Follow Us :              

Dompet Limbah Tahu Karya Siswa SMA ini Dapat Apresiasi dari Sekda Jateng

  04 April 2019  |   09:30:00  |   dibaca : 1897 
Kategori :
Bagikan :


Dompet Limbah Tahu Karya Siswa SMA ini Dapat Apresiasi dari Sekda Jateng

04 April 2019 | 09:30:00 | dibaca : 1897
Kategori :
Bagikan :

Foto : Ebron (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Ebron (Humas Jateng)

KLATEN - Tahu menjadi salah satu makanan yang digemari masyarakat kalangan bawah hingga kalangan atas. Data Susenas menunjukkan rata-rata konsumsi tahu di Indonesia sebesar 7,26kg/kapita/tahun. Sebagai makanan bergizi yang harganya murah, keberadaan pabrik tahu pun ada di mana-mana. Dan, pada umumnya pabrik tahu tergolong ke dalam pabrik skala kecil yang dikelola oleh rakyat.

Hanya saja, masih banyak pabrik tahu yang membuang air limbahnya secara sembarangan. Seperti ke selokan atau sungai-sungai di sekitar pabrik, sehingga mencemari air, menimbulkan bau tak sedap hingga berimbas pada kesehatan masyarakat sekitar.

Pada proses produksi, air banyak digunakan sebagai bahan pencuci dan merebus kedelai. Akibat dari besarnya pemakaian air pada proses pembuatan tahu, limbah yang dihasilkan pun juga besar.

Pada saat ini, sebagian besar industri tahu masih merupakan pabrik kecil yang belum dilengkapi dengan instalasi pengolah air limbah sesuai. Besarnya konsumsi tahu mendorong menjamurnya industri tahu yang sayangnya tidak diimbangi dengan lengkapnya sistem pengolahan limbah tahu. Alhasil, banyak limbah yang terbuang.

Terdapat dua jenis limbah produksi tahu, yakni limbah cair dan limbah padat yang sering digunakan sebagai pakan ternak. Umumnya produsen tahu masih membuang limbah cairnya ke sungai karena belum memiliki teknologi pengolah limbah.

Padahal limbah cair tahu tersebut, sangat berbahaya jika dibuang langsung ke air karena tingginya kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) serta potential of Hydrogen (pH) atau tingkat kebasaan air sehingga menimbulkan bau, mengurangi kadar oksigen dalam air dan meningkatkan kekeruhan air.

Kondisi itulah yang melatarbelakangi siswa kelas X SMA Negeri 3 Semarang mengubah limbah cair tahu menjadi dompet cantik yang dipadu dengan anyaman eceng gondok. Harganya pun terbilang ramah dengan kantong. Untuk dompet ukuran kecil, dibanderol Rp95 ribu dan Rp110 ribu untuk ukuran besar.

Azarin Kayla, siswa kelas X SMA Negeri 3 Semarang menjelaskan, pembuatan dompet dimulai dengan mengolah limbah cair tahu diberi bakteri. Limbah pun berubah menjadi nata. Selanjutnya, nata kemudian dikeringkan. Nata kering yang berbentuk lembaran inilah yang selanjutnya siap diolah menjadi kerajinan seperti tas, dompet, tempat pensil dan sebagainya.

Agar rata, lembaran kering pun disetrika terlebih dahulu. Sedangkan agar tidak bau, lembaran nata direndam dengan kopi selama 10 jam. "Produk ini selain memberi sumbangsih pada penyelamatan ekosistem sungai dari pencemaran limbah tahu, juga bisa mengangkat nilai budaya lokal dan tentunya ramah lingkungan," ujarnya. 

Dompet itu pun dipamerkan di stan yang ada dalam Peringatan Hari Air Dunia XXVII Provinsi Jawa Tengah dengan tema "Semua Harus Mendapatkan Akses Air" di tepi Rawa Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Kamis (4/3/2019) siang.

Sekda Jateng Sri Puryono yang menghadiri peringatan itu, terkesan dan membeli dompet berukuran besar lima buah, diikuti Kepala BPBD Jateng Sudarwanto dan Bupati Klaten Sri Mulyani yang juga membeli dompet berukuran besar masing-masing satu buah. "Ini kreativitas dan inovasi yang harus diapresiasi. Salut untuk siswa SMA 3. Saya membeli lima," kata Sekda sambil memberikan uang Rp550 ribu kepada salah satu siswa.

 

Baca juga : Sepatu Dari Limbah Plastik, Ganjar: Ini Harus Ditiru Semua Daerah


Bagikan :

KLATEN - Tahu menjadi salah satu makanan yang digemari masyarakat kalangan bawah hingga kalangan atas. Data Susenas menunjukkan rata-rata konsumsi tahu di Indonesia sebesar 7,26kg/kapita/tahun. Sebagai makanan bergizi yang harganya murah, keberadaan pabrik tahu pun ada di mana-mana. Dan, pada umumnya pabrik tahu tergolong ke dalam pabrik skala kecil yang dikelola oleh rakyat.

Hanya saja, masih banyak pabrik tahu yang membuang air limbahnya secara sembarangan. Seperti ke selokan atau sungai-sungai di sekitar pabrik, sehingga mencemari air, menimbulkan bau tak sedap hingga berimbas pada kesehatan masyarakat sekitar.

Pada proses produksi, air banyak digunakan sebagai bahan pencuci dan merebus kedelai. Akibat dari besarnya pemakaian air pada proses pembuatan tahu, limbah yang dihasilkan pun juga besar.

Pada saat ini, sebagian besar industri tahu masih merupakan pabrik kecil yang belum dilengkapi dengan instalasi pengolah air limbah sesuai. Besarnya konsumsi tahu mendorong menjamurnya industri tahu yang sayangnya tidak diimbangi dengan lengkapnya sistem pengolahan limbah tahu. Alhasil, banyak limbah yang terbuang.

Terdapat dua jenis limbah produksi tahu, yakni limbah cair dan limbah padat yang sering digunakan sebagai pakan ternak. Umumnya produsen tahu masih membuang limbah cairnya ke sungai karena belum memiliki teknologi pengolah limbah.

Padahal limbah cair tahu tersebut, sangat berbahaya jika dibuang langsung ke air karena tingginya kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) serta potential of Hydrogen (pH) atau tingkat kebasaan air sehingga menimbulkan bau, mengurangi kadar oksigen dalam air dan meningkatkan kekeruhan air.

Kondisi itulah yang melatarbelakangi siswa kelas X SMA Negeri 3 Semarang mengubah limbah cair tahu menjadi dompet cantik yang dipadu dengan anyaman eceng gondok. Harganya pun terbilang ramah dengan kantong. Untuk dompet ukuran kecil, dibanderol Rp95 ribu dan Rp110 ribu untuk ukuran besar.

Azarin Kayla, siswa kelas X SMA Negeri 3 Semarang menjelaskan, pembuatan dompet dimulai dengan mengolah limbah cair tahu diberi bakteri. Limbah pun berubah menjadi nata. Selanjutnya, nata kemudian dikeringkan. Nata kering yang berbentuk lembaran inilah yang selanjutnya siap diolah menjadi kerajinan seperti tas, dompet, tempat pensil dan sebagainya.

Agar rata, lembaran kering pun disetrika terlebih dahulu. Sedangkan agar tidak bau, lembaran nata direndam dengan kopi selama 10 jam. "Produk ini selain memberi sumbangsih pada penyelamatan ekosistem sungai dari pencemaran limbah tahu, juga bisa mengangkat nilai budaya lokal dan tentunya ramah lingkungan," ujarnya. 

Dompet itu pun dipamerkan di stan yang ada dalam Peringatan Hari Air Dunia XXVII Provinsi Jawa Tengah dengan tema "Semua Harus Mendapatkan Akses Air" di tepi Rawa Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Kamis (4/3/2019) siang.

Sekda Jateng Sri Puryono yang menghadiri peringatan itu, terkesan dan membeli dompet berukuran besar lima buah, diikuti Kepala BPBD Jateng Sudarwanto dan Bupati Klaten Sri Mulyani yang juga membeli dompet berukuran besar masing-masing satu buah. "Ini kreativitas dan inovasi yang harus diapresiasi. Salut untuk siswa SMA 3. Saya membeli lima," kata Sekda sambil memberikan uang Rp550 ribu kepada salah satu siswa.

 

Baca juga : Sepatu Dari Limbah Plastik, Ganjar: Ini Harus Ditiru Semua Daerah


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu