Follow Us :              

Permintaan Ekspor Daun Talas Tinggi, Gubernur Minta Pemerintah Kabupaten Berikan Pendampingan

  09 November 2022  |   11:00:00  |   dibaca : 246 
Kategori :
Bagikan :


Permintaan Ekspor Daun Talas Tinggi, Gubernur Minta Pemerintah Kabupaten Berikan Pendampingan

09 November 2022 | 11:00:00 | dibaca : 246
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

KAB. SEMARANG - Tanaman Talas yang kerap dipandang sebelah mata dan dibiarkan tumbuh liar di kebun atau pekarangan, di tangan orang kreatif bisa diolah jadi produk bernilai tinggi. Seperti dilakukan Agus Bekti yang mengolah Talas Beneng menjadi pengganti tembakau. 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi keuletan warga di Dusun Kalangan, RT 0 RW 05, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kab. Semarang. Apalagi, Bekti telah berhasil mengekspor olahan Talas Beneng itu ke Australia. Bekti adalah contoh pengusaha industri kreatif di level desa yang patut untuk terus didukung pemerintah.

“Kalau kita lihat daerah kita sendiri, kita gali potensinya luar biasa. Ternyata talas ini bisa menjadi substitusi tembakau, bisa juga dicampur,” kata Gubernur usai melihat pabrik pengolahan Talas Beneng jadi tembakau di KUB Berkah Karya. 

Bekti baru memulai produksinya itu sejak tahun 2020. Namun ekspornya ke Australia sudah empat kali. Hal ini membuat Bekti makin percaya diri untuk mempersiapkan untuk memperluas pemasaran. “Kita lagi menjajaki Dubai dan Kanada. Potensinya bagus,” ujarnya. 

Selain diolah jadi pengganti tembakau, Bekti juga berhasil membuat tanaman Talas Beneng itu jadi campuran teh dan shisha. Gubernur mengatakan, ini membuktikan sumber daya alam Indonesia sangat kaya. Jika dikelola oleh orang yang kreatif seperti Bekti, sumber daya ini menjadi bernilai ekonomi tinggi. 

“Itu butuh disentuh oleh orang-orang kreatif dan difasilitasi oleh pemerintah seperti Pemkab Semarang yang sudah mendampingi,” tuturnya. 

Sebagai komoditas yang diminati pasar ekspor, Gubernur menilai pengembangan budidaya Talas Beneng perlu lebih ditingkatkan. Pemerintah daerah perlu memberi perhatian dan pendampingan bukan saja pada pengembangannya, tetapi juga pada riset. Lewat riset yang baik, diharapkan nantinya seluruh bagian dari tanaman talas bisa memaksimalkan pemanfaatannya. 

Salah satu nilai ekspor daun talas ke Australia yang pernah Bekti lakukan pada akhir tahun 2021 lalu adalah 3,3 ton. Saat itu dengan harga per kilogram daun Talas Beneng adalah 2 dollar AS. Saat jumlah peminat makin tinggi, maka produksi harus ditingkatkan, pada titik ini umumnya pengusaha membutuhkan suntikan modal. Pada saat seperti ini pemerintah juga perlu membantu dalam mengakses permodalan.

“Kalau kita melihat potensi ini dugaan saya akan jauh lebih banyak (ekspor daun talas). Maka mandiri dari desa dengan kekuatan yang ada di sini bisa mendunia. Ini contohnya,” pungkasnya.


Bagikan :

KAB. SEMARANG - Tanaman Talas yang kerap dipandang sebelah mata dan dibiarkan tumbuh liar di kebun atau pekarangan, di tangan orang kreatif bisa diolah jadi produk bernilai tinggi. Seperti dilakukan Agus Bekti yang mengolah Talas Beneng menjadi pengganti tembakau. 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi keuletan warga di Dusun Kalangan, RT 0 RW 05, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kab. Semarang. Apalagi, Bekti telah berhasil mengekspor olahan Talas Beneng itu ke Australia. Bekti adalah contoh pengusaha industri kreatif di level desa yang patut untuk terus didukung pemerintah.

“Kalau kita lihat daerah kita sendiri, kita gali potensinya luar biasa. Ternyata talas ini bisa menjadi substitusi tembakau, bisa juga dicampur,” kata Gubernur usai melihat pabrik pengolahan Talas Beneng jadi tembakau di KUB Berkah Karya. 

Bekti baru memulai produksinya itu sejak tahun 2020. Namun ekspornya ke Australia sudah empat kali. Hal ini membuat Bekti makin percaya diri untuk mempersiapkan untuk memperluas pemasaran. “Kita lagi menjajaki Dubai dan Kanada. Potensinya bagus,” ujarnya. 

Selain diolah jadi pengganti tembakau, Bekti juga berhasil membuat tanaman Talas Beneng itu jadi campuran teh dan shisha. Gubernur mengatakan, ini membuktikan sumber daya alam Indonesia sangat kaya. Jika dikelola oleh orang yang kreatif seperti Bekti, sumber daya ini menjadi bernilai ekonomi tinggi. 

“Itu butuh disentuh oleh orang-orang kreatif dan difasilitasi oleh pemerintah seperti Pemkab Semarang yang sudah mendampingi,” tuturnya. 

Sebagai komoditas yang diminati pasar ekspor, Gubernur menilai pengembangan budidaya Talas Beneng perlu lebih ditingkatkan. Pemerintah daerah perlu memberi perhatian dan pendampingan bukan saja pada pengembangannya, tetapi juga pada riset. Lewat riset yang baik, diharapkan nantinya seluruh bagian dari tanaman talas bisa memaksimalkan pemanfaatannya. 

Salah satu nilai ekspor daun talas ke Australia yang pernah Bekti lakukan pada akhir tahun 2021 lalu adalah 3,3 ton. Saat itu dengan harga per kilogram daun Talas Beneng adalah 2 dollar AS. Saat jumlah peminat makin tinggi, maka produksi harus ditingkatkan, pada titik ini umumnya pengusaha membutuhkan suntikan modal. Pada saat seperti ini pemerintah juga perlu membantu dalam mengakses permodalan.

“Kalau kita melihat potensi ini dugaan saya akan jauh lebih banyak (ekspor daun talas). Maka mandiri dari desa dengan kekuatan yang ada di sini bisa mendunia. Ini contohnya,” pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu