Foto : Istimewa (Humas Jateng)
Foto : Istimewa (Humas Jateng)
SEMARANG - Menjadi Gubernur Jawa Tengah, tak lantas membuat kehidupan Ganjar Pranowo hidup dalam kemewahan. Suatu ketika, saat berkunjung ke suatu tempat, sepatu yang dia kenakan jebol. Tanpa canggung, sepatu yang jebol itu dia ikat dengan karet.
Tak hanya itu, pernah juga karena mengenakan celana berukuran terlalu besar dan lupa memakai ikat pinggang, Ganjar pun mengganti ikat pinggangnya dengan tali rafia. Sisa ikatan tali yang menyembul di baju membuat ajudan bertanya. "Apa itu Bapak?" Dijawabnya, "Celananya kebesaran, saya lupa memakai ikat pinggang. Ketemunya tali rafia. Yang penting bisa kencang," kata suami Siti Atikoh itu saat bercerita tentang kehidupannya menjadi gubernur di hadapan seratusan mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Senin (27/5/2019) sore.
Dalam acara Talkshow Ngabuburit On TVKU dengan tema "Ramadhan dan Nilai-nilai Kepemimpinan" di Masjid Baitul Ilmi, Kampus Udinus Jalan Imam Bonjol, kisah-kisah lucu itu tertulis bersama cerita lain dalam buku berjudul "Gubernur Jelata" oleh Agus Sunandar alias Agus Becak, seorang pekerja seni lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dan buku itu Ganjar bagikan kepada mahasiswa yang berani bertanya kepadanya, maupun mahasiswa yang berani ngevlog di hadapan orang nomor satu di Jawa Tengah itu.
"Ternyata, gaya kepemimpinan Pak Ganjar itu luwes sebagai orang Jawa yang njawani, apa adanya, tetapi cerdas. Kepemimpinan ini unik dan bisa diterima semua kalangan," kata Wiwik, mahasiswa jurusan akuntansi yang turut serta dalam kegiatan.
Selain Ganjar, talkshow juga menghadirkan Ketua MUI Jateng KH Ahmad Darodji, Rektor Udinus Prof Edi Noersasongko. Acara yang dipandu oleh host Heri Pamungkas itu diawali dengan melempar pertanyaan kepada Ganjar tentang nikmatnya menjadi Gubernur Jateng.
"Nikmatnya, ketika masyarakat memiliki masalah, dan saya bisa menyelesaikannya. Prinsip melayani masyarakat, selain tetap mboten korupsi mboten ngapusi, harus mudah, murah dan cepat. Di internal, harus transparan dan akuntabel," katanya.
Terkait gaya kepemimpinan yang cerdas, Ganjar mengaku karena menguasai data. Sedangkan kelucuan yang ia buat, bertujuan membuat masyarakat tertawa, bisa lebih menyejukkan dan membuat hati lebih senang. Sedangkan kaitan Ramadan dengan kepemimpinan, ada pesan kejujuran menjadi hal yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin.
Sementara, Rektor Prof Edi Noersasongko mengatakan, menjadi gubernur ternyata harus menghadapi masalah yang beragam. Tidak seperti ketika menghadapi mahasiswa.
"Kalau menghadapi mahasiswa, saya memintanya cepat lulus, berwirausaha atau melanjutkan pendidikan. Mahasiswa Udinus di kampus yang berbasis teknologi ini juga bisa terkendali oleh berita hoaks, karena mereka memahami teknologi," katanya.
Pemimpin ideal, menurut Edi, tercermin dalam salat. Syarat menjadi imam sudah ditentukan. Gerakan imam wajib diikuti makmumnya. Ketika imam melakukan kesalahan dalam gerakan salat, ada cara santun yang dilakukan makmum dengan berucap subhanallah. Bukan dengan demo, atau berteriak-teriak sambil membawa massa banyak, bahkan melakukan aksi pembakaran.
Sedangkan Kiai Daroji menuturkan, puasa Ramadan membawa kegembiraan, memperpanjang usia dan ada pesan untuk meningkatkan atau menambah sedekah. Karena, janji Allah, barangsiapa yang bersedekah, Allah akan melipatgandakan rezeki seseorang.
Di akhir acara, Ganjar berpesan kepada para mahasiswa, ketika mendapatkan informasi, harus melakukan cek dan ricek agar mengetahui apakah informasi itu benar atau salah. Dalam istilah, Ganjar menyebut saring sebelum sharing.
Baca juga : Sambil Gowes, Ganjar Cerita Masa Kecilnya ke Roland Lagonda
SEMARANG - Menjadi Gubernur Jawa Tengah, tak lantas membuat kehidupan Ganjar Pranowo hidup dalam kemewahan. Suatu ketika, saat berkunjung ke suatu tempat, sepatu yang dia kenakan jebol. Tanpa canggung, sepatu yang jebol itu dia ikat dengan karet.
Tak hanya itu, pernah juga karena mengenakan celana berukuran terlalu besar dan lupa memakai ikat pinggang, Ganjar pun mengganti ikat pinggangnya dengan tali rafia. Sisa ikatan tali yang menyembul di baju membuat ajudan bertanya. "Apa itu Bapak?" Dijawabnya, "Celananya kebesaran, saya lupa memakai ikat pinggang. Ketemunya tali rafia. Yang penting bisa kencang," kata suami Siti Atikoh itu saat bercerita tentang kehidupannya menjadi gubernur di hadapan seratusan mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Senin (27/5/2019) sore.
Dalam acara Talkshow Ngabuburit On TVKU dengan tema "Ramadhan dan Nilai-nilai Kepemimpinan" di Masjid Baitul Ilmi, Kampus Udinus Jalan Imam Bonjol, kisah-kisah lucu itu tertulis bersama cerita lain dalam buku berjudul "Gubernur Jelata" oleh Agus Sunandar alias Agus Becak, seorang pekerja seni lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dan buku itu Ganjar bagikan kepada mahasiswa yang berani bertanya kepadanya, maupun mahasiswa yang berani ngevlog di hadapan orang nomor satu di Jawa Tengah itu.
"Ternyata, gaya kepemimpinan Pak Ganjar itu luwes sebagai orang Jawa yang njawani, apa adanya, tetapi cerdas. Kepemimpinan ini unik dan bisa diterima semua kalangan," kata Wiwik, mahasiswa jurusan akuntansi yang turut serta dalam kegiatan.
Selain Ganjar, talkshow juga menghadirkan Ketua MUI Jateng KH Ahmad Darodji, Rektor Udinus Prof Edi Noersasongko. Acara yang dipandu oleh host Heri Pamungkas itu diawali dengan melempar pertanyaan kepada Ganjar tentang nikmatnya menjadi Gubernur Jateng.
"Nikmatnya, ketika masyarakat memiliki masalah, dan saya bisa menyelesaikannya. Prinsip melayani masyarakat, selain tetap mboten korupsi mboten ngapusi, harus mudah, murah dan cepat. Di internal, harus transparan dan akuntabel," katanya.
Terkait gaya kepemimpinan yang cerdas, Ganjar mengaku karena menguasai data. Sedangkan kelucuan yang ia buat, bertujuan membuat masyarakat tertawa, bisa lebih menyejukkan dan membuat hati lebih senang. Sedangkan kaitan Ramadan dengan kepemimpinan, ada pesan kejujuran menjadi hal yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin.
Sementara, Rektor Prof Edi Noersasongko mengatakan, menjadi gubernur ternyata harus menghadapi masalah yang beragam. Tidak seperti ketika menghadapi mahasiswa.
"Kalau menghadapi mahasiswa, saya memintanya cepat lulus, berwirausaha atau melanjutkan pendidikan. Mahasiswa Udinus di kampus yang berbasis teknologi ini juga bisa terkendali oleh berita hoaks, karena mereka memahami teknologi," katanya.
Pemimpin ideal, menurut Edi, tercermin dalam salat. Syarat menjadi imam sudah ditentukan. Gerakan imam wajib diikuti makmumnya. Ketika imam melakukan kesalahan dalam gerakan salat, ada cara santun yang dilakukan makmum dengan berucap subhanallah. Bukan dengan demo, atau berteriak-teriak sambil membawa massa banyak, bahkan melakukan aksi pembakaran.
Sedangkan Kiai Daroji menuturkan, puasa Ramadan membawa kegembiraan, memperpanjang usia dan ada pesan untuk meningkatkan atau menambah sedekah. Karena, janji Allah, barangsiapa yang bersedekah, Allah akan melipatgandakan rezeki seseorang.
Di akhir acara, Ganjar berpesan kepada para mahasiswa, ketika mendapatkan informasi, harus melakukan cek dan ricek agar mengetahui apakah informasi itu benar atau salah. Dalam istilah, Ganjar menyebut saring sebelum sharing.
Baca juga : Sambil Gowes, Ganjar Cerita Masa Kecilnya ke Roland Lagonda
Berita Terbaru