Follow Us :              

Ganjar Acungi Jempol Eks Napiter yang Menjadi Duta Perdamaian Masyarakat Sekitar

  04 March 2021  |   08:00:00  |   dibaca : 637 
Kategori :
Bagikan :


Ganjar Acungi Jempol Eks Napiter yang Menjadi Duta Perdamaian Masyarakat Sekitar

04 March 2021 | 08:00:00 | dibaca : 637
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

SEMARANG - Berbekal misi reintegrasi sosial untuk menghapus stigma negatif yang melekat pada dirinya, Machmudi Hariono alias Yusuf mantan narapidana terorisme ini menceritakan kisahnya dihadapan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang berkunjung ke rumahnya di Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat, Kamis (4/3/21).

Dulunya, Yusuf pernah menjadi anak buah Noordin M Top dan dihukum sepuluh tahun dikarenakan menyembunyikan bahan peledak dengan berat hampir mencapai satu ton. Hal itu, membuatnya dihantui rasa bersalah dan memutuskan membersihkan nama baiknya untuk memulihkan rasa was-was di tengah masyarakat

"Secara kejadian, saya dulu ditangkap di daerah sekitar sini. Saat itu masyarakat juga gempar, sehingga hari ini saya kembali ke sini dan menjadi warga sini sekaligus bertanggung jawab memulihkan rasa was-was di tengah masyarakat. Ini sebagai tanggung jawab moral saya pribadi," kata Yusuf.

Yusuf mengatakan, proses reintegrasi sosial yang dilakukan saat ini yakni menjadi peternak lele. Dengan cara itu lah, Yusuf dan beberapa rekan mantan napiter di Semarang bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat.

"Saya juga selalu mengingatkan agar masyarakat tidak terpengaruh pada ajakan-ajakan yang bersifat radikalisme dan terorisme. Apalagi, ajaran itu sekarang banyak di media sosial. Harus ada langkah preventif agar terhindar dari paham-paham radikal itu," sambung Yusuf.

Bahkan, tak jarang masyarakat bertanya tentang pengalamannya menjadi bagian dari gerakan terorisme dan upaya untuk mencegahnya. Melalui obrolan santai, ia menjelaskan dengan narasi yang mudah diterima masyarakat.

"Kalau bertemu (masyarakat) di warung, sambil lesehan ada yang tanya soal itu, saya jelaskan pelan-pelan. Intinya jangan sampai masyarakat terbawa pada image dan praduga mereka, saya berikan titik terang untuk memahami. Ternak lele ini, salah satu cara saya memudahkan berkomunikasi dengan warga," ucap Yusuf.

Lebih lanjut, Yusuf juga meminta masyarakat untuk berhati-hati dengan masifnya penyebaran paham radikal dan terorisme. Sebab, pengaruh paham itu sekarang sangat mudah disebarkan melalui medsos.

"Harus lebih waspada, siapa pun dan dimanapun bisa terkena paham ini. Jadi harus memproteksi diri dengan memperbanyak narasi. Saya sendiri akan berusaha menjelaskan hal-hal itu, sehingga pencegahan bisa kita lakukan," tutupnya.

Mendengar runtutan cerita Yusuf, Ganjar langsung mengancungi jempol untuk mengapresiasi langkah Yusuf dan mantan narapidana teroris di Provinsi Jawa Tengah dalam melakukan reintegrasi sosial.

"Ini keren ya, apalagi caranya bagus, ada kreativitas yang dibangun. Di Genuk ada ternak lele, di sini juga sama, di Solo ada warung soto yang juga di kelola mantan narapida teroris. Dengan cara-cara itu, maka penerimaan masyarakat akan jadi baik," tutur Ganjar.

Menurut Ganjar, mereka bisa menjadi rujukan sekaligus duta perdamaian untuk masyarakat di tempatnya masing-masing.

"Sambil guyon mereka bisa menjelaskan, saat ada masyarakat tanya tentang kejadian terorisme yang masih terjadi. Sekarang kalau ada cerita-cerita itu, kawan-kawan ini jadi narasumber. Ini cara bagus, sehingga penerimaan masyarakat juga bagus. Apalagi mereka juga caranya menarik, elegan sekaligus produktif karena mengembangkan bisnis untuk mereka dan warga sekitar," pungkas Ganjar.


Bagikan :

SEMARANG - Berbekal misi reintegrasi sosial untuk menghapus stigma negatif yang melekat pada dirinya, Machmudi Hariono alias Yusuf mantan narapidana terorisme ini menceritakan kisahnya dihadapan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang berkunjung ke rumahnya di Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat, Kamis (4/3/21).

Dulunya, Yusuf pernah menjadi anak buah Noordin M Top dan dihukum sepuluh tahun dikarenakan menyembunyikan bahan peledak dengan berat hampir mencapai satu ton. Hal itu, membuatnya dihantui rasa bersalah dan memutuskan membersihkan nama baiknya untuk memulihkan rasa was-was di tengah masyarakat

"Secara kejadian, saya dulu ditangkap di daerah sekitar sini. Saat itu masyarakat juga gempar, sehingga hari ini saya kembali ke sini dan menjadi warga sini sekaligus bertanggung jawab memulihkan rasa was-was di tengah masyarakat. Ini sebagai tanggung jawab moral saya pribadi," kata Yusuf.

Yusuf mengatakan, proses reintegrasi sosial yang dilakukan saat ini yakni menjadi peternak lele. Dengan cara itu lah, Yusuf dan beberapa rekan mantan napiter di Semarang bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat.

"Saya juga selalu mengingatkan agar masyarakat tidak terpengaruh pada ajakan-ajakan yang bersifat radikalisme dan terorisme. Apalagi, ajaran itu sekarang banyak di media sosial. Harus ada langkah preventif agar terhindar dari paham-paham radikal itu," sambung Yusuf.

Bahkan, tak jarang masyarakat bertanya tentang pengalamannya menjadi bagian dari gerakan terorisme dan upaya untuk mencegahnya. Melalui obrolan santai, ia menjelaskan dengan narasi yang mudah diterima masyarakat.

"Kalau bertemu (masyarakat) di warung, sambil lesehan ada yang tanya soal itu, saya jelaskan pelan-pelan. Intinya jangan sampai masyarakat terbawa pada image dan praduga mereka, saya berikan titik terang untuk memahami. Ternak lele ini, salah satu cara saya memudahkan berkomunikasi dengan warga," ucap Yusuf.

Lebih lanjut, Yusuf juga meminta masyarakat untuk berhati-hati dengan masifnya penyebaran paham radikal dan terorisme. Sebab, pengaruh paham itu sekarang sangat mudah disebarkan melalui medsos.

"Harus lebih waspada, siapa pun dan dimanapun bisa terkena paham ini. Jadi harus memproteksi diri dengan memperbanyak narasi. Saya sendiri akan berusaha menjelaskan hal-hal itu, sehingga pencegahan bisa kita lakukan," tutupnya.

Mendengar runtutan cerita Yusuf, Ganjar langsung mengancungi jempol untuk mengapresiasi langkah Yusuf dan mantan narapidana teroris di Provinsi Jawa Tengah dalam melakukan reintegrasi sosial.

"Ini keren ya, apalagi caranya bagus, ada kreativitas yang dibangun. Di Genuk ada ternak lele, di sini juga sama, di Solo ada warung soto yang juga di kelola mantan narapida teroris. Dengan cara-cara itu, maka penerimaan masyarakat akan jadi baik," tutur Ganjar.

Menurut Ganjar, mereka bisa menjadi rujukan sekaligus duta perdamaian untuk masyarakat di tempatnya masing-masing.

"Sambil guyon mereka bisa menjelaskan, saat ada masyarakat tanya tentang kejadian terorisme yang masih terjadi. Sekarang kalau ada cerita-cerita itu, kawan-kawan ini jadi narasumber. Ini cara bagus, sehingga penerimaan masyarakat juga bagus. Apalagi mereka juga caranya menarik, elegan sekaligus produktif karena mengembangkan bisnis untuk mereka dan warga sekitar," pungkas Ganjar.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu