang dilakukan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi di Jawa Tengah.

"Jawa Tengah ini primadona, selain infrastruktur yang bagus, terus sistem pemerintahan daerah dan perizinan bagus, living cost-nya kompetitif, sehingga menjadi daya tarik investor untuk memilih Jawa Tengah sebagai tujuan investasi," ucap Saribua.

Menurutnya, mempromosikan potensi investasi di Jawa Tengah kepada para calon investor juga cukup mudah dengan semua indikator tersebut. Berdasarkan pengalamannya dalam mempromosikan potensi investasi dan meyakinkan investor, persoalan lahan dan perizinan menjadi indikator utama. 

Kemudahan itu, tidak lepas dari kolaborasi kuat antara Pemprov Jateng melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi. Karakteristik Jawa Tengah juga sangat menarik bagi investasi sektor manufaktur atau bersifat padat karya.

"Pengalaman saya sendiri (ketika menawarkan potensi investasi), investor yang memilih Jawa Tengah itu tidak hanya 1 atau 2. Yang jelas, Jawa Tengah itu primadona yang dilirik banyak investor," jelasnya.

Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, selama ini Jawa Tengah terus berupaya menjaga kondusivitas wilayah serta menciptakan iklim investasi yang sehat. Kemudahan perizinan dan jaminan keamanan kepada calon investor pun terus didorong. Tentu saja didukung dengan regulasi, peningkatan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM), serta aspek lainnya.

"Menciptakan iklim investasi yang sehat dan kondusif memang menjadi tanggung jawab kita semua. Investasi ini penting untuk perkembangan wilayah, mereduksi angka kemiskinan dan pengangguran," katanya.

Dari berbagai upaya tersebut, realisasi investasi di Jateng terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai gambaran, realisasi investasi Jateng pada 2025 mencapai sekitar Rp110 triliun. Pada tahun ini, tepatnya sepanjang semester I-2026, realisasi investasinya sudah mencapai Rp59,94 triliun, meliputi penanaman modal asing (PMA) Rp25,92 triliun, penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp22,62 triliun, serta usaha mikro dan kecil (UMK) Rp11,40 triliun. Selain itu, serapan tenaga kerja semester I-2026 sudah mencapai sekitar 213 ribu orang.

Capaian itu juga diiringi oleh pertumbuhan ekonomi yang baik, tercatat pada semester I-2026 pertumbuhan ekonomi Jateng mencapai 5,80%. Sementara angka kemiskinan di Jawa Tengah per Maret 2026 turun dari 9,48% menjadi 9,21%. Kemudian, tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Februari 2026 sebesar 4,24% atau turun 0,09% dibandingkan dengan Februari 2025 sebesar 4,33%.

"Dalam membangun wilayah, kita tidak bisa mengandalkan APBD saja, maka investasi menjadi salah satu sumber daya. Untuk itu, kami terus tawarkan potensi investasi di Jawa Tengah kepada banyak calon investor," ucap Gubernur.


Bagikan :

SEMARANG — Kementerian Investasi dan Hilirisasi mengakui bahwa Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu primadona investasi di Indonesia. Sebab, dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi, infrastruktur yang memadai, kemudahan perizinan, kondusivitas wilayah, dan living cost atau biaya hidup menjadi daya tarik bagi para investor dari luar negeri.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Saribua Siahaan, saat bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., di Kota Semarang pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian penilaian lapangan yang dilakukan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi di Jawa Tengah.

"Jawa Tengah ini primadona, selain infrastruktur yang bagus, terus sistem pemerintahan daerah dan perizinan bagus, living cost-nya kompetitif, sehingga menjadi daya tarik investor untuk memilih Jawa Tengah sebagai tujuan investasi," ucap Saribua.

Menurutnya, mempromosikan potensi investasi di Jawa Tengah kepada para calon investor juga cukup mudah dengan semua indikator tersebut. Berdasarkan pengalamannya dalam mempromosikan potensi investasi dan meyakinkan investor, persoalan lahan dan perizinan menjadi indikator utama. 

Kemudahan itu, tidak lepas dari kolaborasi kuat antara Pemprov Jateng melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi. Karakteristik Jawa Tengah juga sangat menarik bagi investasi sektor manufaktur atau bersifat padat karya.

"Pengalaman saya sendiri (ketika menawarkan potensi investasi), investor yang memilih Jawa Tengah itu tidak hanya 1 atau 2. Yang jelas, Jawa Tengah itu primadona yang dilirik banyak investor," jelasnya.

Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, selama ini Jawa Tengah terus berupaya menjaga kondusivitas wilayah serta menciptakan iklim investasi yang sehat. Kemudahan perizinan dan jaminan keamanan kepada calon investor pun terus didorong. Tentu saja didukung dengan regulasi, peningkatan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM), serta aspek lainnya.

"Menciptakan iklim investasi yang sehat dan kondusif memang menjadi tanggung jawab kita semua. Investasi ini penting untuk perkembangan wilayah, mereduksi angka kemiskinan dan pengangguran," katanya.

Dari berbagai upaya tersebut, realisasi investasi di Jateng terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai gambaran, realisasi investasi Jateng pada 2025 mencapai sekitar Rp110 triliun. Pada tahun ini, tepatnya sepanjang semester I-2026, realisasi investasinya sudah mencapai Rp59,94 triliun, meliputi penanaman modal asing (PMA) Rp25,92 triliun, penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp22,62 triliun, serta usaha mikro dan kecil (UMK) Rp11,40 triliun. Selain itu, serapan tenaga kerja semester I-2026 sudah mencapai sekitar 213 ribu orang.

Capaian itu juga diiringi oleh pertumbuhan ekonomi yang baik, tercatat pada semester I-2026 pertumbuhan ekonomi Jateng mencapai 5,80%. Sementara angka kemiskinan di Jawa Tengah per Maret 2026 turun dari 9,48% menjadi 9,21%. Kemudian, tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Februari 2026 sebesar 4,24% atau turun 0,09% dibandingkan dengan Februari 2025 sebesar 4,33%.

"Dalam membangun wilayah, kita tidak bisa mengandalkan APBD saja, maka investasi menjadi salah satu sumber daya. Untuk itu, kami terus tawarkan potensi investasi di Jawa Tengah kepada banyak calon investor," ucap Gubernur.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu